
Ilmuwan lakukan uji coba untuk ungkap cara kerja obat baru lawan tumor otak

Ilustrasi. (Talha Hassan on Unsplash)
BrainPOP merupakan sebuah platform yang aman dan efektif, yang mampu mengungkap efek obat secara rinci di dalam otak, sehingga memungkinkan pengambilan keputusan pengobatan yang dipersonalisasi dan membantu mengidentifikasi pasien yang mungkin mendapat manfaat paling besar (dari terapi tersebut).
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah ilmuwan membuat sebuah terobosan dengan menggunakan proses inovatif untuk mempelajari cara sebuah obat baru dapat menekan aktivitas tumor pada pasien kanker otak glioma tingkat rendah (low-grade glioma/LGG).Ini menjadi uji coba klinis pertama yang dilakukan melalui platform inovatif Brain Perioperative (BrainPOP), papar pernyataan yang dirilis pada Senin (25/8) oleh Royal Melbourne Hospital (RMH) Australia.LGG adalah jenis kanker otak yang tumbuh lambat dan berdampak signifikan pada kehidupan pasien, yang banyak di antaranya adalah orang dewasa muda dalam masa produktif mereka. Ditandai oleh mutasi spesifik pada gen yang disebut IDH, pengobatan LGG yang ada saat ini terbatas, dan LGG telah lama dianggap tidak dapat disembuhkan.Namun, sebuah pengobatan baru akan segera hadir, berkat penemuan mutasi pada LGG serta proses baru yang inovatif untuk mengobatinya, kata para peneliti.Studi percontohan ini menguji Safusidenib, sebuah inhibitor oral yang menargetkan gen IDH1 yang bermutasi. Peneliti dari institusi medis terkemuka Australia mengamati efek obat tersebut pada sampel tumor LGG baik sebelum maupun sesudah pengobatan.Hasilnya menjanjikan, dengan bukti studi utamanya telah dipublikasikan di dalam jurnal Nature Medicine."Uji coba ini bukan hanya sebuah revolusi dalam cara kita menguji pengobatan baru, melainkan juga menghadirkan peluang-peluang baru bagi kelompok pasien penyakit mematikan ini yang berasal dari kelompok usia yang patut diselamatkan," ungkap Kate Drummond, direktur bedah saraf di RMH sekaligus investigator utama uji coba tersebut.Onkolog Jim Whittle dari Peter MacCallum Cancer Center yang berbasis di Melbourne, yang juga penulis senior dalam studi ini, mengatakan bahwa uji coba perioperatif, yang mengambil sampel biopsi sebelum dan sesudah pengobatan untuk mengukur efek obat, umum dilakukan pada kanker lain, tetapi karena kompleksitas bedah saraf, metode itu belum pernah digunakan pada kanker otak hingga saat ini.Studi baru ini menunjukkan BrainPOP sebagai sebuah platform yang aman dan efektif yang mampu mengungkap efek obat secara rinci di dalam otak, sehingga memungkinkan pengambilan keputusan pengobatan yang dipersonalisasi dan membantu mengidentifikasi pasien yang mungkin mendapat manfaat paling besar (dari terapi tersebut), imbuh Whittle.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – WHO lewatkan dua huruf Yunani untuk namai varian baru Omicron
Indonesia
•
28 Nov 2021

COVID-19 – Penelitian: Vaksin Pfizer dan Moderna kurang efektif lawan Omicron
Indonesia
•
18 Jan 2022

Pakar kesehatan peringatkan agar tidak remehkan risiko "tumor lambat"
Indonesia
•
18 Apr 2024

China luncurkan survei ilmiah di daerah aliran Sungai Kuning
Indonesia
•
30 Jul 2023


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
