
560 juta anak terpapar panas berbahaya, Asia Tenggara masuk kawasan paling rentan

Seorang anak bermain di antara pancuran air di Kuwait City, Kuwait, pada 7 Juni 2022. (Xinhua/Asad)
Helsinki, Finlandia (Xinhua/Indonesia Window) – Perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia membuat sekitar 560 juta anak di seluruh dunia terpapar setidaknya satu bulan tambahan panas berbahaya setiap tahun, dengan generasi yang lebih muda menanggung dampak yang tidak proporsional, kata Universitas Finlandia Timur (University of Eastern Finland/UEF) pada Kamis (27/8).
Studi yang dipimpin oleh Vrije Universiteit Brussel (VUB) dengan kontribusi para peneliti UEF tersebut menemukan bahwa sekitar 43 persen anak berusia 9 tahun ke bawah kini mengalami setidaknya 30 hari tambahan stres panas setiap tahun akibat perubahan iklim.
Jumlah tersebut dibandingkan dengan sekitar 190 juta orang berusia 60 hingga 69 tahun yang menghadapi peningkatan paparan panas yang sama, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances tersebut.
Penelitian tersebut berfokus pada panas lembap, yang sangat berbahaya karena kelembapan tinggi mengurangi kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri melalui keringat.
Anak-anak terutama sangat rentan karena tubuh mereka lebih cepat panas dibandingkan tubuh orang dewasa dan kurang efisien dalam mengatur suhu.
Panas ekstrem dapat menyebabkan dehidrasi dan sengatan panas, sementara paparan yang berkepanjangan juga dapat memengaruhi proses belajar dan perkembangan kognitif, kata para peneliti.
"Dampak perubahan iklim semakin nyata dan parah. Penelitian kami menunjukkan bahwa anak-anak dan generasi mendatang sangat terpapar dampak ini, dan kerugian yang mereka hadapi akan semakin parah tanpa adanya tindakan," kata Annalisa Savaresi, seorang profesor di UEF sekaligus salah satu penulis studi tersebut.
Peningkatan panas lembap terbesar yang didorong oleh perubahan iklim terjadi di sejumlah kawasan tropis dan negara-negara miskin, yang penduduknya cenderung lebih muda sehingga lebih banyak anak yang terpapar. Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Barat saat ini memiliki jumlah anak yang sangat tinggi yang terpapar stres panas berbahaya, kata para peneliti.
"Anak-anak di negara-negara berkembang menghadapi paparan yang tidak proporsional terhadap kondisi iklim ekstrem, baik saat ini maupun di masa depan, meskipun mereka memberikan kontribusi paling kecil terhadap emisi gas rumah kaca di masa lalu," kata Rosa Pietroiusti, penulis utama studi tersebut sekaligus peneliti PhD di VUB.
Para peneliti menyerukan pengurangan tajam emisi bahan bakar fosil untuk membatasi pemanasan global sesuai dengan Perjanjian Paris, serta peningkatan pendanaan iklim bagi negara-negara berkembang.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Akankah digitalisasi kemaritiman makin ‘moncer’ pasca COVID-19?
Indonesia
•
22 Apr 2020

Audit ungkap budaya perundungan mengakar di Kepolisian Australia
Indonesia
•
11 Jun 2026

Galeri Nasional Inggris peringati dua abad pendiriannya
Indonesia
•
13 May 2024

17 warga Palestina tewas dalam serangan Israel di Gaza
Indonesia
•
25 Sep 2024


Berita Terbaru

Feature – Di tengah hingar-bingar gim, seniman Jakarta menjaga ruang bagi karya fisik
Indonesia
•
23 Oct 2026

Tangkal sambaran petir, Bangladesh kampanyekan tanam pohon lontar
Indonesia
•
23 Oct 2026

Anggaran universitas Austria 312 triliun rupiah, mahasiswa protes kekurangan 39 triliun rupiah
Indonesia
•
24 Oct 2026

UGM gandeng dua universitas top China untuk kembangkan pendidikan dan riset
Indonesia
•
21 Oct 2026
