PBB: 5 wilayah di Sudan tunjukkan bukti kondisi bencana kelaparan

Bukti kondisi bencana kelaparan ditemukan di sedikitnya lima wilayah di negara bagian Darfur Utara dan Kordofan Selatan di Sudan yang dilanda perang.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Bukti kondisi bencana kelaparan ditemukan di sedikitnya lima wilayah di negara bagian Darfur Utara dan Kordofan Selatan di Sudan yang dilanda perang, kata seorang juru bicara (jubir) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (19/2).
“Ada bukti kuat mengenai kondisi bencana kelaparan di sedikitnya lima wilayah di Sudan, yakni kamp Zamzam, kamp Abu Shouk, dan kamp Al Salam di Darfur Utara, serta dua lokasi di Pegunungan Nuba Barat,” kata Stephane Dujarric, jubir utama Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Pegunungan tersebut berada di Negara Bagian Kordofan Selatan.
Dujarric mengatakan penetapan bencana kelaparan ini dilakukan oleh Komite Peninjau Bencana Kelaparan dari inisiatif Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (Integrated Food Security Phase Classification/IPC). Sementara itu, badan-badan PBB menjadi mitranya.
“Ada laporan tentang orang-orang yang sekarat karena kelaparan di beberapa wilayah, seperti Darfur, Kordofan, dan Khartoum,” ujar Dujarric. “Saat ini, sekitar 638.000 orang dipastikan mengalami kelaparan parah (IPC5).”
IPC level lima menandakan bencana kelaparan.
Dujarric mengatakan bahwa tercatat rekor 4,7 juta anak balita serta perempuan dan wanita hamil dan menyusui saat ini menderita kekurangan gizi akut. Kondisi tersebut memengaruhi warga setempat dan pengungsi internal.

“Orang-orang di kamp Zamzam, misalnya, terpaksa menggunakan cara-cara ekstrem demi bertahan hidup karena makanan sangat langka,” kata Dujarric. “Banyak keluarga memakan kulit kacang yang dicampur dengan minyak, yang biasanya digunakan sebagai pakan hewan. PBB menyerukan kepada semua pihak untuk menyarungkan senjata dan mengutamakan kepentingan rakyat,” imbuh jubir tersebut.
Dujarric mengatakan ada kebutuhan mendesak untuk memperluas akses dan membuka koridor baru, baik di seluruh perbatasan maupun di seluruh garis depan konflik, guna menyalurkan bantuan dan menyelamatkan orang dari kematian akibat kelaparan.
IPC merupakan inisiatif untuk meningkatkan ketahanan pangan, analisis gizi, dan pengambilan keputusan. Berdasarkan standar ilmiah yang diakui secara internasional, pemerintah, badan-badan PBB, lembaga swadaya masyarakat (LSM), masyarakat sipil, dan pihak-pihak lainnya bekerja untuk menentukan tingkat keparahan dan level kerawanan pangan akut dan kronis serta malanutrisi akut di suatu negara.
“Tujuan utama IPC adalah menyediakan analisis yang cermat serta berdasar pada bukti dan konsensus mengenai situasi kerawanan pangan dan malnutrisi akut bagi para pengambil keputusan, guna memberikan informasi tentang langkah tanggap darurat serta kebijakan dan program jangka menengah maupun panjang,” urai pernyataan dalam situs web IPC.
Laporan: Redaksi