
Tim akademisi ungkap aktivitas perang kuman Jepang di Asia Tenggara

Foto dokumentasi ini menunjukkan seorang korban perang kuman Jepang di China saat Perang Dunia II sedang berjalan menggunakan tongkat di Yiwu, Provinsi Zhejiang, China timur. (Xinhua)
Detasemen perang kuman Jepang saat Perang Dunia II tidak hanya melakukan kejahatan terhadap masyarakat China, tetapi juga berupaya melakukan perang biologis di Asia Tenggara.
Hangzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Detasemen perang kuman Jepang saat Perang Dunia II tidak hanya melakukan kejahatan terhadap masyarakat China, tetapi juga berupaya melakukan perang biologis di Asia Tenggara, demikian diungkapkan sejumlah akademisi dalam sebuah seminar yang diselenggarakan pada Jumat (10/1) hingga Ahad (12/1).Pakar asal Singapura Lim Shao Bin dan Wang Xuan dari Asosiasi Sejarah Zhejiang mempresentasikan temuan-temuan dari 11 dokumen yang sebelumnya pernah diungkapkan. Dengan menganalisis arsip-arsip tersebut, keduanya mengungkap aktivitas pasukan perang biologis Jepang, Unit Oka 9420, yang dikerahkan di Asia Tenggara.Unit Oka 9420 mendirikan markas besarnya di Singapura saat Perang Dunia II, serta mendirikan cabang-cabang di wilayah Asia Tenggara lainnya, termasuk Thailand dan Indonesia. Lim mengatakan unit itu menghancurkan banyak peralatan dan materi setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada 1945. Banyak anggota menyembunyikan identitas mereka, lanjutnya.Gong Wenjing, seorang peneliti perang kuman Jepang dari Akademi Ilmu Sosial Harbin, mengatakan bahwa penelitian gabungan dari para akademisi China dan Singapura berkontribusi pada penelitian sejarah Unit Oka 9420.Lim merupakan editor di Ee Hoe Hean Club, sebuah klub komunitas China yang telah berumur lebih dari 100 tahun dan berbasis di Singapura. Dia mendedikasikan diri untuk mengumpulkan materi sejarah tentang agresi Jepang dan baru-baru ini mendonasikan serangkaian koleksinya ke sebuah museum di Zhejiang.Berfokus pada pembahasan sejarah perawatan medis di masa Perang Perlawanan Rakyat China terhadap Agresi Jepang, seminar tersebut diadakan di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China timur.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Advokat harus miliki kemampuan “Public Speaking”
Indonesia
•
20 Jan 2025

COVID-19 – Thailand setujui vaksin Astrazeneca untuk penggunaan darurat
Indonesia
•
22 Jan 2021

Jerman akan larang penjualan gas tertawa kepada warga berusia di bawah 18 tahun
Indonesia
•
21 Dec 2025

Singapura berencana lestarikan kediaman Lee Kuan Yew sebagai monumen nasional
Indonesia
•
04 Nov 2025


Berita Terbaru

Meta dan YouTube dinyatakan bertanggung jawab terkait kecanduan media sosial di AS
Indonesia
•
27 Mar 2026

Menuju Olimpiade Los Angeles 2028: Atlet transgender dilarang ikut kompetisi perempuan
Indonesia
•
27 Mar 2026

Queensland di Australia akan larang anak di bawah 16 tahun kendarai perangkat ‘e-mobility’
Indonesia
•
25 Mar 2026

Badan Pengawas Obat AS tarik hampir 90.000 botol ibuprofen anak secara nasional
Indonesia
•
21 Mar 2026
