
Ilmuwan kembangkan material seringan bulu untuk atasi kelangkaan air global

Warga Sudan mengambil air dari Sungai Nil di dekat lingkungan permukiman Al-Hattana di Omdurman City, sebelah utara ibu kota Sudan, Khartoum, pada 25 Mei 2025.
Struktur nanopori aerogel mempercepat penangkapan air dan memungkinkan pelepasan energi rendah pada suhu hanya 50 derajat Celsius, menjadikannya ideal untuk daerah yang kekurangan air.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim ilmuwan internasional telah menciptakan nanomaterial yang sangat ringan dan mampu secara efisien menarik sejumlah besar air layak konsumsi dari uap air di udara.Nanomaterial itu, aerogel oksida grafena dengan kalsium yang ditingkatkan, mengisap uap air lebih dari tiga kali lebih cepat daripada teknologi yang ada saat ini serta menahan lebih dari tiga kali bobotnya sendiri di dalam air, menurut pernyataan dari University of New South Wales (UNSW) pada Senin (23/6).Proyek ini, yang dipimpin oleh Australian Research Council Center of Excellence for Carbon Science and Innovation (ARC COE-CSI) dan melibatkan peraih Nobel Profesor Kostya Novoselov yang berbasis di National University of Singapore, menemukan bahwa memasukkan ion kalsium ke dalam oksida grafena menghasilkan sinergi molekuler yang tak terduga, menurut pernyataan tersebut.Sinergi ini memperkuat ikatan hidrogen, memungkinkan adsorpsi air yang jauh lebih tinggi daripada yang dapat dicapai oleh salah satu komponen saja, yang disebut oleh para peneliti sebagai efek "1+1>2", menurut pernyataan itu."Ikatan hidrogen yang lebih kuat dari perkiraan ini adalah salah satu pemicu kemampuan ekstrem material ini untuk mengisap air," kata Ren Xiaojun dari UNSW School of Material Science and Engineering, penulis utama studi ini.Struktur nanopori aerogel mempercepat penangkapan air dan memungkinkan pelepasan energi rendah pada suhu hanya 50 derajat Celsius, menjadikannya ideal untuk daerah yang kekurangan air, kata para peneliti. Disebutkan pula bahwa dengan 2,2 miliar orang mengalami kekurangan air minum yang aman di seluruh dunia, teknologi ini dapat memanfaatkan reservoir atmosfer 13 juta gigaliter yang dimiliki Bumi."Teknologi kami akan dapat diterapkan di wilayah mana pun yang memiliki kelembapan yang cukup namun memiliki akses atau ketersediaan air bersih yang terbatas," kata Associate Professor Rakesh Joshi dari UNSW.Studi yang dipublikasikan di Proceedings of National Academy of Sciences (PNAS) ini menggabungkan pendekatan eksperimental dan teoretis, memanfaatkan superkomputer Infrastruktur Komputasi Nasional Australia di Canberra untuk simulasi tingkat lanjut, ujar para peneliti.Para mitra industri bekerja untuk meningkatkan skala teknologi ini, yang dikembangkan oleh tim yang terdiri dari Australia, China, Jepang, Singapura, dan India.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti kembangkan plester untuk organ tubuh, fasilitasi pengantaran obat
Indonesia
•
05 May 2025

China ciptakan sistem pendaratan terkendali untuk pendorong roket
Indonesia
•
13 Jun 2023

Anak yang lebih bugar berpotensi lebih rendah alami depresi saat dewasa
Indonesia
•
02 Oct 2026

COVID-19 – Hasil uji vaksin Rusia ketiga keluar pertengahan Desember
Indonesia
•
17 Oct 2020


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
