
Disney PHK ratusan karyawan lagi, Pixar paling terdampak

Seorang pria berjalan melewati toko Disney yang ditutup dengan papan di Times Square, New York, Amerika Serikat, pada 20 Januari 2021. (Xinhua/Wang Ying)
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – The Walt Disney Company pada Selasa (21/7) memberhentikan ratusan karyawan dalam gelombang terbaru pemutusan hubungan kerja (PHK), seiring raksasa hiburan tersebut terus merampingkan kegiatan operasionalnya melalui pengurangan proyek, pengetatan anggaran, dan struktur perusahaan yang lebih terintegrasi.
Juru bicara Disney mengonfirmasi PHK tersebut dengan mengatakan bahwa perusahaan memangkas ratusan posisi di berbagai fungsi korporasi, Disney Entertainment Television, ESPN, serta studio-studio Disney.
Menurut laporan dari sejumlah media, karyawan yang terdampak mulai menerima pemberitahuan PHK pada Selasa pagi waktu setempat.
Disney belum mengungkapkan jumlah pasti PHK di setiap divisi maupun mengatakan apakah akan ada PHK tambahan. Perusahaan itu mengakhiri tahun fiskal 2025 dengan sekitar 231.000 karyawan di seluruh dunia, termasuk sekitar 172.000 orang di Amerika Serikat.
Pixar, studio yang berbasis di Emeryville, California, dan dikenal lewat film-film laris seperti ‘Toy Story’, menjadi studio yang paling banyak terdampak PHK, dengan kurang dari 10 persen dari sekitar 1.100 karyawan Pixar diberhentikan, demikian dilaporkan Los Angeles Times mengutip seorang sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Pengurangan jumlah karyawan tersebut dilakukan bahkan ketika Pixar sedang mengalami peningkatan pendapatan box office tahun ini. ‘Toy Story 5’, yang dirilis bulan lalu, telah meraup lebih dari 957 juta dolar AS di seluruh dunia.
*1 dolar AS = 17.909 rupiah
Gelombang PHK tersebut mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam strategi studio Disney. Selama tiga tahun terakhir, Walt Disney Studios telah mengurangi volume produksi, menekankan kualitas, serta memprioritaskan perilisan di bioskop yang dapat mendukung layanan streaming, produk konsumen, taman hiburan, dan bisnis-bisnis lainnya yang dijalankan perusahaan itu.
Sejumlah film Pixar, termasuk ‘Soul’, ‘Luca’, dan ‘Turning Red’, dirilis langsung melalui Disney+, layanan streaming video berlangganan berdasarkan permintaan (subscription video-on-demand) selama pandemi.
Para eksekutif perusahaan kemudian mengakui bahwa langkah tersebut kemungkinan mendorong sebagian keluarga menunggu film-film Pixar tersedia untuk ditonton di rumah.
National Geographic menjadi merek yang paling terdampak dalam unit Disney Entertainment Television.
Deadline, sebuah situs berita daring, melaporkan bahwa hingga 100 posisi dihapus di seluruh grup televisi tersebut, dengan sebagian besar pengurangan terjadi pada jaringan televisi kabel, tim editorial, dan tim operasional National Geographic. Belasan karyawan ABC News juga terdampak PHK, bersama sejumlah pengurangan posisi secara terbatas di Disney Entertainment Television.
Di ESPN, PHK pada Selasa sebagian besar berkaitan dengan integrasi aset NFL Network ke dalam jaringan olahraga tersebut.
Chairman ESPN Jimmy Pitaro mengatakan kepada para karyawan dalam sebuah memo bahwa perusahaan telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengevaluasi "tim, sumber daya, dan struktur organisasi" setelah mengakuisisi aset NFL, serta telah membuat "sejumlah keputusan sulit terkait dampak terhadap pekerjaan."
Sejumlah figur publik ESPN dilaporkan turut terdampak PHK, termasuk pembawa acara ‘SportsCenter’ sekaligus komentator bisbol Karl Ravech, serta mantan pemain NFL dan analis Ryan Clark.
Gelombang PHK ini merupakan yang ketiga bagi Disney pada tahun ini dan dilakukan menyusul restrukturisasi yang lebih luas di bawah kepemimpinan CEO Josh D'Amaro.
Pada Januari, Disney mengonsolidasikan operasi pemasarannya. Pada April, perusahaan tersebut memangkas sekitar 1.000 posisi di unit studio, jaringan televisi, ESPN, divisi produk dan teknologi, serta departemen korporasi.
Bagi karyawan maupun pemirsa, gelombang PHK terbaru ini menegaskan kenyataan yang tidak mudah diterima, yakni bahwa bahkan merek-merek sukses pun tidak luput dari langkah pengendalian biaya.
Kinerja box office Pixar yang menguat belakangan ini, ekspansi kiprah ESPN di NFL, maupun nama besar National Geographic yang telah lama dikenal tidak mampu mencegah PHK, seiring Disney terus mengevaluasi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, jenis proyek yang akan digarap, serta bidang investasi yang menjadi prioritasnya.
"Merger-merger ini merusak industri," kata seorang karyawan Pixar kepada Xinhua, yang meminta identitasnya tidak diungkapkan. "Studio-studio mungkin menghemat jutaan dolar, tetapi orang-orang yang telah bekerja keras membangun perusahaan dan menciptakan produk-produknya yang terkenal di dunia justru disingkirkan sehingga seluruh industri dan perekonomian California terpuruk."
Selesai
Penulis: Julia Pierrepont III
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Opini – Bioekonomi seimbangkan konservasi dan pembangunan ekonomi
Indonesia
•
06 Mar 2025

Menkeu Jerman desak UE bertindak tegas jika negosiasi tarif dengan AS gagal
Indonesia
•
14 Jul 2025

Inflasi Australia diperkirakan capai puncaknya jelang akhir tahun, lebih lama dari perkiraan
Indonesia
•
24 Oct 2022

Feature – Wisatawan China lebih pilih destinasi Eropa yang tidak terlalu populer demi perjalanan yang imersif
Indonesia
•
28 Aug 2024


Berita Terbaru

IEA sudah lepas 290 juta barel minyak, tetapi risiko pasokan global masih tinggi
Indonesia
•
22 Jul 2026

Feature – Robot humanoid China mampu pahami perintah dan bekerja mandiri, ini kemampuannya
Indonesia
•
21 Jul 2026

74 persen warga Malaysia pakai AI untuk belanja, tapi 52 persen belum percaya bertransaksi
Indonesia
•
21 Jul 2026

Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan tembus 2.345 triliun rupiah tahun ini, AI jadi motor pertumbuhan
Indonesia
•
18 Jul 2026
