
California tegaskan vaksin tidak berkaitan dengan autisme

Ilustrasi. (Mathurin NAPOLY / matnapo on Unsplash)
Vaksin tidak berkaitan dengan autisme, menurut peneliti independen di tujuh negara yang telah melakukan lebih dari 40 penelitian berkualitas tinggi yang melibatkan lebih dari 5,6 juta orang.
Sacramento, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Gubernur California Gavin Newsom dan Aliansi Kesehatan Pesisir Barat (West Coast Health Alliance) pada Selasa (25/11) menyatakan bahwa vaksin tidak berkaitan dengan autisme, menegaskan kembali pedoman kesehatan berbasis ilmu pengetahuan setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Disease Control and Prevention/CDC) AS mengubah sikapnya terkait isu kontroversial tersebut.West Coast Health Alliance, yang terdiri dari California, Oregon, Washington, dan Hawaii, menekankan bahwa "penelitian yang ketat terhadap jutaan orang di berbagai negara selama puluhan tahun memberikan bukti berkualitas tinggi bahwa vaksin tidak berkaitan dengan autisme," ungkap kantor Gubernur Newsom dalam sebuah pernyataan.Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr. secara pribadi menginstruksikan CDC AS untuk merevisi situs jejaringnya pada 19 November. Laman CDC yang diperbarui kemudian menegaskan bahwa klaim "vaksin tidak menyebabkan autisme" adalah hal yang "tidak berbasis bukti."Kennedy telah menentang vaksin sejak setidaknya tahun 2005, ketika dia memublikasikan "artikel yang sarat kesalahan" di majalah Rolling Stone dan situs jejaring Salon, mengeklaim bahwa thimerosal pengawet yang mengandung merkuri dalam vaksin menyebabkan autisme, kata Pusat Kebijakan Publik Annenberg (Annenberg Public Policy Center).Salon menarik kembali artikel tersebut pada 16 Januari 2011, mengakui adanya sejumlah ketidakakuratan. Menurut STAT News, teori thimerosal Kennedy "bertentangan dengan logika karena vaksin MMR tidak pernah mengandung thimerosal.""Warga Amerika berhak mendapatkan panduan kesehatan masyarakat yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, bukan opini," ujar Gubernur Newsom. Kennedy menyebut kesenjangan dalam penelitian keamanan vaksin sebagai pembenaran untuk perubahan tersebut, tetapi The New York Times melaporkan bahwa dia mengakui "penelitian epidemiologi yang ekstensif tidak menemukan kaitan dengan autisme."Para pakar medis mengungkapkan kekhawatiran serius terkait instruksi baru CDC. Menurut KFF Health News, para dokter dan ilmuwan mengatakan perubahan terbaru itu "memicu gelombang kemarahan dan kecemasan" dan bahwa Kennedy "merusak kredibilitas sebuah lembaga yang selama ini mereka andalkan untuk bukti ilmiah yang tidak memihak."Sejak 1998, peneliti independen di tujuh negara telah melakukan lebih dari 40 penelitian berkualitas tinggi yang melibatkan lebih dari 5,6 juta orang, seperti dilaporkan KFF Health News, yang semuanya menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin dan autisme.Campak dinyatakan telah lenyap dari AS pada 2000 setelah keberhasilan upaya vaksinasi, papar data CDC. Namun, per 18 November 2025, total 1.753 kasus terkonfirmasi campak dilaporkan di seluruh negara itu, menandai jumlah kasus tertinggi sejak 1992. Dari seluruh kasus yang dilaporkan, 92 persen pasien tidak divaksinasi atau status vaksinasinya tidak diketahui.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

NYP: Pengacara peringatkan dampak kereta tergelincir di Ohio picu "ledakan kanker"
Indonesia
•
24 Feb 2023

Fokus Berita – Bombardir Israel kian intensif, paksa warga Gaza City mengungsi ke selatan
Indonesia
•
17 Sep 2025

Kisah – Pemuda Gaza daur ulang limbah kopi jadi pupuk ramah lingkungan
Indonesia
•
26 Jan 2023

Pejabat Uganda sebut negaranya buat kemajuan dalam perang lawan Ebola
Indonesia
•
05 Dec 2022


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
