
Ekspedisi Kawah Purba Pangrango ungkap kekayaan hayati dan geologi di ketinggian lebih 2.000 meter

Taman Nasional (TN) Gunung Gede Pangrango. (https://ksdae.kehutanan.go.id/)
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Di balik lebatnya hutan Taman Nasional (TN) Gunung Gede Pangrango, ada kawasan yang menyimpan banyak misteri alam. Namanya Kawah Purba Pangrango. Letaknya di sisi barat daya Puncak Pangrango, pada ketinggian sekitar 1.800–2.200 meter di atas permukaan laut.
TN Gunung Gede Pangrango memiliki luas 24.270,80 hektare. Secara administratif, kawasan ini mencakup tiga kabupaten di Provinsi Jawa Barat, yakni Bogor, Cianjur, dan Sukabumi.
Kawasan ini bukan kawah di puncak seperti Kawah Gunung Gede, melainkan bagian dari bentang vulkanik tua yang membentuk lanskap Pangrango.
Pada 10–17 Oktober 2026, sekitar 40 personel peneliti dan tim ekspedisi menjelajahi kawasan tersebut. Mereka datang dengan beragam keahlian—mulai dari botani, burung, amfibi dan reptil, serangga, mamalia, jamur, hingga geologi dan vulkanologi. Misi mereka bukan sekadar menembus rimba, melainkan mengumpulkan data tentang wilayah yang selama ini masih minim catatan ilmiah.
“Bagaimana bisa mengelola dan mengembangkan kawasan konservasi jika kita tidak tahu isinya?” ujar Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Sadtata Noor Adirahmanta, dalam siaran pers yang diterbitkan di Cibodas pada 9 Oktober 2026.
Hal ini menjadi alasan di balik Ekspedisi Kawah Purba Pangrango 2026.
Kawasan ekspedisi meliputi sekitar delapan kilometer persegi—hanya kurang lebih 3,3 persen dari luas taman nasional, namun memiliki topografi terjal, akses yang sulit, serta relatif minim aktivitas manusia.
Keadaan tersebut membua area ini berpotensi menyimpan informasi penting tentang keanekaragaman hayati dan sejarah geologi yang belum sepenuhnya terdokumentasikan.
Kajian geomorfologi yang dikutip dalam siaran pers menjelaskan bahwa bentang alam itu berkaitan dengan sisa tubuh gunung api tua dan kawah purba.
Gunung Mandalawangi disebut sebagai gunung api tua yang letusannya menghancurkan sebagian tubuh gunung dan meninggalkan kawah purba. Pada salah satu bagian sistem tersebut kemudian tumbuh gunung yang dikenal sebagai Gunung Pangrango.
Untuk membaca isi kawasan, tim membawa perangkat seperti kamera jebak, perekam bioakustik, GPS, kompas, perangkap serangga, pitfall trap, dan mist net. Peralatan itu mendukung survei lintas taksa—mulai dari mendokumentasikan satwa hingga mengumpulkan spesimen—agar ekspedisi menghasilkan catatan ilmiah yang lebih luas daripada sekadar pengamatan perjalanan.
Salah satu fokusnya adalah burung. Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ Cikananga Wildlife Center, mengatakan tim akan menggunakan sejumlah metode, termasuk merekam suara burung. “Kita belum tahu, belum ada data,” katanya, seraya menyebut keragaman burung di kawasan tersebut mungkin cukup tinggi.
Hasil yang diharapkan beragam: temuan spesies baru, catatan baru bagi ilmu pengetahuan, kemungkinan menemukan kembali spesies yang lama tak tercatat, atau setidaknya gambaran awal tentang apa saja yang hidup di Kawah Purba Pangrango.
Namun, bagi pengelola kawasan, pendataan itu sendiri sudah menjadi langkah penting. Data yang terkumpul dapat memperkaya pemahaman tentang ekologi dan geologi sekaligus menjadi dasar perlindungan dan pengelolaan kawasan.
Sadtata berharap ekspedisi semacam ini dapat berkembang menjadi program nasional.
Masih banyak kawasan konservasi yang menjadi “blank spot” data, katanya. Tema ekspedisi tahun ini, “Mengenali untuk Lebih Mencintai”, merangkum gagasan tersebut: mengenal kawasan melalui ilmu pengetahuan agar perlindungan dan pengelolaannya bertumpu pada pemahaman yang lebih kuat.
Laporan, dokumentasi, publikasi ilmiah, buku untuk pembaca umum, serta dokumentasi audiovisual direncanakan sebagai bagian dari tindak lanjut ekspedisi. Upaya itu juga diharapkan mempererat kerja sama antara pengelola kawasan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), akademisi, praktisi, masyarakat, dan mitra konservasi.
Di Kawah Purba Pangrango, setiap catatan baru bisa membantu mengisi ruang kosong dalam pengetahuan.
Menembus rimbanya berarti membuka kesempatan untuk memahami lebih baik lanskap tua, kehidupan yang bernaung di dalamnya, dan cara menjaganya pada masa mendatang.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Penelitian Australia ungkap pengurutan genom dapat selamatkan lebih banyak nyawa bayi baru lahir
Indonesia
•
11 Oct 2025

Mobil energi baru China kian populer di Yordania di tengah transisi hijau
Indonesia
•
19 Aug 2022

Fokus Berita – Taiwan mantapkan posisi sebagai pemain semikonduktor dunia
Indonesia
•
10 Aug 2024

China capai terobosan dalam produksi listrik tenaga panas laut
Indonesia
•
14 Sep 2023


Berita Terbaru

Lumut gurun ini hidup kembali di antariksa, ilmuwan ungkap ketangguhannya
Indonesia
•
11 Oct 2026

Feature – 230 juta pengguna internet Indonesia, siapkah menghadapi banjir konten AI dan hoaks?
Indonesia
•
09 Oct 2026

Feature – Nobel Kimia 2026 pecahkan misteri ‘tangan’ molekul yang membingungkan ilmuwan lebih dari seabad
Indonesia
•
08 Oct 2026

Tak punya tekanan darah tinggi atau kolesterol, tapi kena serangan jantung? Ilmuwan buru penanda baru risikonya
Indonesia
•
07 Oct 2026
