
AI mulai dipakai untuk lindungi warisan dunia, Indonesia belajar dari China

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 4 April 2026 ini memperlihatkan pengunjung menikmati pemandangan saat liburan Festival Qingming di Desa Hongcun, wilayah Yixian, Kota Huangshan, Provinsi Anhui, China timur. (Xinhua/Du Yu)
Hefei, China (Xinhua/Indonesia Window) – Para pejabat dari China dan Indonesia sedang menjajaki bagaimana teknologi modern dapat berkontribusi pada konservasi dan pengelolaan situs warisan alam seiring dimulainya program pelatihan bagi para pejabat warisan dari negara-negara Sabuk dan Jalur Sutra di Huangshan, Provinsi Anhui, China timur.
Pembelajaran di lapangan di Huangshan dalam Seminar tentang Perlindungan dan Pengelolaan Situs Warisan Alam untuk Negara-Negara Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI) dibuka pada Selasa (15/9), mempertemukan para pejabat konservasi dan pengelolaan warisan dari 10 negara, termasuk Indonesia, Kamboja, dan Yordania, untuk bertukar pandangan tentang konservasi warisan, pengelolaan digital, dan keterlibatan masyarakat.
Diselenggarakan oleh Akademi Negara Administrasi Kehutanan dan Padang Rumput Nasional China serta komite pengelola Objek Wisata Huangshan, seminar yang berlangsung selama sepekan tersebut bertema ‘Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra untuk Kerja Sama Warisan Dunia, Pembelajaran Timbal Balik Antarperadaban untuk Masa Depan Bersama.’
Ini merupakan tahun keempat berturut-turut Huangshan terpilih sebagai lokasi pelatihan lapangan untuk program itu.
Terletak di bagian selatan Anhui, Huangshan terkenal dengan pohon pinusnya yang khas, formasi bebatuan yang spektakuler, lautan awan, dan mata air panas, serta tercatat sebagai Situs Warisan Dunia dan Alam UNESCO.
Huangshan menerima peringkat tertinggi dalam beberapa putaran penilaian di bawah Tinjauan Warisan Dunia Uni Internasional untuk Konservasi Alam (International Union for Conservation of Nature/IUCN).
Huangshan juga telah berpartisipasi dalam kerja sama internasional tentang konservasi warisan, termasuk memprakarsai Aliansi Kerja Sama Warisan Dunia Negara-Negara Anggota RCEP (RCEP-WHCA) dan menjalin kemitraan dengan situs warisan di seluruh dunia.
Bagi peserta Indonesia, pendekatan China dalam menyeimbangkan konservasi warisan dengan pariwisata berkelanjutan menjadi fokus perhatian khusus.
"Saya sangat tertarik pada bagaimana Huangshan mengelola pariwisata sembari melestarikan nilai-nilai alam dan budaya situs tersebut, serta bagaimana mereka melaksanakan perencanaan jangka panjang dan pengelolaan risiko," kata Bennasita Dyah Ramya, analis kebijakan di Kementerian Pariwisata Indonesia.
Dalam seminar itu, para peserta mempelajari bagaimana teknologi seperti kecerdasan buatan dan pemantauan berkelanjutan digunakan untuk mengamati dan menganalisis situs warisan serta mengidentifikasi potensi risiko.
Pendekatan tersebut juga dapat diterapkan untuk memantau unsur-unsur ekologis, termasuk tumbuhan dan hewan, serta faktor-faktor yang dapat menimbulkan risiko bagi situs warisan.
"Ini sesuatu yang benar-benar membuat saya tertarik, karena teknologi modern menjadi faktor penting dalam pengelolaan warisan," katanya.
Pejabat Indonesia, Muhammad Asad Nuzulul, analis kebijakan teknis di Kementerian Kehutanan Indonesia, mengatakan seminar tersebut menyediakan platform penting bagi para profesional warisan dari berbagai negara Sabuk dan Jalur Sutra untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Dirinya berharap pertukaran itu akan membantu para peserta mengeksplorasi solusi inovatif, memperdalam kerja sama internasional, dan bekerja sama untuk melindungi warisan tak tergantikan yang dimiliki bersama oleh umat manusia.
Huangshan ditetapkan sebagai basis pelatihan oleh Administrasi Kehutanan dan Padang Rumput Nasional China pada 2023. Sejak saat itu, daerah tersebut telah memberikan pelatihan kepada hampir 300 pejabat konservasi warisan dari negara-negara Sabuk dan Jalur Sutra.
Dalam program yang berlangsung selama sepekan itu, para peserta akan mengunjungi Huangshan, Desa Hongcun, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO, serta Museum Sejarah Huizhou dan Jalan Kuno Tunxi.
Kunjungan-kunjungan tersebut akan memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mempelajari lebih lanjut tentang pendekatan China dalam melestarikan, menjaga, dan memanfaatkan warisan alam dan budaya secara berkelanjutan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Sawah berusia lebih dari 5.300 tahun ditemukan di Zhejiang, China timur
Indonesia
•
10 Dec 2023

Ilmuwan China lakukan eksperimen deteksi lapisan es di Antartika
Indonesia
•
14 Mar 2025

Beda etnis, beda risiko penyakit pembuluh darah otak
Indonesia
•
13 Feb 2026

Pameran teknologi Dubai soroti kecerdasan buatan dalam layanan haji
Indonesia
•
22 Oct 2021


Berita Terbaru

Pesawat eksperimental NASA X-70 mampu angkut muatan 907 kilogram dan terbang 2.778 kilometer
Indonesia
•
06 Nov 2026

Dari Palung Jawa hingga polusi plastik: Potensi kerja sama riset laut dalam Indonesia-China tak terbatas
Indonesia
•
06 Nov 2026

Replika digital tubuh manusia bantu prediksi penyakit dan personalisasi pengobatan
Indonesia
•
07 Nov 2026

Feature – AI jadi tempat curhat baru, psikolog ingatkan risiko isolasi sosial dan salah diagnosis
Indonesia
•
07 Nov 2026
