
Kisah – Kota kecil di pegunungan China bebaskan diri dari kemiskinan

Tumbuhan kamperfuli (honeysuckle) ditanam di lereng bukit di Shichao, wilayah Wuchuan, Provinsi Guizhou, China barat daya, pada 16 November 2022. (Xinhua/Li Jingya)
Daerah pegunungan Shichao di Provinsi Guizhou, China barat daya, yang memiliki kondisi alam buruk sehingga membuat penduduk desa tidak dapat membudidayakan berbagai tanaman khas, kini berubah menjadi area perkebunan dengan berbagai tanaman penghasil uang seperti kamperfuli (honeysuckle).
Guiyang, China (Xinhua) – Satu dekade lalu, penduduk desa di daerah pegunungan Shichao di Provinsi Guizhou, China barat daya, hidup dalam kemiskinan, mengais rezeki yang tak seberapa dengan menanam jagung.Saat ini, mereka telah mengubah kehidupan dengan secara bertahap menanami pegunungan gersang di daerah itu dengan berbagai tanaman penghasil uang seperti kamperfuli (honeysuckle).Pada 2012, Guo Zerong adalah salah satu penduduk desa pertama yang mengikuti seruan para pejabat Shichao, yang terletak di Wilayah Otonom Etnis Gelao dan Miao Wuchuan, untuk menanam kamperfuli di pegunungan tandus itu."Kamperfuli dapat bertahan dalam kekeringan, mudah dirawat, dan memiliki nilai ekonomi tinggi," kata Guo. "Ini cocok untuk kami."Guo telah memperluas perkebunan kamperfuli miliknya yang sebelumnya berukuran kecil hingga kini luasnya mencapai lebih dari 4,67 hektare, membuat pendapatan tahunan rumah tangganya bertambah lebih dari 80.000 yuan atau sekitar 11.280 dolar AS.Perkebunan kamperfuli yang luasnya mencapai 1.400 hektare saat ini menghasilkan sekitar 30 persen dari pendapatan siap dibelanjakan (disposable income) per kapita penduduk desa di Shichao, menurut data resmi.Dengan rata-rata ketinggian 1.200 meter, Shichao, yang sering diguyur hujan dan diselimuti kabut, pernah terdaftar sebagai satu dari 20 daerah di Guizhou yang dilanda kemiskinan ekstrem.Kondisi alam yang buruk membuat penduduk desa tidak dapat membudidayakan berbagai tanaman khas, kata ketua Partai di Shichao, Shen Gang.Selama beberapa tahun, dengan kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan koperasi lokal, berbagai tanaman khas telah ditanam di Shichao, termasuk Torreya China, kamperfuli, paprika, dan ceri, meningkatkan pendapatan penduduk setempat secara signifikan.Tian Hua, seorang warga desa yang berusia 45 tahun, pada 2014 kembali ke Shichao dari Provinsi Guangdong, China selatan, untuk memulai bisnis.Pada akhir 2017, dia mengangkut lebih dari 500 pohon ceri dari Kota Dalian, Provinsi Liaoning, China timur laut, ke Shichao dan sejak saat itu telah membangun 10 rumah kaca dan menanam hampir 20.000 pohon ceri.Suhu, kelembapan, dan sistem kontrol cahaya di rumah kaca itu telah membantu pohon ceri tumbuh di Shichao, yang sejatinya tidak cukup hangat dan tidak dapat memberikan paparan sinar matahari yang cukup bagi tanaman tersebut."Selama lima tahun, perkebunan kami telah menghasilkan hampir 10.000 kg ceri, namun itu masih belum cukup untuk memenuhi permintaan lokal," kata Tian.
Rumah kaca untuk perkebunan ceri terlihat di Shichao, wilayah Wuchuan, Provinsi Guizhou, China barat daya, pada 17 November 2022. (Xinhua/Li Jingya)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

RCEP bantu Ningxia di China perluas lingkaran pertemanan
Indonesia
•
28 Feb 2023

Cadangan devisa Indonesia naik jadi 137,1 miliar dolar AS pada Juni
Indonesia
•
08 Jul 2021

Ekonom sebut Spanyol akan jadi mesin pertumbuhan zona euro pada 2024
Indonesia
•
12 Oct 2023

Opini: BRICS cerminkan permintaan platform alternatif untuk bahas isu global
Indonesia
•
30 Oct 2024


Berita Terbaru

IPO SpaceX raup 1.348 triliun rupiah, Elon Musk makin dekat jadi triliuner pertama dunia
Indonesia
•
13 Jun 2026

Aset lintas batas Hong Kong tembus Rp53 kuadriliun, lampaui Swiss
Indonesia
•
13 Jun 2026

UKM Singapura paling tidak optimistis ekspansi ke luar negeri
Indonesia
•
12 Jun 2026

ZTE borong 3 penghargaan Selular Awards 2026, perkuat inovasi teknologi jaringan di Indonesia
Indonesia
•
11 Jun 2026
