Rusia peringatkan Korsel agar tidak biayai pasokan senjata ke Ukraina

Foto yang diabadikan pada 10 Maret 2022 ini memperlihatkan Kremlin di Moskow, Rusia. (Xinhua/Bai Xueqi)

NATO meluncurkan program PURL pada musim panas lalu sebagai respons terhadap perubahan kebijakan Amerika Serikat terkait pasokan senjata gratis ke Ukraina.

 

Moskow, Korea Selatan (Xinhua/Indonesia Window) – Partisipasi Korea Selatan (Korsel) dalam inisiatif "PURL" NATO untuk mengalokasikan dana bagi Ukraina guna membeli senjata justru hanya akan menghambat prospek penyelesaian konflik Rusia-Ukraina, seperti disampaikan Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Rusia Maria Zakharova pada Sabtu (21/2).

"Ini akan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada hubungan antara Rusia dan Korsel," ujar Zakharova, seraya menambahkan bahwa Rusia akan terpaksa menggunakan haknya untuk melakukan pembalasan.

Menurut Zakharova, Moskow terkejut dengan berita tentang kemungkinan partisipasi Seoul dalam program itu, karena hal tersebut bertentangan dengan posisi resminya.

Zakharova mengatakan bahwa Rusia menghargai sikap resmi Korsel untuk tidak berpartisipasi dalam upaya "kolektif Barat" untuk memasok senjata dan amunisi ke angkatan bersenjata Ukraina, memandangnya sebagai prasyarat untuk pemulihan hubungan Rusia-Korsel di masa depan.

The Korea Times pada Jumat (20/2) mengutip sumbernya di Kementerian Luar Negeri Korsel, melaporkan bahwa NATO telah mendekati pihak berwenang Korsel dengan permintaan untuk bergabung dalam inisiatif PURL.

NATO meluncurkan program PURL pada musim panas lalu sebagai respons terhadap perubahan kebijakan Amerika Serikat (AS) terkait pasokan senjata gratis ke Ukraina. Mekanisme program tersebut adalah Kyiv mengajukan permintaan darurat untuk senjata, dan anggota NATO membiayai pembeliannya dari AS.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait