
Media Australia sebut AS akan jadi pecundang terbesar dalam perang tarif Trump

Seorang karyawan menata sejumlah komoditas di sebuah supermarket di Canberra, Australia, pada 6 Maret 2025. (Xinhua/Zhang Na)
Pihak yang paling dirugikan dalam perang tarif yang dilancarkan oleh Trump adalah Amerika Serikat sendiri, meskipun belum ada negara atau mata uang yang dapat langsung menggantikan dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Amerika Serikat (AS) akan menjadi pihak yang paling dirugikan dalam perang tarif yang dilancarkan oleh Trump, meskipun dolar Australia dan saham-sahamnya jatuh, menurut sebuah analisis yang dilakukan oleh Australian Broadcasting Corporation (ABC).Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS akan memasuki "era keemasan" saat pelantikannya tiga bulan lalu. "Namun, era keemasan yang banyak digembar-gemborkan itu justru akan mendorong AS ke jurang resesi," kata analisis tersebut pada Selasa (8/4)."Tindakan ceroboh dan amatir dari pemerintahan Trump telah menyeret dunia ke arah yang berbahaya," tulis artikel tersebut."Butuh waktu hampir 80 tahun untuk membangun jaringan perdagangan global yang dianggap Trump 'merugikan AS'. Dapatkah itu dihancurkan dalam enam pekan? Tidak, tanpa konsekuensi serius yang bisa mencakup runtuhnya kekuasaan AS," lanjutnya.Meskipun belum ada negara atau mata uang yang dapat langsung menggantikan dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia, "Trump telah merusak reputasi dan posisi negaranya," imbuh artikel itu."AS memang ekonomi terbesar di dunia dan kekuatan militer global. Namun, AS dipenuhi berbagai masalah," kata analisis ABC itu, seraya menambahkan bahwa lebih dari setengah abad kebijakan ekonomi "menetes ke bawah" (trickle-down) dan ekonomi yang bebas dari intervensi pemerintah (laissez-faire) telah menciptakan ketimpangan kekayaan dan pendapatan yang ekstrem, penurunan standar hidup, serta meningkatnya angka kematian bagi negara itu.AS "mengalami ketimpangan keuangan yang besar, baik di dalam negeri maupun secara internasional, melalui defisit anggaran dan perdagangan," bunyi analisis itu, seraya menambahkan bahwa "Trump tidak menciptakan masalah-masalah itu. Namun, bukan hanya gagal mengatasinya pada masa jabatan pertamanya, dia justru memanfaatkannya dengan sangat lihai untuk menimbulkan perpecahan internal demi keuntungan politik."Kini, Trump mengalihkan fokus ke luar negeri, di mana obsesinya terhadap ketidakseimbangan perdagangan yang dianggap sebagai sesuatu yang "merugikan" adalah "tidak hanya keliru, tapi juga berpotensi sangat membahayakan." tulis ABC.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Kamboja perkirakan 4,6 juta penumpang udara pada 2023 usai pembukaan kembali China
Indonesia
•
15 Jan 2023

Jumlah investor saham baru bertambah 1 juta SID sepanjang 2021
Indonesia
•
02 Sep 2021

Harga batubara turun selama COVID-19
Indonesia
•
06 Apr 2020

Impor jeruk Indonesia dari China meningkat pada Januari 2024 berkat perayaan Tahun Baru Imlek
Indonesia
•
20 Feb 2024


Berita Terbaru

Area hutan dunia terus menyusut, target hutan global masih jauh dari memadai
Indonesia
•
12 May 2026

Nafta langka, produsen makanan ringan terkemuka Jepang gunakan kemasan hitam-putih
Indonesia
•
12 May 2026

China bisa jadi penopang prospek ekonomi Indonesia di tengah risiko perlambatan
Indonesia
•
11 May 2026

Bank Sentral Malaysia dan Indonesia teken MoU untuk perdalam kerja sama
Indonesia
•
11 May 2026
