
Pemerintah Korsel catat tekanan penurunan imbas tarif AS

Sejumlah pekerja merapikan tanaman dalam acara pratinjau media International Horticulture Goyang Korea, sebuah pameran bunga internasional, di Goyang, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan, pada 24 April 2025. (Xinhua/Jun Hyosang)
Ekonomi Korea Selatan menghadapi perlambatan dalam pemulihan konsumsi dan investasi konstruksi, serta isu minimnya ketersediaan lapangan kerja yang terus berlanjut, terutama bagi kelompok-kelompok rentan.
Seoul, Korea Selatan (Xinhua/Indonesia Window) – Pemerintah Korea Selatan (Korsel) pada Jumat (18/7) terus mencatat tekanan penurunan pada ekonomi negara Asia itu yang disebabkan oleh pengenaan tarif Amerika Serikat (AS) dan terhambatnya pemulihan permintaan domestik.Dalam laporan bulanannya, yang disebut Green Book, Kementerian Ekonomi dan Keuangan Korsel mengatakan ekonomi negara itu telah berada dalam tekanan penurunan, seperti melambatnya ekspor, karena memburuknya kondisi eksternal yang disebabkan oleh penerapan tarif AS.Kementerian tersebut mengungkapkan bahwa ekonomi negara sedang menghadapi perlambatan dalam pemulihan konsumsi dan investasi konstruksi, serta isu minimnya ketersediaan lapangan kerja yang terus berlanjut, terutama bagi kelompok-kelompok rentan.Namun, pihak kementerian mengatakan tanda-tanda positif mulai muncul, seperti sentimen konsumen yang membaik. Meski demikian, kekhawatiran masih membayangi ekonomi global mengingat pemberlakuan tarif AS telah menyebabkan dampak buruk pada lingkungan perdagangan serta menyebabkan volatilitas terus membayangi pasar keuangan global.Sentimen di kalangan konsumen terhadap situasi ekonomi menunjukkan peningkatan dalam tiga bulan berturut-turut pada Juni, terkait dengan ekspektasi terhadap pelantikan pemerintahan Lee Jae-myung pada 4 Juni dan rencana anggaran tambahannya untuk menggenjot permintaan konsumen.Ekspor naik 4,3 persen pada Juni dari setahun sebelumnya, berkat permintaan semikonduktor yang lebih tinggi, tetapi pengiriman ke AS mempertahankan tren penurunan selama tiga bulan berturut-turut.Penjualan retail, yang mencerminkan konsumsi swasta, turun 0,2 persen pada Mei dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu, dan investasi konstruksi anjlok 20,8 persen pada periode tersebut.Jumlah lapangan kerja naik 183.000 pada Juni dari tahun sebelumnya, dan tingkat pengangguran turun 0,1 poin persentase menjadi 2,8 persen.Harga-harga konsumen naik 2,2 persen pada Juni secara tahunan, lebih cepat dari kenaikan 1,9 persen pada Mei.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pemerintah jaga defisit APBN 2023 di bawah 3 persen
Indonesia
•
02 Dec 2022

Analisis - Jadi bumerang, kebijakan tarif Trump rugikan perekonomian AS sendiri
Indonesia
•
01 Jul 2025

Perjalanan kereta barang China-Eropa tembus 50.000 kali
Indonesia
•
30 Jan 2022

Laporan sebut proyek konektivitas di bawah BRI catat kemajuan stabil dalam setahun terakhir
Indonesia
•
15 Oct 2024


Berita Terbaru

Pertumbuhan ekonomi global akan melambat ke 2,8 persen pada 2026 di tengah konflik Timur Tengah
Indonesia
•
03 Jun 2026

Indonesia kantongi potensi transaksi Rp109 miliar dari promosi pariwisata terbaru di China
Indonesia
•
03 Jun 2026

Konflik Iran bikin warga Eropa Cemas, inflasi tetap tinggi, rumah tangga tertekan
Indonesia
•
02 Jun 2026

Hati-hati! Madu, kopi, hingga daging bisa dipalsukan, BRIN punya teknologi untuk deteksi
Indonesia
•
01 Jun 2026
