
Wawancara – Prof. Hikmahanto: AS, Israel perangi Iran untuk tumbangkan pemerintahan

Foto yang diabadikan pada 28 Februari 2026 ini memperlihatkan suasana di dekat Universitas Teheran pascaserangan di Teheran, Iran. (Xinhua)
Amerika Serikat dan Israel menghendaki perang terhadap Iran yang dimulai oleh negeri zionis itu pada 28 Februari 2026 agar terjadi pergantian pemerintahan dan pemusnahan senjata nuklir.
Jakarta (Indonesia Window) – Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran untuk menumbangkan pemerintahan serta pemusnahan senjata nuklir di negeri para mullah tersebut, kata Prof. Hikmahanto Juwana dalam wawancara tertulis dengan Indonesia Window pada Ahad.
Amerika Serikat dan Israel menghendaki perang terhadap Iran yang dimulai oleh negeri zionis itu pada 28 Februari 2026 agar terjadi pergantian pemerintahan dan pemusnahan senjata nuklir, ungkap Prof Hikmahanto, rektor Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) di Kota Cimahi, Jawa Barat.
“Saat ini Ali Khameini telah berhasil ditewaskan. Tinggal apakah Iran akan lebih militan melakukan serangan balasan atau akan menyerah,” kata Prof. Hikhanto, yang juga Guru Besar Hukum Internasional terkemuka di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI).
Terkait dengan Board of Peace (BoP/Dewan Perdamaian) yang dipimpin oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dewan tersebut seharusnya dimaksimalkan perannya, dan pers seharusnya bisa minta kepala badan tersebut agar dilakukan sidang darurat utk menyelesaikan perang terhadap Iran.
Menurut Prof. Hikmahanto, dengan gaya Donald Trump yang sulit diprediksi, yang sering melanggar hukum internasional dan sering memaksakan kehendaknya pada negara lain, terutama yang lemah, Indonesia sebaiknya keluar dari BoP.
Dengan adanya keinginan Presiden Prabowo yang ingin menjadi mediator dalam upaya penyelesaian masalah konflik Iran-AS/Israel, Prof. Hikmahanto berpendapat seharusnya presiden tidak melakukannya saat ini.
Dia menjelaskan, dengan tewasnya Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, AS dan zionis Israel merasa perang akan usai dan tidak membutuhkan mediator.
“Tapi kalau kalau tewasnya Ayatollah Seyyed Ali Khamenei membuat Iran semakin militan untuk melakukan serangan dan perang berlanjut lama, maka mungkin dibutuhkan peran mediator untuk menyelamatkan muka yang berkonflik supaya perang berhenti tapi tidak ditentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah,” jelasnya.
Menurut Kedutaan Besar Iran di Jakarta, permusahan AS terhadap negara di kawasan teluk tersebut, bukanlah hal baru, bahkan telah berakar sejak tujuh dekade lalu.
Intervensi, agresi, dan permusuhan AS terhadap Iran dimulai dari kudeta 19 Agustus 1953 yang menggulingkan pemerintahan Dr. Mohammad Mossadegh, perdana menteri saat itu.
Selanjutnya, AS melakukan sejumlah tindakan ofensif terhadap Iran, di antaranya memberlakukan sanksi politik dan ekonomi pada hari-hari awal Revolusi Islam Iran pada 1979, pembunuhan salah satu komandan militer senior Iran atas perintah langsung Presiden Donald Trump pada Januari 2020 di Baghdad (Irak), dan dukungan serangan oleh Israel terhadap Konsulat Republik Islam Iran di Damaskus, Suriah, pada April 2024.
Tindakan AS lainnya yang dilakukan terhadap Iran adalah membajak protes damai rakyat Iran pada Januari 2026 menjadi kerusuhan yang penuh kekerasan, hingga menyebabkan kematian 3.117 jiwa.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Menhan Australia: Indonesia mitra penting
Indonesia
•
06 Dec 2019

Jakarta bangun museum nabi terbesar di luar Saudi
Indonesia
•
12 Jul 2020

Fokus Berita – Diskusi alumni Taiwan di Indonesia ungkap dampak hubungan lintas selat terhadap ASEAN dan Indonesia
Indonesia
•
13 Sep 2024

Presiden terima medali kehormatan dari Komando Operasi Khusus AS
Indonesia
•
05 Aug 2025


Berita Terbaru

Indonesia dan Kamboja perangi penipuan daring global, ribuan pelaku telah ditindak
Indonesia
•
29 Jul 2026

Menaker: Dialog sosial jadi kunci penyelesaian isu ketenagakerjaan
Indonesia
•
29 Jul 2026

Indonesia–Korea Business Forum perkuat investasi energi hijau, teknologi strategis
Indonesia
•
29 Jul 2026

Bahaya! Batas aman planet global sudah terlampaui
Indonesia
•
29 Jul 2026
