
El Nino sangat kuat kini terjadi di Samudra Pasifik tropis, risiko cuaca kering meningkat

Ilustrasi. (Oleksandr Sushko on Unsplash)
El Nino Osilasi Selatan (El Nino Southern Oscillation/ENSO) di Samudra Pasifik tropis kini telah memasuki fase El Nino. Fenomena ini dipicu oleh meningkatnya suhu permukaan laut di sekitar garis khatulistiwa dan berpotensi memengaruhi pola cuaca global secara signifikan.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Biro Meteorologi (Bureau of Meteorology/BoM) Australia menyatakan bahwa fenomena cuaca El Nino yang kuat kini sedang berlangsung di Samudra Pasifik tropis.
BoM mengatakan dalam sebuah pembaruan yang dirilis pada Selasa (16/6) malam waktu setempat bahwa El Nino Osilasi Selatan (El Nino Southern Oscillation/ENSO) di Samudra Pasifik tropis kini telah memasuki fase El Nino. Fenomena ini dipicu oleh meningkatnya suhu permukaan laut di sekitar garis khatulistiwa dan berpotensi memengaruhi pola cuaca global secara signifikan.
"Sebagian besar model menunjukkan bahwa fenomena ini kemungkinan akan bersifat kuat hingga sangat kuat," kata BoM dalam sebuah pernyataan.
BoM menjelaskan bahwa fenomena El Nino biasanya dikaitkan dengan berkurangnya curah hujan pada musim dingin dan musim semi di Australia, terutama di bagian timur negara tersebut, serta meningkatnya suhu siang hari di wilayah selatan.
Fenomena El Nino sebelumnya yang dimulai pada 2023 dan berakhir pada 2024 mencakup periode tiga bulan terkering yang pernah tercatat di Australia, yakni dari Agustus hingga Oktober 2023.
BoM menyatakan bahwa prakiraan menunjukkan kondisi El Nino saat ini kemungkinan akan bertahan hingga paruh kedua 2026, namun dampaknya akan sulit diprediksi akibat pemanasan global.
"Kekuatan fenomena El Nino ini tidak selalu sejalan dengan besarnya dampaknya di Australia. Fenomena yang lebih lemah bisa saja menimbulkan dampak besar, sementara yang lebih kuat belum tentu demikian," ungkap BoM.
"Kendati demikian, dalam iklim yang semakin menghangat, pola-pola masa lalu menjadi kurang dapat diandalkan sebagai prediktor dampak di masa depan."
BoM juga menyebutkan bahwa peluang terjadinya kondisi yang lebih kering di Australia akan meningkat jika Dipol Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole) positif berkembang sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah model.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Lebih dari 900 juta perangkat beroperasi dengan HarmonyOS milik Huawei
Indonesia
•
25 Jun 2024

Penyelidikan arkeologis laut dalam China berfokus pada bangkai kapal kuno Dinasti Ming
Indonesia
•
13 Jun 2023

Penggunaan B30 turunkan emisi GRK 14,34 juta ton karbon dioksida
Indonesia
•
17 Jan 2020

Cahaya langsung jadi token: Terobosan cip ini bikin AI lebih cepat dan hemat energi
Indonesia
•
23 Aug 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
