
OPEC+ akan pertahankan stabilitas produksi minyak untuk Q1 2025

Foto yang diabadikan pada 30 November 2023 ini menunjukkan markas besar Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) di Wina, Austria. (Xinhua/He Canling)
Delapan negara OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman, akan memperpanjang pemangkasan produksi sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari (bph), yang awalnya diumumkan pada November 2023, hingga akhir Maret 2025.
Wina, Austria (Xinhua/Indonesia Window) – Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan para mitranya, dikenal sebagai OPEC+, pada Kamis (5/12) sepakat untuk mempertahankan produksi minyak pada level saat ini untuk kuartal pertama (Q1) 2025.Dalam sebuah pernyataan di situs web OPEC, delapan negara OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman, mengatakan bahwa mereka akan memperpanjang pemangkasan produksi sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari (bph), yang awalnya diumumkan pada November 2023, hingga akhir Maret 2025.Pemangkasan sukarela ini akan "dihapuskan secara bertahap setiap bulan hingga akhir September 2026 guna mendukung stabilitas pasar," tetapi kenaikan bulanan tersebut dapat dihentikan sementara atau dibatalkan bergantung pada kondisi pasar, menurut pernyataan tersebut.Selain itu, kedelapan negara tersebut akan memperpanjang pemangkasan produksi sukarela sebesar 1,65 juta bph, yang pertama kali diumumkan pada April 2023, hingga akhir 2026.Para menteri perminyakan dari delapan negara berbicara di sela-sela pertemuan tingkat menteri OPEC+ secara virtual pada Kamis.Dalam sebuah pernyataan terpisah, OPEC mengatakan bahwa negara-negara OPEC+ pada pertemuan tingkat menteri sepakat memperpanjang level produksi minyak mentah secara keseluruhan tersebut hingga sepanjang tahun 2026.OPEC+ telah membuat keputusan untuk "mencapai dan menjaga stabilitas pasar minyak, serta untuk memberikan panduan jangka panjang dan transparansi bagi pasar, serta mengimplementasikannya dengan mengikuti pendekatan yang berhati-hati, proaktif, dan bersifat antisipatif," menurut pernyataan tersebut.Pada pertemuan tingkat menteri, negara-negara OPEC+ juga menegaskan kembali pentingnya mematuhi kepatuhan secara penuh terhadap kuota produksi dan mekanisme kompensasi kelompok itu.Harga minyak secara umum cenderung menurun dalam beberapa pekan terakhir karena kekhawatiran akan melambatnya permintaan global dan meningkatnya suplai dari produsen-produsen di luar aliansi OPEC+. Harga minyak Brent, acuan minyak mentah internasional, telah diperdagangkan sedikit di atas 70 dolar AS per barel dalam beberapa pekan terakhir, turun dari 80 dolar AS lebih pada Juli 2024.Sejak Agustus 2024, OPEC telah menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global pada 2024 dan 2025 selama empat bulan berturut-turut, seperti yang dirinci dalam laporan pasar bulanannya.Pertemuan tingkat menteri OPEC+ berikutnya menurut jadwal akan digelar pada 28 Mei 2025, untuk meninjau kebijakan produksi. Namun, Komite Pemantauan Menteri Gabungan tetap memiliki wewenang untuk menggelar pertemuan tambahan sesuai kebutuhan untuk merespons perkembangan pasar.*1 dolar = 15.957 rupiahLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Jerman jajaki sumber energi baru di Namibia dan Afrika Selatan
Indonesia
•
05 Dec 2022

China dan Prancis sepakat perdalam kerja sama ekonomi dan keuangan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kanada balas AS dengan tarifnya sendiri
Indonesia
•
04 Feb 2025

Minyak anjlok di tengah kekhawatiran permintaan China melemah
Indonesia
•
29 Mar 2022


Berita Terbaru

Lepas L8 resmi meluncur di Indonesia, dibanderol Rp589 juta dengan Jarak tempuh hingga 1.300 km
Indonesia
•
28 Jul 2026

Malaysia tinggal selangkah lagi jadi negara berpenghasilan tinggi, ekonomi tumbuh 5,8 persen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Indonesia raup 18,62 triliun rupiah dari Panda Bonds perdana, pasar keuangan China kian terbuka
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ekonomi ASEAN+3 diproyeksikan tumbuh 4,1 persen pada 2026, didorong AI dan semikonduktor
Indonesia
•
28 Jul 2026
