Konflik berkepanjangan di Gaza ungkap sikap ‘bermuka dua’ Washington di Timur Tengah

Para pengunjuk rasa berpartisipasi dalam sebuah demonstrasi untuk menyatakan dukungan terhadap Palestina dan Lebanon di Sydney, Australia, pada 6 Oktober 2024. (Xinhua/Liang Youchang)
Dukungan militer AS yang sangat besar terhadap Israel merupakan bukti terbesar bahwa Washington tidak layak menjadi mediator untuk menghentikan perang ini.
Kairo, Mesir (Xinhua/Indonesia Window) – Konflik Israel-Hamas yang telah berlangsung selama setahun di Jalur Gaza mengungkap sikap ‘bermuka dua’ Washington di Timur Tengah. Di satu sisi, AS mengeklaim menyerukan perdamaian, tetapi di sisi lain, mereka memberikan dukungan politik dan militer yang tak tergoyahkan kepada Israel, menurut para pakar politik.Konflik di Gaza kini telah memasuki tahun kedua. Konflik ini dipicu oleh serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang menyebabkan sekitar 1.200 orang tewas dan 250 lainnya disandera.Merespons serangan tersebut, pihak Israel melancarkan operasi militer. Operasi yang masih berlangsung di Gaza ini telah menyebabkan 42.065 orang tewas dan 97.886 lainnya luka-luka, menurut angka yang dirilis oleh otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza pada Kamis (10/10).Sejak 8 Oktober 2023, Hizbullah dan tentara Israel telah saling membalas serangan di perbatasan Lebanon-Israel. Mulai 23 September, Israel mengintensifkan serangan udaranya di seluruh Lebanon dalam eskalasi yang berbahaya dengan Hizbullah, dan telah meluncurkan operasi militer darat ‘terbatas’ di wilayah tersebut.Laporan terbaru dari Lebanon menunjukkan bahwa serangan Israel telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan memaksa 1 juta penduduk di seluruh negeri mengungsi.Sejak pecahnya konflik Gaza, Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Antony Blinken telah melakukan kunjungan sebanyak 10 kali ke Timur Tengah. Kunjungan terbarunya berlangsung pada September lalu. Washington menyatakan bahwa mereka ingin memediasi sebuah kesepakatan antara Israel dan Hamas untuk mengakhiri perang serta melakukan pertukaran tahanan.
Orang-orang berjalan di sebuah jalan di tengah puing-puing bangunan yang hancur di Kota Jabalia, Jalur Gaza utara, pada 6 Oktober 2024. (Xinhua/Mahmoud Zaki)
Foto yang diabadikan pada 6 Oktober 2024 ini menunjukkan puing-puing bangunan yang hancur di Kota Jabalia, Jalur Gaza utara. (Xinhua/Mahmoud Zaki)
Dua orang anak berdiri di atas reruntuhan bangunan yang hancur di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 6 Oktober 2024. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Pemerintah sementara Suriah bidik reformasi ekonomi dan jamin cadangan strategis yang cukup
Indonesia
•
23 Dec 2024

Terjerat skandal pengampunan pelaku pedofilia, presiden Hongaria mengundurkan diri
Indonesia
•
12 Feb 2024

Serangan pasukan Israel tewaskan puluhan militan Hamas di Gaza City
Indonesia
•
31 Dec 2023

AS: Rusia mungkin tertarik lanjutkan pembicaraan kesepakatan biji-bijian Laut Hitam
Indonesia
•
02 Aug 2023
Berita Terbaru

Iran masih mau negosiasi walau AS tak dapat dipercaya
Indonesia
•
31 Jan 2026

Fokus Berita – Gencatan senjata sia-sia, Gaza digempur serangan udara Israel, sedikitnya 32 warga Palestina tewas
Indonesia
•
01 Feb 2026

Kanselir Jerman tegaskan Eropa mitra AS, bukan bawahan
Indonesia
•
31 Jan 2026

Zelensky siap patuhi gencatan senjata energi dengan Rusia
Indonesia
•
31 Jan 2026
