Serangan di bandara Riyadh tewaskan 12 orang dan lukai 309 lainnya saat Houthi-Arab Saudi saling serang

Foto yang diabadikan menggunakan ponsel pada 19 September 2026 ini memperlihatkan kepulan asap tebal yang membubung di dekat Bandar Udara Internasional King Khalid di Riyadh timur laut, Arab Saudi. (Xinhua)

Riyadh/Sanaa, Arab Saudi/Yaman (Xinhua/Indonesia Window) – Serangan yang menargetkan Bandar Udara (Bandara) Internasional King Khalid di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, pada Sabtu (10/10) sore waktu setempat menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya, demikian disampaikan Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi, ketika kelompok Houthi Yaman dan Arab Saudi terus saling melancarkan serangan terhadap bandara-bandara utama.

Dalam pernyataan pada Ahad (11/10) dini hari, otoritas penerbangan Arab Saudi mengatakan bahwa korban tewas mencakup empat warga negara Arab Saudi dan delapan warga asing yang tinggal di negara tersebut, yakni dua warga Bangladesh serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.

Para korban luka sedang menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, dengan beberapa di antaranya dalam kondisi serius, kata otoritas tersebut.

Dalam pernyataan sebelumnya, otoritas tersebut mengungkapkan bahwa operasional bandara telah dihentikan sementara sembari menunggu penilaian kerusakan dan pemeriksaan keselamatan.

Menyusul serangan pada Sabtu tersebut, kelompok Houthi menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya siap mengambil langkah timbal balik dengan Arab Saudi untuk menjaga agar bandara, pelabuhan laut, dan fasilitas lain yang memiliki fungsi kemanusiaan tetap berada di luar konfrontasi militer yang kian meningkat.

Saluran televisi al-Masirah yang dikelola Houthi pada Sabtu melaporkan bahwa Arab Saudi melancarkan gelombang baru serangan udara dan rudal di berbagai wilayah Yaman yang dikuasai Houthi. Serangan tersebut menargetkan Bandar Udara Internasional Sanaa di ibu kota yang dikuasai Houthi, wilayah di dekat Selat Bab al-Mandab yang strategis, serta sejumlah provinsi di Yaman utara.

Pada Sabtu yang sama, pasukan pemerintah Yaman mengatakan bahwa lebih dari 1.150 pejuang Houthi telah "dilumpuhkan" dan lebih dari 180 kendaraan militer dan logistik dihancurkan atau dirusak dalam lebih dari 1.900 serangan di berbagai front di Yaman selama 24 jam terakhir.

Angka-angka tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.

Di sekitar Kota Taiz di Yaman barat daya, kemajuan kelompok Houthi telah meningkatkan tekanan terhadap pasukan pemerintah yang mempertahankan kota tersebut serta mengganggu jalur-jalur utama yang menghubungkannya dengan wilayah-wilayah di Yaman selatan yang dikuasai pemerintah, demikian disampaikan sumber-sumber militer pemerintah kepada Xinhua, seraya menambahkan bahwa bentrokan sengit sedang berlangsung di sebelah selatan kota tersebut.

Dengan dukungan serangan udara Arab Saudi, pemerintah Yaman melancarkan serangan besar-besaran pada Senin (5/10) untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Sebagian pertempuran paling sengit terkonsentrasi di sekitar Selat Bab al-Mandab yang strategis.

Yaman dilanda konflik sejak akhir 2014, ketika kelompok Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara Yaman.

Koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, yang kini berkedudukan di kota pelabuhan Aden di Yaman selatan.

Pertempuran yang kembali berkobar tersebut menandai eskalasi besar setelah gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022 sebagian besar menghentikan permusuhan berskala besar.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait