Perusahaan sarang burung walet Indonesia bangun basis manufaktur cerdas di Shanghai

Ilustrasi. (Lukáš Kadava on Unsplash)

Shanghai, China (Xinhua/Indonesia Window) – Perusahaan sarang burung walet yang dapat dikonsumsi (edible bird's nest/EBN) asal Indonesia, Yan Taitai, baru-baru ini mengumumkan peningkatan komprehensif strategi mereka di China, beralih dari ‘pemasok terintegrasi untuk seluruh rantai industri EBN Indonesia’ menjadi ‘penyedia layanan inovatif untuk seluruh rantai industri EBN.’

Hal tersebut dilakukan seiring dengan ekspansi lebih lanjutnya ke pasar China.

Saat ini, Yan Taitai telah merampungkan pembangunan sebuah basis manufaktur cerdas di Distrik Fengxian, Shanghai, dan secara bersamaan merencanakan Tahap II dari kawasan industri bersama.

Kawasan industri tersebut akan mencakup seluruh rantai industri, termasuk penelusuran bahan baku, produksi dan pengolahan, inovasi penelitian dan pengembangan (litbang), serta layanan saluran distribusi.

Dengan memanfaatkan Tahap II kawasan industri itu sebagai wadah fisik untuk peluncuran strategisnya, Yan Taitai Group berencana untuk membangun Institut Penelitian Pangan Kesehatan Besar (Big Health Food Research Institute).

Menurut Presiden Yan Taitai Group Li Li, perusahaan tersebut sedang bertransisi dari model pasokan produsen peralatan asli (original equipment manufacturer/OEM) tradisional ke kerangka kerja kerja sama baru yang berfokus pada pemberdayaan terintegrasi di seluruh rantai dan penciptaan bersama industri yang mendalam.

Perusahaan itu akan membangun sebuah arsitektur layanan teknis tiga tingkat, yang terdiri dari “pengujian dasar, litbang yang disesuaikan, dan penciptaan bersama gabungan”, untuk melayani merek-merek pada berbagai tahap pengembangan, mulai dari perusahaan rintisan (start-up), perusahaan mapan, dan para pemimpin industri.

Sementara itu, Yan Taitai akan bekerja sama dengan universitas-universitas terkemuka di China, termasuk Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China Timur (East China University of Science and Technology) dan Universitas Jiangnan, untuk membangun laboratorium bersama.

Laboratorium-laboratorium tersebut akan membantu mengonversi penelitian ilmiah mutakhir dan mencakup seluruh alur kerja, mulai dari pengujian bahan baku, registrasi khasiat, hingga formula ODM yang disesuaikan, sehingga secara signifikan mempersingkat siklus litbang produk bagi klien.

Yan Taitai juga meluncurkan ‘Rencana Ekspansi Lima Tahun Rumah Sarang Burung Walet Indonesia,’ yang bertujuan untuk memperluas kerja sama hingga 500 rumah sarang burung walet terstandardisasi di masa mendatang.

Semua fasilitas yang berpartisipasi akan secara ketat mematuhi standar regulasi setempat di Indonesia untuk penilaian, pengujian, dan ketertelusuran yang seragam. Inisiatif ini melengkapi siklus industri dari hulu hingga hilir (end-to-end) yang menghubungkan “rumah sarang burung walet - pusat pengolahan primer di Indonesia - pusat perdagangan global - kawasan industri domestik - konsumen akhir,” sehingga secara berkelanjutan memperkuat kendali merek atas kualitas asal produk.

"Saat ini, permintaan konsumen akan EBN berkualitas tinggi terus meningkat di tengah persaingan pasar yang semakin ketat. Inovasi dan kerja sama akan menjadi pendorong penting untuk mencapai pengembangan berkualitas tinggi di industri EBN dalam lima tahun ke depan," ujar Li.

Dirinya mencatat bahwa peluncuran tata letak strategis baru dan ekosistem kolaboratif ini bukan hanya menandai tonggak penting dalam pengembangan Yan Taitai, tetapi juga menjadi titik awal baru untuk memperdalam kerja sama dan mengejar pertumbuhan bersama dengan para mitra industri.

Duta Besar Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun, memberikan apresiasi penuh kepada Yan Taitai karena secara ketat mematuhi standar industri China dan Indonesia serta memastikan pengendalian mutu di seluruh rantai pasokan.

Dia menyatakan harapannya agar Yan Taitai akan terus menjadi tolok ukur industri, mendorong industri EBN Indonesia dari ekspor berbasis volume menuju peningkatan berbasis kualitas, sekaligus memperdalam kerja sama industri bilateral sehingga sarang burung walet yang dapat dikonsumsi asli Indonesia dapat menjangkau lebih banyak rumah tangga di China. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait