Arab Saudi rehabilitasi 1 juta hektare lahan, targetkan 10 miliar pohon

Orang-orang mengendarai 'dune buggy' di Bukit Pasir Merah yang terletak di Riyadh barat daya, Arab Saudi, pada 3 Desember 2021. (Xinhua/Wang Haizhou)

Riyadh, Arab Saudi (Xinhua/Indonesia Window) – Arab Saudi memperkuat kerja sama dengan China dalam memerangi desertifikasi dan memperluas tutupan vegetasi dengan memanfaatkan pengalaman China selama beberapa dekade, seiring negara kerajaan itu mendorong pencapaian target ambisius di bidang lingkungan melalui Inisiatif Hijau Saudi, kata seorang pejabat Arab Saudi.

Ahmed AlAnazi, general manager Program Penghijauan Nasional, mengatakan kepada Xinhua dalam wawancara baru-baru ini bahwa upaya Arab Saudi merehabilitasi satu juta hektare lahan terdegradasi untuk pertama kalinya merupakan hasil dari perencanaan strategis jangka panjang.

Upaya tersebut memanfaatkan pengalaman internasional, khususnya China, serta pembelajaran dari sejumlah negara seperti Pakistan, Ethiopia, Meksiko dan Turkiye.

AlAnazi mengatakan Arab Saudi telah memperoleh manfaat besar dari pengalaman China selama beberapa dekade, terutama dalam memahami dinamika perambahan pasir dan pendekatan untuk merehabilitasi lahan gersang.

"China memberikan contoh praktis tentang bagaimana kawasan gurun dapat diubah menjadi lingkungan produktif melalui perencanaan ilmiah dan penerapan secara bertahap," ujarnya.

AlAnazi mengatakan kerja sama lingkungan antara Arab Saudi dan China telah mengalami kemajuan signifikan, dengan ditandatanganinya nota kesepahaman bersama lembaga-lembaga penelitian China yang mengkhususkan diri dalam pengendalian desertifikasi.

"Kedua pihak juga telah melaksanakan program pelatihan dan lokakarya bersama serta bertukar keahlian dalam berbagai bidang, termasuk pemantauan vegetasi, bank benih dan teknologi perbaikan tanah," tambahnya.

Menurut pejabat tersebut, kerja sama kedua negara kini tidak hanya mencakup pertukaran pengetahuan konvensional, tetapi juga penerapan teknologi modern, termasuk teknologi satelit canggih dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Arab Saudi menghadapi tantangan lingkungan yang signifikan, terutama kelangkaan air dan curah hujan yang rendah, sehingga rehabilitasi lahan menjadi lebih kompleks dibandingkan dengan banyak negara lainnya.

Guna mengatasi tantangan ini, Arab Saudi mengambil serangkaian langkah untuk memulihkan lahan terdegradasi dan memperluas tutupan hijaunya.

Dalam kerangka Inisiatif Hijau Saudi, negara kerajaan itu sebelumnya mengumumkan telah merehabilitasi satu juta hektare lahan terdegradasi untuk pertama kalinya dan menanam lebih dari 159 juta pohon, sebagai bagian dari target jangka panjang untuk menanam 10 miliar pohon.

"Integrasi antara perencanaan ilmiah, pembelajaran dari pengalaman internasional, dan partisipasi masyarakat setempat memberikan landasan yang kuat bagi keberhasilan upaya lingkungan ambisius negara kerajaan ini," kata AlAnazi, seraya menambahkan bahwa Arab Saudi telah memobilisasi lebih dari 100.000 sukarelawan dalam kampanye penanaman pohon.

Selama beberapa dekade terakhir, China juga telah mencapai kemajuan signifikan dalam memerangi desertifikasi. AlAnazi mengatakan pengalaman China memberikan harapan bahwa hasil nyata dapat dicapai.

"Pencapaian China selama beberapa dekade menunjukkan bahwa kawasan gurun dapat diubah menjadi lingkungan yang lebih hijau melalui ilmu pengetahuan, ketekunan dan partisipasi masyarakat," tuturnya.

Ke depannya, AlAnazi mengatakan kerja sama lingkungan antara Arab Saudi dan China diperkirakan akan semakin diperluas, khususnya di bidang teknologi hijau dan pemantauan lingkungan.

Hal tersebut akan memungkinkan kedua negara mengatasi tantangan iklim dengan lebih baik serta mendorong pembangunan berkelanjutan. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait