
Thailand perketat pemeriksaan Ebola di sektor penerbangan usai WHO tetapkan darurat kesehatan

Seorang penumpang berjalan di Bandara Internasional Suvarnabhumi di Bangkok, Thailand, pada 1 Maret 2022. (Xinhua/Rachen Sageamsak)
Otoritas Thailand mengimbau masyarakat untuk menghindari perjalanan nonesensial ke RD Kongo dan Uganda serta wilayah berisiko tinggi di sekitarnya.
Bangkok, Thailand (Xinhua/Indonesia Window) – Otoritas Penerbangan Sipil Thailand (Civil Aviation Authority of Thailand/CAAT) pada Kamis (21/5) mengatakan bahwa pihaknya telah meningkatkan langkah-langkah pengawasan dan pencegahan terhadap penyakit virus Ebola di dalam sistem penerbangan sipil negara tersebut.
Langkah tersebut dilakukan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah virus Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional akibat risiko penularan lintas perbatasan.
Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand pada Rabu (20/5) menetapkan kedua negara Afrika tersebut sebagai zona penyakit menular berbahaya untuk virus Ebola, yang mendorong penerapan langkah-langkah skrining dan respons terkoordinasi dalam sektor penerbangan sipil.
Dalam sebuah pernyataan, CAAT mengungkapkan bahwa pihaknya telah bergabung dalam sesi perencanaan dengan Divisi Pengendalian dan Karantina Penyakit Menular Internasional di bawah kementerian tersebut, bersama maskapai penerbangan dan pemangku kepentingan lainnya guna menyelaraskan protokol kesehatan masyarakat di seluruh sektor.
Otoritas setempat mengimbau masyarakat untuk menghindari perjalanan nonesensial ke RD Kongo dan Uganda serta wilayah berisiko tinggi di sekitarnya. Warga yang harus bepergian wajib mendaftar melalui sistem Thai Health Pass, sementara warga negara asing harus mengisi Kartu Kedatangan Digital Thailand secara akurat untuk mendukung pelacakan kontak dan pemantauan penyakit.
Maskapai penerbangan yang mengoperasikan rute yang terhubung dengan wilayah-wilayah terdampak telah diinstruksikan untuk memberi tahu penumpang mengenai persyaratan kesehatan masyarakat, melakukan pemeriksaan penumpang di titik keberangkatan, serta membagikan data tempat duduk dan perjalanan penumpang kepada petugas pengendalian penyakit guna memungkinkan penindaklanjutan secara cepat.
Divisi karantina juga telah melakukan simulasi rencana respons untuk kasus-kasus suspek yang teridentifikasi di dalam pesawat maupun setelah tiba di Thailand, menetapkan prosedur koordinasi antara maskapai penerbangan, bandara, otoritas kesehatan, dan lembaga pendukung untuk memastikan kontinuitas operasional serta membatasi gangguan operasional.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Korban tewas akibat gempa magnitudo 7,3 di Taiwan bertambah jadi 10 orang
Indonesia
•
05 Apr 2024

Tim dokter sebut kondisi legenda sepak bola Pele tidak memburuk
Indonesia
•
04 Dec 2022

Kisah – Dua puluh tahun kemudian, akhirnya masuk Universitas Islam Madinah
Indonesia
•
01 Aug 2026

PBB: Pasokan kemanusiaan yang masuk ke Gaza sangat terbatas
Indonesia
•
25 Oct 2023


Berita Terbaru

Feature – Rumah prefabrikasi bantu korban gempa Xizang di China punya hunian nyaman dalam 3 hari
Indonesia
•
27 Oct 2026

Untuk pertama kalinya, demensia jadi penyebab lebih dari 10 persen kematian di Australia
Indonesia
•
27 Oct 2026

Kampung Silat Betawi Rawa Belong diresmikan sebagai Kampung Budaya 2026
Indonesia
•
25 Oct 2026

7 orang hilang usai gedung bertingkat runtuh di Kenya, pencarian berlanjut
Indonesia
•
25 Oct 2026
