Produsen panel surya besar tingkatkan produksi karena biaya material turun

Seorang pria terlihat di pasar yang menjual panel surya di Damaskus, ibu kota Suriah, pada 12 September 2022. Semakin banyak masyarakat Suriah yang memilih untuk memasang sistem kelistrikan bertenaga surya karena memburuknya situasi kelistrikan di negara tersebut. (Xinhua/Ammar Safarjalani)
Produksi panel surya besar meningkat menyusul jatuhnya harga material selama lebih dari setahun ini, sehingga dapat membantu negara-negara mengurangi ketergantungan mereka pada bahan bakar fosil dan berpotensi menurunkan harga listrik.
Jakarta (Indonesia Window) – Beberapa produsen panel surya besar saat ini sedang meningkatkan produksi untuk menggenjot energi bersih, menyusul jatuhnya harga material yang terjadi terus menerus selama lebih dari setahun.Tiga produsen modul China terkemuka meningkatkan perkiraan output Januari, menurut Shanghai Metals Market, yang tidak mengidentifikasi sumbernya. Sementara permintaan jangka pendek yang menjanjikan adalah faktor lain yang mendorong peningkatan output.JA Solar Technology Co. memiliki harapan yang lebih positif untuk pasar tenaga surya pada kuartal ini dibandingkan sebelumnya, kata perusahaan tersebut dalam pesan WeChat, meski tidak menyebutkan apakah akan meningkatkan produksi. Pesaing utama Longi Green Energy Technology Co. dan Jinko Solar Co., tidak segera menanggapi permintaan komentar. Asosiasi Industri Fotovoltaik China menolak berkomentar.Dunia berlomba melawan perubahan iklim, tetapi mengakses panel surya telah menjadi tantangan di beberapa pasar termasuk Amerika Serikat (AS). Lonjakan panel dengan harga murah akan membantu negara-negara mengurangi ketergantungan mereka pada bahan bakar fosil dan berpotensi menurunkan harga listrik.Permintaan panel tenaga surya telah meningkat selama beberapa tahun, tetapi sejumlah pabrikan lumpuh pada tahun 2021 dan 2022 oleh peningkatan biaya material yang langka untuk polysilicon — bahan utama untuk sebagian besar panel.Tapi masalah itu dengan cepat memudar. Beberapa pabrik polysilicon baru beroperasi pada akhir tahun lalu, dan biaya material telah turun lebih dari sepertiga sejak pertengahan November 2022, menurut BloombergNEF. Harga wafer – kotak polisilikon ultra tipis yang disatukan untuk membuat panel – telah turun lebih tajam.Biaya wafer turun sebanyak 21 persen pekan lalu, dengan beberapa produsen memangkas aktivitas hingga serendah 55 persen karena profitabilitas mereka terancam, kata Asosiasi Industri Silikon China dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (5/1) pekan lalu.Harga polysilicon anjlok ke level 145 yuan (21,10 dolar AS) per kilogram pekan tersebut, dari level tertinggi tahun lalu sebesar 306 yuan, kata asosiasi tersebut dalam pernyataan terpisah pada Rabu (4/1).*1 yuan = 2.281 rupiah**1 dolar AS = 15.433 rupiahSumber: BloombergLaporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Busana Muslim, kain Kalimantan peluang produk UMKM Indonesia di Thailand
Indonesia
•
18 Feb 2025

ADB luncurkan rencana 6 tahun baru untuk bantu Filipina capai pertumbuhan berkelanjutan
Indonesia
•
08 Sep 2024

BRI cerminkan komitmen China terhadap kerja sama dan pembangunan bersama
Indonesia
•
26 Jul 2023

Taiwan izinkan impor makanan Jepang terdampak nuklir Fukushima
Indonesia
•
21 Feb 2022
Berita Terbaru

Mata uang lokal dorong pertumbuhan kawasan industri aglomerasi Semarang
Indonesia
•
05 Feb 2026

Kunjungan turis China ke Indonesia capai 1,34 juta, naik 12 persen pada 2025
Indonesia
•
03 Feb 2026

Nilai perdagangan Indonesia-China naik 13 persen pada 2025
Indonesia
•
03 Feb 2026

OPEC+ tahan lagi produksi minyak dunia hingga Maret 2026, pasar global masih ditinjau
Indonesia
•
02 Feb 2026
