AI skrining jantung hingga tes urine 30 detik, 832 proposal dari 62 negara masuk ‘Go Healthy with Taiwan 2026’

Jakarta (Indonesia Window) – Bisakah ponsel membaca strip tes urine dalam sekitar 30 detik? Bisakah kamera tiga dimensi dan kecerdasan buatan membantu menilai gejala Parkinson di wilayah pedesaan?

Gagasan seperti ini muncul dalam ‘Go Healthy with Taiwan 2026’, kompetisi inovasi kesehatan yang tahun ini menerima 832 proposal dari 62 negara.

Jumlah tersebut naik sekitar 30 persen dibandingkan edisi sebelumnya, yang mencatat 638 proposal dari 55 negara. Dari ratusan gagasan yang masuk, 20 semifinalis dari 16 negara terpilih dalam dua kategori: ‘Smart Healthcare’ serta ‘Sport Tech & Cycling’.

Direktur Taiwan Trade Center (TAITRA), Amy Hsiao, yang mengoordinasikan kompetisi tersebut, mengatakan kolaborasi lintas negara diharapkan menghubungkan kekuatan teknologi Taiwan dengan ide yang menjawab kebutuhan kesehatan nyata.

“Melalui Go Healthy with Taiwan, kami ingin mempertemukan kekuatan teknologi Taiwan dengan ide-ide inovatif dari berbagai negara untuk menjawab tantangan kesehatan yang nyata. Kami percaya bahwa kolaborasi lintas negara dapat mempercepat lahirnya solusi yang lebih praktis, mudah diakses, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Sekitar 70 persen semifinalis telah memasarkan produknya, sementara 45 persen berasal dari perusahaan kecil dan menengah. Inovasi mereka mencakup skrining berbasis AI, pemantauan tanda vital, dukungan diagnosis, serta teknologi yang membantu lansia mempertahankan kemandirian.

Horus ML dari Spanyol mengembangkan AI untuk skrining risiko penyakit jantung. Masima dari Brasil menggunakan AI untuk menganalisis citra CT dan MRI otak. Sementara itu, Neodocs dari India membuat teknologi berbasis ponsel pintar untuk membaca strip tes urine dalam sekitar 30 detik.

Solusi lain dirancang untuk daerah dengan akses kesehatan dan infrastruktur terbatas. Cardiac Centre Ethiopia mengembangkan sistem pendukung keputusan klinis yang dapat beroperasi tanpa koneksi internet. PragmaClin dari Kanada memanfaatkan kamera tiga dimensi dan AI untuk membantu penilaian gejala Parkinson di wilayah pedesaan.

Sejumlah inovasi juga menyasar kebutuhan lansia, mulai dari rekomendasi aktivitas fisik hingga deteksi saat penderita demensia berjalan tanpa arah. Ragam contoh ini menunjukkan bahwa manfaat teknologi kesehatan ditentukan pula oleh kemudahan penggunaan dan kecocokannya dengan kondisi di lapangan.

Ekosistem kesehatan digital Taiwan

Pengembangan kesehatan digital Taiwan didukung oleh infrastruktur yang dibangun selama puluhan tahun. Salah satunya National Health Insurance (NHI), sistem asuransi kesehatan nasional yang beroperasi sejak 1995 dan kini mencakup sekitar 99,9 persen penduduk Taiwan.

Cakupan tersebut mendukung pengembangan layanan digital dan pertukaran informasi kesehatan. Melalui NHI MediCloud, tenaga kesehatan dapat mengakses informasi medis pasien dari berbagai fasilitas, termasuk riwayat obat, pemeriksaan, hasil laboratorium, pencitraan medis, alergi, tindakan medis, dan vaksinasi.

Pada 2024, MediCloud telah digunakan di seluruh rumah sakit dan 98 persen klinik di Taiwan. Sistem itu mencatat rata-rata sekitar 1,23 juta pencarian setiap hari, sehingga tenaga kesehatan dapat melihat riwayat pelayanan pasien dengan lebih lengkap.

Taiwan juga mengembangkan pemanfaatan data dan AI untuk memperkirakan risiko penyakit kronis, termasuk diabetes dan penyakit kardiovaskular. Pendekatan ini membuka peluang untuk mendeteksi risiko dan melakukan intervensi lebih dini, sebelum kondisi pasien memburuk.

Selain itu, industri elektronik, semikonduktor, teknologi informasi dan komunikasi, serta perangkat medis menjadi fondasi pengembangan sensor, sistem pemantauan, komputasi, dan teknologi kesehatan terintegrasi.

Data pemerintah Taiwan yang dikutip dalam kajian ekosistem kesehatan digital negara itu mencatat nilai bisnis industri biomedis sekitar 830,1 miliar dolar Taiwan pada 2025, termasuk farmasi, alat kesehatan, bioteknologi, pengobatan regeneratif, dan kesehatan digital.

*1 dolar Taiwan = 556,27 rupiah

Peluang kerja sama dengan Indonesia

Pengalaman Taiwan menawarkan pelajaran bagi Indonesia yang memiliki tantangan geografis dan kesenjangan akses layanan kesehatan antardaerah.

Transformasi digital membutuhkan lebih dari sekadar aplikasi: sistem perlu dapat saling bertukar informasi, data pasien harus dikelola dengan aman, dan teknologi kesehatan perlu diuji untuk memastikan keamanan serta manfaat klinisnya.

Interoperabilitas, tata kelola data, perlindungan privasi, dan pemerataan akses menjadi bagian penting dari pengembangan teknologi kesehatan. Tanpa fondasi tersebut, manfaat AI berisiko lebih banyak dinikmati masyarakat yang sudah memiliki akses terhadap fasilitas dan teknologi memadai.

Melalui Go Healthy with Taiwan 2026, Taiwan berupaya menghubungkan kemampuan teknologi dan industrinya dengan kebutuhan inovator dari berbagai negara.

Kompetisi ini diselenggarakan oleh Taiwan Economic Ministry’s International Trade Administration (TITA) dan dilaksanakan oleh Taiwan External Trade Development Council (TAITRA).

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan teknologi kesehatan bukan hanya kecanggihan algoritma atau perangkatnya, melainkan sejauh mana teknologi membantu mendeteksi penyakit lebih dini, meningkatkan layanan, memperluas akses, dan mendukung masyarakat hidup lebih sehat.

Laporan: Redaksi

 

Bagikan

Komentar

Berita Terkait