
Feature – Dokter Gaza rawat anak-anak korban perang meski cacat akibat serangan udara Israel

Dokter Palestina, Khaled al-Saidani, memeriksa seorang pasien di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa (Al-Aqsa Martyrs Hospital) di Kota Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, pada 9 Januari 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Dampak dari perang di Gaza membuat Dr. Khaled al-Saidani menderita depresi selama berbulan-bulan, masa yang suram ketika dirinya mempertanyakan apakah hidup ini layak untuk dijalani.
Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Dr. Khaled al-Saidani (51) bergerak dengan hati-hati di antara ranjang rumah sakit di bangsal anak-anak di Rumah Sakit Al-Aqsa, kaki palsu yang digunakannya menjadi bukti nyata dari penderitaan korban perang yang menghancurkan sistem medis Gaza. Baginya, pilihan untuk terus berpraktik sebagai dokter, bahkan setelah kehilangan kakinya akibat serangan udara Israel, bukanlah sebuah pilihan yang memang dia pilih, melainkan sesuatu yang harus dilakukan."Ini adalah misi saya," kata Al-Saidani, suaranya tetap terdengar tenang meskipun dirinya kesulitan berjalan di bangsal tersebut. "Meskipun saya menjadi seorang penyandang disabilitas, saya masih memiliki pengalaman medis yang dibutuhkan oleh seluruh komunitas saya."Serangan udara enam bulan lalu yang merenggut kakinya juga menghancurkan rumahnya di kamp pengungsi al-Bureij serta menewaskan beberapa anggota keluarga. Seperti ribuan warga lainnya di Gaza, Al-Saidani menjadi korban sekaligus harus berperan sebagai perawat (caregiver) dalam perang yang telah menghancurkan kehidupan banyak orang."Tanpa pemberitahuan sebelumnya, saya dan keluarga menjadi pengungsi," ungkap Al-Saidani, setiap kata yang diucapkannya dibebani oleh kenangan tersebut. "Namun, yang memperburuk keadaan adalah kenyataan bahwa saya menjadi seorang penyandang disabilitas yang bahkan tidak bisa menolong dirinya sendiri."
Dokter Palestina, Khaled al-Saidani, terlihat di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa (Al-Aqsa Martyrs Hospital) di Kota Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, pada 9 Januari 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Dokter Palestina, Khaled al-Saidani, terlihat di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa (Al-Aqsa Martyrs Hospital) di Kota Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, pada 9 Januari 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Dokter Palestina, Khaled al-Saidani, terlihat di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa (Al-Aqsa Martyrs Hospital) di Kota Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, pada 9 Januari 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Israel lancarkan operasi darat besar-besaran di seluruh Gaza, korban tewas terus berjatuhan
Indonesia
•
19 May 2025

Kamp pengungsi di Suriah timur laut catat repatriasi sukarela pertama sebanyak 58 keluarga
Indonesia
•
15 Feb 2025

Fosil tengkorak 'Homo erectus' berumur jutaan tahun digali di China tengah
Indonesia
•
28 Dec 2022

Tim UGM kembangkan alat deteksi dini ‘stunting’
Indonesia
•
25 Dec 2021


Berita Terbaru

Queensland di Australia akan larang anak di bawah 16 tahun kendarai perangkat ‘e-mobility’
Indonesia
•
25 Mar 2026

Badan Pengawas Obat AS tarik hampir 90.000 botol ibuprofen anak secara nasional
Indonesia
•
21 Mar 2026

Angka kematian anak balita turun lebih dari setengahnya sejak tahun 2000
Indonesia
•
19 Mar 2026

Idul Fitri 1447H – Warga Afghanistan bersiap sambut Idul Fitri di tengah sanksi dan kemiskinan
Indonesia
•
19 Mar 2026
