
Beijing, Shanghai, atau Wuhan? Memilih kota studi di China

Foto menunjukkan perwakilan dari Qingdao University of Science and Technology (QUST) menggunakan alat penerjemah untuk menjawab pertanyaan pengunjung di ajang China Higher Education Exhibition 2026 di Jakarta Barat pada 14 Juni 2026. (Xinhua/Jessica Abraham)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Keramaian tampak sejak pagi di Hotel Aston Kartika, Jakarta Barat, pada Ahad (14/6) saat China Higher Education Exhibition 2026 membuka pintunya bagi ratusan pelajar Indonesia yang ingin menapaki masa depan melalui pendidikan tinggi di China.
Di antara deretan stan yang dipadati pengunjung, berbagai brosur universitas ternama dengan cepat berpindah tangan. Sebanyak 35 perguruan tinggi dari berbagai wilayah di China hadir dalam pameran tersebut, mulai dari Beijing di utara, Shanghai di pesisir timur, Wuhan di bagian tengah, hingga Guangxi di China selatan yang beriklim subtropis dan relatif akrab bagi pelajar dari Asia Tenggara.
Namun, memilih universitas di China bukan hanya soal reputasi kampus atau peringkat akademik. Luasnya wilayah China membuat setiap kota menawarkan pengalaman yang berbeda, mulai dari iklim, biaya hidup, budaya lokal, industri unggulan, hingga peluang kerja setelah lulus.
Bagi calon mahasiswa dari Indonesia, memahami karakteristik kota tempat kampus berada dapat menjadi faktor penting untuk menentukan pilihan yang paling sesuai dengan minat akademik, gaya hidup, dan cita-cita karier.
Beijing: Pusat politik, diplomasi, dan teknologi tinggi
Sebagai ibu kota China sekaligus pusat politik, diplomasi, dan teknologi tinggi, Beijing menawarkan lingkungan akademik yang sangat kompetitif sekaligus kaya akan sumber daya pendidikan.
Berada di China bagian utara, Beijing memiliki musim dingin yang relatif panjang dengan suhu dapat turun hingga di bawah 0 derajat Celsius, sementara musim panas cenderung panas dan lebih banyak hujan, terutama pada Juli dan Agustus, terutama pada Juli dan Agustus. Perubahan cuaca yang cukup kontras dibandingkan iklim tropis Indonesia memang dapat menjadi tantangan pada masa-masa awal adaptasi. Namun, bagi banyak mahasiswa internasional, pengalaman merasakan pergantian musim justru menjadi bagian menarik dari kehidupan dan proses belajar di ibu kota China tersebut.
Bagi mahasiswa yang tertarik pada hubungan internasional, bahasa Mandarin, diplomasi, teknologi penerbangan, teknik, maupun pengobatan tradisional China, Beijing menawarkan ekosistem akademik dan profesional yang sulit ditandingi. Kota ini menjadi lokasi sejumlah universitas terkemuka yang telah melahirkan banyak ilmuwan, diplomat, dan pemimpin di berbagai bidang. Di antaranya adalah Peking University, salah satu universitas paling bergengsi di Asia, serta Beijing Foreign Studies University (BFSU), yang dikenal sebagai ‘tempat lahir para diplomat’ China.
Dengan jaringan internasional yang luas dan kedekatan dengan pusat pemerintahan serta lembaga-lembaga penting negara, Beijing menjadi destinasi yang menarik bagi pelajar yang bercita-cita berkarier sebagai penerjemah, diplomat, akademisi bahasa, maupun profesional global.
Di bidang teknologi tinggi, Beihang University memiliki reputasi kuat dalam kedirgantaraan dan teknik penerbangan, sementara Beijing University of Technology (BJUT) menawarkan keunggulan dalam teknik, manufaktur cerdas, dan inovasi perkotaan.
Meski biaya hidup di Beijing termasuk yang tertinggi di China, akses terhadap jaringan profesional, magang, dan peluang kerja juga sangat besar.
Shanghai: Jantung bisnis, hukum, dan inovasi
Jika Beijing adalah pusat politik China, maka Shanghai merupakan jantung finansial dan bisnis internasional negara tersebut. Kota metropolitan berpenduduk lebih dari 24 juta jiwa ini menawarkan atmosfer yang sangat internasional. Banyak perusahaan multinasional, bank global, perusahaan teknologi, dan pusat perdagangan dunia beroperasi di sini.
Shanghai memiliki iklim subtropis lembap dengan musim panas yang panas dan musim dingin yang lebih ringan dibanding Beijing.
Bagi mahasiswa yang tertarik pada bisnis internasional, perdagangan global, keuangan, hukum, arsitektur, dan perencanaan kota, Shanghai menawarkan kelebihan yang sulit ditandingi.
Shanghai Jiao Tong University (SJTU) dikenal kuat dalam bidang teknik, kedokteran, bisnis, dan teknologi, sementara Tongji University memiliki reputasi internasional dalam arsitektur, teknik sipil, transportasi, dan desain perkotaan.
Kehadiran dua universitas hukum ternama, East China University of Political Science and Law (ECUPL) serta Shanghai University of Political Science and Law (SHUPL), menjadikan Shanghai tujuan ideal bagi calon ahli hukum internasional dan kebijakan publik.
Jika memilih untuk melanjutkan studi di Shanghai, calon mahasiswa perlu menyiapkan biaya yang relatif besar karena biaya hidup di kota ini termasuk yang tertinggi di China. Meski demikian, banyak mahasiswa internasional menilai pengalaman tinggal di salah satu kota paling global di Asia itu menjadi investasi berharga untuk karier masa depan.
Wuhan: Pusat pendidikan di China tengah
Terletak di Provinsi Hubei, Wuhan kerap dijuluki sebagai ‘kota mahasiswa’ karena jumlah kampus dan mahasiswa yang sangat besar. Posisinya yang berada di China tengah menjadikan kota ini sebagai pusat transportasi nasional. Biaya hidup di Wuhan umumnya lebih terjangkau dibanding Beijing maupun Shanghai.
Wuhan University terkenal dengan kampusnya yang indah dan program unggulan dalam humaniora, bahasa, teknologi, serta ilmu sosial. Minat terhadap Wuhan University juga ditunjukkan oleh Nada Ariska, siswi kelas 10 yang telah mencapai level HSK 3.
"Saya tertarik ke China karena ekonominya berkembang sangat pesat dan peluang kariernya besar. Budaya dan teknologinya juga maju. Saya ingin mengambil jurusan Bahasa Mandarin di Wuhan University karena menyukai sastra dan budaya kuno China," ujarnya kepada Xinhua di sela-sela pameran.
Nada mengaku mulai belajar bahasa Mandarin secara otodidak sejak kelas sembilan. Menurutnya, disiplin dan etos belajar para pelajar China menjadi inspirasi tersendiri.
"Saya melihat banyak pelajar China sangat disiplin dan berprestasi. Saya bahkan menolak pilihan universitas di Australia karena lebih tertarik ke China," katanya.
Beberapa pilihan universitas lain di kota ini meliputi Wuhan University of Technology, yang unggul dalam teknik material, transportasi, dan manufaktur, dan Huazhong Agricultural University, yang merupakan salah satu kampus pertanian terbaik di China.
Changsha: Basis industri dan inovasi di Hunan
Provinsi Hunan dikenal sebagai salah satu basis industri manufaktur dan teknologi China bagian tengah. Kota Changsha memiliki biaya hidup yang relatif moderat, kuliner yang terkenal pedas, serta pertumbuhan ekonomi yang cepat.
Central South University (CSU) dikenal kuat dalam bidang metalurgi, pertambangan, transportasi, dan kedokteran, sementara Hunan University memiliki reputasi baik dalam teknik, bisnis, dan sains.
Katie, perwakilan dari Hunan University yang telah tiga kali berkunjung ke Indonesia, mengatakan minat mahasiswa Indonesia terhadap pendidikan tinggi di China terus meningkat. "Kami ingin merekrut lebih banyak mahasiswa asing, terutama dari Indonesia," ujarnya.
Menurut Katie, program berbahasa Inggris yang paling populer di Hunan University adalah Business Administration serta Computer Science and Technology. "Jurusan yang paling kuat di universitas kami adalah Kimia dan Teknik Mesin. Saat ini terdapat sekitar 20 mahasiswa Indonesia yang belajar di sana," tambahnya.
Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada manufaktur modern, teknik, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan bisnis, Changsha menawarkan kombinasi menarik antara biaya hidup yang terjangkau dan peluang industri yang berkembang.
Nanjing, Wuxi, Hefei, Tianjin: Kota akademik dengan biaya lebih bersahabat
Kota-kota ini mungkin tidak sepopuler Beijing atau Shanghai di mata masyarakat Indonesia, tetapi justru menjadi tujuan favorit banyak mahasiswa internasional karena kualitas akademiknya yang tinggi dan biaya hidup yang lebih rendah.
Nanjing memiliki sejarah panjang sebagai ibu kota kuno China dan dikenal kuat dalam bidang teknik penerbangan serta farmasi, sementara di Tianjin ada Tianjin Medical University yang menjadi tujuan populer bagi mahasiswa internasional yang ingin mengambil program kedokteran.
Wuxi, tempat Jiangnan University berada, merupakan pusat industri pangan, bioteknologi, dan desain industri. Sementara itu, di Hefei terdapat University of Science and Technology of China (USTC), salah satu universitas riset paling elite di China, yang unggul dalam fisika, AI, komputasi kuantum, dan sains dasar.
Shenzhen dan Zhuhai: Kota masa depan di Kawasan Teluk Besar
Shenzhen dan Zhuhai berada di Kawasan Teluk Besar Guang Dong-Hong Kong-Makau, wilayah yang menjadi salah satu pusat inovasi, manufaktur teknologi, dan kewirausahaan di China selatan.
Shenzhen merupakan markas banyak perusahaan teknologi terkemuka China. Kota ini sangat cocok bagi mahasiswa yang tertarik pada AI, robotika, semikonduktor, teknologi informasi, dan kewirausahaan. Sementara itu, Zhuhai menawarkan suasana yang lebih tenang, lingkungan pesisir yang nyaman, serta kedekatan dengan Makau dan Hong Kong.
Kawasan ini juga menawarkan peluang karier yang luas, terutama bagi lulusan di bidang teknologi, manufaktur canggih, dan kewirausahaan.
Pilihan berdasarkan karakter wilayah
Harbin, Dalian, Qingdao, Lanzhou, Chengdu, dan Guangxi menawarkan pengalaman regional yang sangat beragam. Harbin di timur laut terkenal dengan musim dinginnya yang ekstrem dan keunggulan dalam teknik serta manufaktur.
Dalian dan Qingdao merupakan kota pesisir modern dengan industri maritim, kimia, dan manufaktur yang kuat. Chengdu, lokasi Southwest Jiao Tong University, terkenal sebagai pusat teknologi dan transportasi kereta cepat China. Lanzhou, yang berada di koridor Jalur Sutra modern, menjadi pusat penelitian lingkungan, energi, dan ilmu bumi.
Sementara itu, Guangxi menjadi salah satu wilayah yang paling menarik bagi mahasiswa Indonesia karena kedekatan budaya dan iklimnya. Chen Yuanyuan, direktur International Students Affair Office di Guangxi Medical University, mengaku terkejut dengan antusiasme pengunjung pameran. "Saya tidak menyangka pengunjungnya sangat banyak. Brosur kami habis dengan cepat," katanya.
Menurut Chen, untuk program berbahasa Mandarin, calon mahasiswa asing umumnya perlu memiliki kemampuan bahasa Mandarin minimal HSK 4. Dia juga terkesan melihat banyak pelajar Indonesia yang hadir di pameran tersebut yang sudah fasih berbahasa Mandarin. "Iklim dan makanan di Guangxi sangat mirip dengan Indonesia," ujarnya. Kedekatan geografis dengan Asia Tenggara membuat mahasiswa Indonesia relatif lebih mudah beradaptasi di daerah tersebut.
Menyesuaikan kampus dengan masa depan
Di tengah meningkatnya minat generasi muda Indonesia terhadap pendidikan tinggi di China, pemilihan universitas kini tidak lagi semata-mata didasarkan pada nama besar kampus.
Bagi calon dokter, kota-kota seperti Tianjin, Nanjing, Wuhan, dan Guangxi menawarkan pilihan menarik. Bagi calon insinyur, Beijing, Shanghai, Shenzhen, Changsha, Harbin, dan Chengdu memiliki ekosistem industri yang kuat. Sementara bagi mereka yang ingin mendalami bahasa, budaya, hukum, bisnis internasional, dan diplomasi, Beijing, Shanghai, serta Wuhan bisa menjadi tujuan utama.
Di salah satu sudut pameran, Evelyn, yang bercita-cita mengambil program MBBS di China, mengatakan pilihannya berubah dalam beberapa tahun terakhir.
"Saya awalnya ingin kuliah di Amerika Serikat, tetapi sekarang lebih memilih China. Saya melihat semakin banyak orang yang sukses setelah kuliah di China, dan karakter mereka juga lebih baik," katanya kepada Xinhua.
Pandangan serupa juga disampaikan sejumlah orang tua yang datang mendampingi anak-anak mereka.
"Saya ingin anak saya kuliah di China karena negaranya sudah sangat maju," ujar salah seorang orang tua pengunjung.
Pameran pendidikan tersebut memperlihatkan bagaimana China tidak hanya menawarkan kampus-kampus berkelas dunia, tetapi juga berbagai pilihan kota dengan karakter yang berbeda-beda. Bagi calon mahasiswa Indonesia, memahami perbedaan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk menemukan tempat yang paling sesuai guna membangun masa depan akademik dan profesional mereka di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Warga Mesir berunjuk rasa di dekat perlintasan Rafah tolak relokasi warga Palestina
Indonesia
•
02 Feb 2025

Feature – Kebun atap ubah desa di Mesir yang dulunya miskin ini jadi oasis subur
Indonesia
•
04 Mar 2025

Sekjen PBB: Sistem kemanusiaan di Gaza hadapi kehancuran total
Indonesia
•
29 Oct 2023

Ratusan ribu orang terdampak oleh kekeringan parah di Somalia
Indonesia
•
08 Aug 2025


Berita Terbaru

Ribuan orang terjebak di pegunungan Jepang, ratusan dilaporkan tewas dan hilang
Indonesia
•
18 Jun 2026

Pekerja Singapura pengguna AI paling aktif dan bertanggung jawab di dunia
Indonesia
•
17 Jun 2026

Pacuan kuda tradisional Gayo kembali digelar, jadi simbol solidaritas pascabanjir
Indonesia
•
16 Jun 2026

AI hidupkan kembali pagoda kayu tertua di dunia, pengunjung kini bisa jelajahi area terlarang
Indonesia
•
15 Jun 2026
