Pria mulai alami perubahan besar di usia 35–45, wanita 55–65, ini temuan studi terbaru

Ilustrasi. (Bruno Aguirre on Unsplash)

Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi terbaru dari China menemukan bahwa pria dan wanita mengalami proses penuaan dengan cara yang sangat berbeda. Petunjuk mengenai perbedaan tersebut tersembunyi dalam hasil tes darah dan pemeriksaan kesehatan rutin.

Studi yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Nature Aging tersebut dilakukan bersama oleh para peneliti dari Pusat Bioinformasi Nasional China (CNCB) di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (CAS), Institut Zoologi CAS, Rumah Sakit Xuanwu yang berafiliasi dengan Universitas Kedokteran Ibu Kota, serta sejumlah lembaga lainnya.

Para peneliti menganalisis data kesehatan lebih dari 104.000 orang dewasa berusia 18 hingga 98 tahun di seluruh China.

Mereka berfokus pada 172 parameter kesehatan yang umum diukur, seperti berat badan, kolesterol, dan kadar gula darah.

Berdasarkan data tersebut, mereka menyusun ‘jam penuaan’ khusus untuk menunjukkan kapan tubuh manusia mengalami perubahan terbesar seiring bertambahnya usia.

Mereka menemukan bahwa pada pria, titik balik terpenting terjadi antara usia 35 dan 45 tahun. Selama periode tersebut, metabolisme mengalami perubahan yang cukup nyata. Indeks massa tubuh meningkat, disertai kenaikan kadar trigliserida dan kolesterol.

Pada wanita, perubahan besar terjadi lebih belakangan, yakni antara usia 55 dan 65 tahun, bertepatan dengan masa menopause.

Pada tahap tersebut, wanita mengalami perubahan hormonal yang signifikan, disertai peningkatan kadar lemak dan kolesterol. Namun, meski memiliki pola penuaan yang berbeda, perbedaan fisik antara pria dan wanita cenderung berkurang seiring bertambahnya usia.

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa sejumlah zat dalam darah, termasuk glukosa, lipid, asam urat, serta dua penanda yang berkaitan dengan tumor, yakni CEA dan HE4, terakumulasi seiring bertambahnya usia dan berkaitan dengan percepatan penuaan biologis.

Untuk menguji temuan ini, para ilmuwan memaparkan sel-sel pembuluh darah manusia pada kadar zat-zat tersebut yang lebih tinggi di laboratorium. Sel-sel itu kemudian mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan yang jelas, yang mengindikasikan bahwa faktor-faktor tersebut bukan sekadar penanda penuaan, tetapi mungkin juga turut menyebabkan proses penuaan.

Namun, ada kabar yang menggembirakan. Para peneliti menemukan bahwa beberapa efek penuaan mungkin dapat dipulihkan. Sebagai contoh, metformin, obat yang umum digunakan untuk mengobati diabetes, membantu melindungi sel dari kerusakan akibat penuaan yang disebabkan oleh kadar glukosa tinggi.

Dalam percobaan lain, tikus yang kembali menjalani pola makan normal setelah sebelumnya diberi makanan tinggi lemak menunjukkan perbaikan yang jelas pada kondisi penuaan hati.

"Temuan ini menunjukkan bahwa mengurangi stres metabolisme, misalnya dengan memperbaiki pola makan atau mengendalikan kadar glukosa darah, dapat menjadi strategi potensial untuk memperlambat penuaan," kata Xiong Muzhao, peneliti dari CNCB.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa mengurangi beban metabolisme yang berkaitan dengan usia mungkin menjadi strategi yang menjanjikan untuk mendukung proses penuaan yang sehat.

Temuan ini juga menyoroti pentingnya penilaian dan intervensi yang disesuaikan berdasarkan jenis kelamin sepanjang rentang kehidupan, kata Li Jiaming, peneliti dari CNCB. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait