
‘Digital Watermarking’ amankan dan verifikasi data digital

Ilustrasi. (Joshua Sortino on Unsplash)
Digital watermarking merupakan teknik penyisipan informasi tersembunyi ke dalam data digital tanpa mengubah tampilan aslinya secara kasat mata.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi teknologi digital watermarking sebagai bagian penting dalam pengembangan riset keamanan data.
Peneliti Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber BRIN, Didi Rosiyadi, menekankan pentingnya peran watermarking dalam menjaga keamanan informasi di tengah meningkatnya ancaman kebocoran dan manipulasi data.
“Teknologi watermarking menjadi salah satu solusi menjaga integritas dan keamanan informasi,” kata Didi, dalam kegiatan kunjungan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika, di BRIN Bandung, Kamis (4/6).
Digital watermarking merupakan teknik penyisipan informasi tersembunyi ke dalam data digital tanpa mengubah tampilan aslinya secara kasat mata. Teknologi ini memungkinkan sebuah data, baik berupa teks, gambar, maupun media digital lainnya, memiliki identitas khusus yang dapat digunakan untuk membuktikan keaslian serta kepemilikan.
Salah satu metode yang digunakan dalam riset ini adalah zero-width unicode watermarking, yaitu teknik penyisipan karakter tak terlihat yang tidak memengaruhi struktur maupun tampilan teks.
Menurut Didi, digital watermarking memungkinkan untuk menyisipkan identitas pada data tanpa merusak struktur aslinya. Sehingga, keaslian dan kepemilikan tetap dapat dibuktikan.
“Teknologi ini menjadi sangat relevan ketika data digital semakin mudah disalin dan disebarluaskan tanpa kontrol yang memadai,” tuturnya.
Tidak hanya diterapkan pada data teks, teknologi watermarking juga dikembangkan untuk citra digital menggunakan metode discrete cosine transform (DCT). Metode ini memungkinkan penyisipan watermark ke dalam gambar tanpa mengurangi kualitas visual secara signifikan.
Dengan pendekatan ini, watermark tetap tersembunyi namun dapat dideteksi ketika diperlukan. Misalnya, dalam proses verifikasi keaslian data atau penelusuran sumber kebocoran.
Teknologi ini membuka peluang integrasi dengan sistem keamanan lain seperti enkripsi dan blockchain. “Kombinasi berbagai teknologi tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem perlindungan data yang lebih komprehensif, mulai dari proses penyimpanan, distribusi, hingga verifikasi informasi digital,” ujarnya.
Selain itu, riset ini menjadi bagian dari upaya BRIN meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan data di kalangan akademisi maupun masyarakat umum. Dengan semakin berkembangnya ekosistem digital, kebutuhan terhadap teknologi yang mampu melindungi data menjadi semakin krusial dan tidak dapat diabaikan.
Didi berharap hasil riset digital watermarking dapat dimanfaatkan di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, industri kreatif, hingga layanan publik digital.
“Teknologi ini diharapkan menjadi solusi keamanan siber yang tidak hanya dikembangkan di tingkat penelitian, tetapi diterapkan secara nyata untuk melindungi data dan karya digital dari berbagai ancaman,” tutupnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti temukan sinyal awal demensia yang sering diabaikan banyak orang
Indonesia
•
22 Jul 2026

Residu susu berusia 3.000 tahun ditemukan di situs kuno Dataran Tinggi Tibet
Indonesia
•
20 Feb 2023

Pesawat amfibi buatan China AG600 rampungkan uji terbang pada suhu dan kelembapan tinggi
Indonesia
•
19 Jul 2024

Studi baru kaitkan hilangnya es laut Arktika dengan cuaca dingin ekstrem
Indonesia
•
11 Apr 2023


Berita Terbaru

Teknologi satelit China melesat, citra Bumi kini bisa dikirim hanya dalam waktu 1,5 jam
Indonesia
•
24 Jul 2026

Feature – Paus sperma berkomunikasi seperti kode morse, ilmuwan temukan 'bahasa' uniknya
Indonesia
•
24 Jul 2026

Teknologi ‘arteri pada cip’ buka harapan baru untuk mendeteksi risiko stroke
Indonesia
•
24 Jul 2026

Feature – Dari tangan manusia ke robot AI, begini masa depan pertanian kapas di Uighur Xinjiang
Indonesia
•
23 Jul 2026
