
PM Selandia Baru kunjungi Antarktika, soroti tantangan perubahan iklim

Foto dari udara yang diabadikan pada 1 Desember 2019 ini menunjukkan kapal pemecah es kutub milik China Xuelong dan Xuelong 2 di area yang dekat dengan Stasiun Zhongshan China di Antarktika. (Xinhua/Liu Shiping)
Perubahan iklim di Antarktika tampak semakin jelas, mendorong Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern untuk berkunjung ke benua es ini, seraya menekankan komitmen negaranya terhadap Kutub Selatan, dan kebutuhan akan kerja sama regional.
Jakarta (Indonesia Window) – Perdana Menteri Jacinda Ardern mengunjungi para ilmuwan di Pangkalan Scott Selandia Baru di Antarktika pada Kamis, sebagai bagian dari perjalanan yang bertujuan untuk menyoroti tantangan perubahan iklim, komitmen negaranya terhadap benua es tersebut, dan kebutuhan akan kerja sama regional.Setelah tiba pada Rabu (26/10) di awal perjalanannya yang memakan waktu 72 jam, Ardern mengatakan dalam sebuah rekaman yang dikirim semalam bahwa kehadiran Selandia Baru di Antarktika berada pada "titik kritis" karena operasi pangkalan itu akan segera berakhir.“Peran yang kami mainkan, dan para ilmuwan kami mainkan di sini, sangat penting untuk masa kini dan masa depan kami” katanya dalam kunjungan yang menandai ulang tahun ke-65 Pangkalan Scott.Tahun lalu, Selandia Baru mengumumkan telah mengalokasikan 344 juta dolar Selandia Baru (sekitar 200,72 juta dolar AS) untuk membangun kembali pangkalan tersebut, guna mendukung kehadiran Selandia Baru di Kutub Selatan selama 50 tahun ke depan."(Antarktika) menjadi wilayah yang semakin diperebutkan di mana kita harus menjaga dan melindungi integritas bagian dunia yang rapuh ini," kata Ardern dalam sebuah pernyataan yang mengumumkan perjalanannya.Selandia Baru mempertahankan klaim atas wilayah Ross Dependency, atau sekitar 15 persen dari benua itu.“Kerja sama di Antarktika dan Sistem Perjanjian Antarktika lebih penting dari sebelumnya saat kita mengatasi krisis perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati,” tambah Ardern.Dalam beberapa tahun terakhir, baik Rusia dan China telah berinvestasi dalam kemampuan dan kehadiran mereka di Antarktika, dan pemerintah Barat telah menanggapi dengan cara yang sama.Awal tahun ini, Australia, yang memegang klaim terbesar di Antarktika, mengumumkan rencana untuk menghabiskan lebih dari 804 juta dolar Australia (522,04 juta dolar AS) untuk membeli drone dan helikopter, serta mendirikan stasiun bergerak (mobile) untuk memperkuat kepentingannya di sana.“Apa yang (Ardern) lakukan adalah menandai, secara harfiah dan metaforis, komitmen berkelanjutan Selandia Baru terhadap klaim teritorialnya di Antarktika, kehadirannya di Antarktika, dan komitmennya untuk beroperasi di Antarktika,” kata Alan Hemmings, spesialis yang berbasis di Christchurch tentang pemerintahan Antarktika di University of Canterbury.Sementara Ardern mengunjungi benua es tersebut, pertemuan internasional besar tentang konservasi Antarktika sedang berlangsung di Hobart, Australia. Dampak perubahan iklim di Antarktika telah menjadikannya lokasi penting untuk penelitian.Pekan ini, U.S. Fish and Wildlife Service memberikan penguin kaisar (emperor penguin) perlindungan spesies yang terancam punah.*1 dolar Selandia Baru = 9.083 rupiah**1 dolar AS = 15.555 rupiah***1 dolar Australia = 10.097 rupiahSumber: ReutersLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Taiwan tetapkan level asam lemak glisidil dalam produk makanan pada 2024
Indonesia
•
05 Feb 2022

Umroh pada pembukaan tahap pertama hanya tiga jam per jamaah
Indonesia
•
25 Sep 2020

Forum Pengungsi Global sepakati komitmen senilai 2,2 miliar dolar AS
Indonesia
•
16 Dec 2023

Laporan AP sebut narapidana hasilkan lebih dari 250 juta dolar AS untuk Alabama sejak tahun 2000
Indonesia
•
26 Dec 2024


Berita Terbaru

Feature – ‘Becoming Chinese’ di Kunming, perjalanan menelusuri akar budaya seorang ‘blogger’ Tionghoa-Amerika
Indonesia
•
30 Apr 2026

Indonesia-China perkuat kerja sama pendidikan vokasi dalam Forum CITIEA 2026
Indonesia
•
28 Apr 2026

Volume kelima buku ‘Xi Jinping: Tata Kelola China’ edisi bahasa Inggris dipromosikan di Indonesia
Indonesia
•
28 Apr 2026

Afghanistan berisiko kehilangan 25.000 guru dan nakes perempuan per 2030
Indonesia
•
29 Apr 2026
