
Tim peneliti Australia luncurkan aplikasi kesejahteraan berbasis neurosains

Foto yang diabadikan pada 30 Oktober 2024 ini menunjukkan bunga jacaranda yang sedang mekar di dekat Sydney Opera House di Sydney, Australia. (Xinhua/Ma Ping)
ReNeuWell merupakan aplikasi seluler berbasis neurosains yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan dan resiliensi orang dewasa.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia) – Tim peneliti Australia meluncurkan ReNeuWell, aplikasi seluler berbasis neurosains yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan dan resiliensi orang dewasa.Aplikasi yang dikembangkan oleh Neuroscience Research Australia (NeuRA) dan University of New South Wales (UNSW) itu menawarkan program yang dipersonalisasi dan didukung oleh bukti untuk mendorong perkembangan mental dan saat ini sedang menjalani uji klinis berskala besar, menurut sebuah rilis UNSW pada Senin (16/6).Hal itu merepresentasikan upaya kolaboratif antara akademisi dan industri untuk memenuhi kebutuhan kesehatan mental global, urai rilis tersebut.Tidak seperti perangkat kesehatan mental konvensional yang berfokus pada pengelolaan tekanan, ReNeuWell bertujuan mendorong perkembangan mental melalui pendekatan yang dipersonalisasi dan berbasis bukti, imbuh rilis tersebut.Aplikasi ini dirancang berdasarkan Skala Kesejahteraan COMPAS-W (COMPAS-W Wellbeing Scale), sebuah pengukuran tervalidasi yang menilai aspek hedonis atau subjektif (ketenangan, kepositifan, dan kepuasan hidup) serta eudaimonia atau psikologis (martabat, penguasaan diri, dan pencapaian) dari kesejahteraan, yang memungkinkan pengguna memperoleh profil yang disesuaikan dan program individual, menurut tim peneliti."Aplikasi ini dirancang bagi siapa saja yang mencari cara untuk memahami dan meningkatkan tingkat kesejahteraan mental mereka sendiri," ujar Associate Professor Justine Gatt, direktur Center for Wellbeing, Resilience and Recovery di NeuRA dan School of Psychology UNSW.ReNeuWell menghadirkan program aktivitas harian selama empat pekan, termasuk kewawasan, meditasi, pelatihan welas asih pada diri sendiri, dan penetapan tujuan, yang semuanya didasarkan pada ilmu saraf dan penelitian psikologis, papar Gatt, sembari menambahkan bahwa uji klinis selama 12 pekan saat ini merekrut 500 partisipan orang dewasa dari masyarakat umum.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pengurus Besar Mathla'ul Anwar bersilaturahim dengan Ketua MPR
Indonesia
•
23 Jan 2025

Ramadan 1447H - Ketua DPRD Kota Bogor sebut santri generasi unggulan Indonesia karena kaji Al-Qur'an
Indonesia
•
11 Mar 2026

Tambahan dua korban gempa berhasil diselamatkan oleh tim SAR China-Turkiye
Indonesia
•
11 Feb 2023

Kisah – Aktif donasikan darah, sukarelawan Australia jalin ‘ikatan darah’ dengan China
Indonesia
•
06 Feb 2023


Berita Terbaru

UNESCO tambah 25 Warisan Dunia baru, tiga situs terdampak konflik ditetapkan lewat prosedur darurat
Indonesia
•
29 Jul 2026

Stok darah O di AS tinggal kurang dari sehari, Palang Merah umumkan krisis nasional
Indonesia
•
29 Jul 2026

Kali pertama dalam 42 tahun, populasi warga negara Jepang turun di bawah 120 juta
Indonesia
•
29 Jul 2026

Feature – Dari Sungai Cisadane, tradisi perahu naga terus mengayuh lintas generasi
Indonesia
•
27 Jul 2026
