Canva siapkan restrukturisasi untuk perkuat pengembangan produk berbasis AI, 1.271 karyawan terdampak

Sebuah karya terlihat dalam pameran luar ruangan di tepi pantai di Sydney, Australia, pada 17 Oktober 2026. (Xinhua/Gong Bing)

Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Raksasa desain digital Australia, Canva, pada Rabu (4/11) mengatakan bahwa lebih dari 1.200 pekerjaan akan terdampak oleh restrukturisasi besar-besaran sebagai respons terhadap perlambatan pertumbuhan perusahaan.

CEO sekaligus salah satu pendiri Canva, Melanie Perkins, mengatakan dalam sebuah memo kepada karyawan bahwa sebanyak 1.271 orang, atau 22 persen dari total tenaga kerja raksasa teknologi tersebut, akan terdampak oleh restrukturisasi.

"Bagi sebagian orang, ini berarti perubahan pada posisi mereka atau diminta untuk pindah ke pusat-pusat yang tersentralisasi," kata Perkins.

"Ini juga berarti harus mengucapkan selamat tinggal kepada rekan kerja dan kawan-kawan yang telah membantu membangun Canva hingga menjadi seperti sekarang ini."

Dia mengatakan bahwa tim produk, pertumbuhan, dan platform Canva akan digabung menjadi satu organisasi produk, sementara Sydney akan menjadi pusat utama bagi lebih banyak tim produk.

Pengumuman tersebut disampaikan setelah perusahaan yang berbasis di Sydney itu pada Agustus menurunkan proyeksi pendapatannya untuk 2026, dengan memangkas perkiraan pertumbuhan dari 30 persen menjadi 20 persen, serta menurunkan valuasi internalnya menjadi 43,9 miliar dolar Australia.

*1 dolar Australia = 12.680 rupiah

Memo Perkins tidak menyebutkan dampak kecerdasan buatan (AI). Namun, Australian Broadcasting Corporation melaporkan bahwa restrukturisasi ini akan mempersiapkan Canva dalam mengembangkan produk-produk terkait AI.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait