
Tim ilmuwan China ungkap evolusi organ makan pada gajah purba

Seekor gajah Asia liar mencari makan di sebuah pohon mangga di wilayah Jiangcheng, Provinsi Yunnan, China barat daya, pada 20 Juli 2023. (Xinhua/Lyv Shuai)
Proses evolusi gajah purba terungkap melalui penelitian terhadap Platybelodon, sebuah genus gajah purba dengan rahang bawah berbentuk seperti sekop, mengembangkan pola makan menggulung tanaman dengan belalainya kemudian memotong tanaman dengan rahang bawahnya.
Beijing, China (Xinhua) – Tim ilmuwan China baru-baru ini mengungkap proses evolusi unik pada organ makan gajah purba melalui penelitian terhadap rahang bawah dan belalai, sebut Science and Technology Daily pada Jumat (1/12).Pada awal Zaman Miosen Tengah, sekitar 15 juta tahun yang lalu, Platybelodon, sebuah genus gajah purba dengan rahang bawah berbentuk seperti sekop, mengembangkan pola makan menggulung tanaman dengan belalainya kemudian memotong tanaman dengan rahang bawahnya. Ini merupakan bukti paling awal bahwa belalai gajah memiliki fungsi menggulung.Para ilmuwan dari Institut Paleontologi dan Paleoantropologi Vertebrata, yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China, merekonstruksi perilaku makan dari kelompok-kelompok utama gajah purba longirostrine melalui penyelidikan fungsional dan ekomorfologis komparatif, serta analisis preferensi makan.Mereka menemukan bahwa gajah purba dengan berbagai bentuk rahang bawah memiliki kemampuan adaptasi ekologis yang berbeda. Ketika lingkungan berangsur-angsur menjadi kering dan dingin, Platybelodon yang memakan tumbuh-tumbuhan beradaptasi dengan daerah yang relatif terbuka, yang mengarah pada pengembangan fungsi dan fleksibilitas menggenggam pada belalai, menurut Wang Shiqi, peneliti dari institut tersebut.Wang lebih lanjut menjelaskan bahwa adaptasi perilaku makan di lingkungan terbuka menjadi katalisator evolusi fungsi menggenggam pada belalai gajah. Gajah hanya mengandalkan belalai mereka untuk makan di daerah terbuka, yang akhirnya mengakibatkan kemunduran organ makan sebelumnya, yaitu rahang bawah dan gigi pemotong bawah.Studi ini telah diterbitkan dalam jurnal eLife.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan temukan spesies nyamuk Papua Nugini yang hilang 90 tahun lalu di Australia
Indonesia
•
09 Jun 2022

Sampel Bulan Chang'e-6 terbuka untuk aplikasi domestik
Indonesia
•
07 Nov 2024

China bangun antena pertama untuk susunan teleskop radio terbesar di dunia
Indonesia
•
02 Oct 2023

Tingkat kelangsungan hidup pengidap kanker di China meningkat di tengah kesenjangan perawatan regional
Indonesia
•
21 Nov 2024


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
