
Salor Papua Selatan berpotensi jadi sentra pertanian modern lewat kerja sama Indonesia-China

Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, M Iftitah Sulaiman, dan Duta Besar China untuk Indonesia, Wang Lutong, mengunjungi kawasan transmigrasi di Salor, Provinsi Papua Selatan, pada Selasa (2/6/2026). (Sumber: Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia)
Kawasan transmigrasi di Salor mencakup sekitar 40.000 hektare lahan yang merupakan salah satu sentra produksi pangan di Papua Selatan.
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Indonesia dan China terus menjajaki peluang kerja sama di bidang pertanian dalam kunjungan Kementerian Transmigrasi (Kementrans) Republik Indonesia (RI) dan Kedutaan Besar (Kedubes) China untuk Indonesia ke wilayah pengembangan transmigrasi di Salor, Provinsi Papua Selatan, pada awal pekan ini.
Dalam keterangan resminya, Kementrans menyebut kedua negara berencana berkolaborasi membangun pusat riset padi dan sekolah vokasi pertanian di Salor untuk mendukung swasembada pangan dan peningkatan kualitas pendidikan masyarakat Papua Selatan.
Kedua pihak juga membahas peluang pengembangan industri pendukung pertanian, termasuk potensi pembangunan fasilitas produksi alat dan mesin pertanian di Merauke. Hal ini seiring adanya masukan dari pemerintah setempat mengenai kebutuhan terhadap fasilitas perbaikan untuk alat-alat pertanian.
Kawasan transmigrasi di Salor mencakup sekitar 40.000 hektare lahan yang merupakan salah satu sentra produksi pangan di Papua Selatan. Dengan dukungan teknologi dan infrastruktur yang memadai, kawasan ini dinilai berpotensi meningkatkan kontribusinya terhadap ketahanan pangan nasional.
Salor di Papua Selatan menjadi pemberhentian pertama dari rencana agenda kunjungan bersama Kementrans dan Kedubes China ke empat kawasan transmigrasi, yang selanjutnya akan mengunjungi Raja Ampat di Papua Barat Daya, Halmahera Utara di Maluku Utara, dan Manggarai Barat di Nusa Tenggara Timur. Bukan hanya ketahanan pangan, Kementrans menyebut kunjungan ini menjadi bagian dari penjajakan peluang kerja sama dengan China di bidang pengentasan kemiskinan, pendidikan vokasi, perdagangan, investasi, serta pengembangan pariwisata.
Agenda ini merupakan bentuk kerja sama lebih lanjut antara kedua pihak setelah sebelumnya Kementrans mengirim sebanyak 36 peserta ke China, terdiri atas pegawai Kementrans hingga akademisi, untuk mempelajari pengalaman China dalam pengembangan kawasan transmigrasi dan pengentasan kemiskinan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Presiden harapkan seluruh negara dapat akses setara untuk vaksin COVID-19
Indonesia
•
23 Sep 2020

Indonesia dorong tindak lanjut penguatan hubungan bilateral dengan Australia
Indonesia
•
24 Nov 2023

COVID-19 – Ada lebih dari 1.000 kluster di seluruh Indonesia
Indonesia
•
18 Sep 2020

Indonesia-Jepang tandatangani kerja sama transisi energi
Indonesia
•
11 Jan 2022


Berita Terbaru

Presiden Prabowo perintahkan harga khusus BBM untuk Nelayan Kapal 30–200 GT
Indonesia
•
15 Jul 2026

Fokus Berita – Forum Wakaf Produktif dan OIC Youth Indonesia dorong kolaborasi talenta, inovasi berkelanjutan
Indonesia
•
15 Jul 2026

Kemnaker petakan kebutuhan industri Jepang untuk perluas peluang kerja bagi tenaga kerja Indonesia
Indonesia
•
14 Jul 2026

Danantara tunjuk konsorsium Indonesia-China kembangkan delapan proyek pengolahan sampah jadi listrik
Indonesia
•
14 Jul 2026
