
Petani sayuran Eropa terancam gagal panen karena krisis energi

Foto dari udara yang diabadikan pada 31 Agustus 2022 ini menunjukkan ladang pertanian yang terdampak kekeringan di Staffordshire, Inggris. Selama musim panas, infrastruktur di Inggris berada di bawah tekanan yang meningkat di tengah suhu panas, dengan sektor pertanian terganggu akibat kekurangan air. (Xinhua/Jon Super)
Pertanian sayuran Eropa terancam gagal panen karena krisis energi yang menghantam benua itu, disertai lonjakan biaya pupuk, pengemasan dan transportasi.
Jakarta (Indonesia Window) – Emmanuel Lefebvre menghasilkan ribuan ton endive (andewi), sayur sejenis selada, di lahan pertaniannya di Prancis utara setiap tahun. Namun tahun ini pertaniannya mungkin mengalami gagal panen karena biaya energi – yang diperlukan untuk membekukan umbi yang dipanen – mulai melanda Eropa.Di seluruh Eropa utara dan barat, produsen sayuran sedang mempertimbangkan untuk menghentikan kegiatan mereka karena pukulan finansial dari krisis energi Eropa, yang semakin mengancam pasokan makanan.Lonjakan harga listrik dan gas akan berdampak pada tanaman yang ditanam selama musim dingin di rumah kaca yang dipanaskan seperti tomat, paprika dan mentimun, dan tanaman yang perlu ditempatkan di penyimpanan dingin, seperti apel, bawang, dan endive.Endive sangat haus energi. Setelah umbi dipanen pada musim gugur, mereka disimpan dalam suhu di bawah titik beku dan kemudian ditanam kembali dalam wadah yang dikontrol suhu untuk memungkinkan produksi sepanjang tahun.“Kami benar-benar bertanya-tanya apakah kami akan memanen apa yang ada di ladang musim dingin ini,” kata Lefebvre baru-baru ini kepada Reuters di lokasi di mana endivesnya dikemas.Petani Eropa telah memperingatkan kekurangan produk pertanian. Ancaman terhadap produksi pertanian dan lonjakan harga berarti supermarket terpaksa beralih ke sumber dari negara-negara yang lebih hangat seperti Maroko, Turki, Tunisia, dan Mesir.Lonjakan harga gas adalah biaya terbesar yang dihadapi petani sayuran di dalam rumah kaca, kata petani. Sementara itu, dua petani Prancis yang memperbarui kontrak listrik mereka untuk tahun 2023 mengatakan bahwa mereka harus menanggung harga lebih dari 10 kali lipat dari tahun 2021.“Dalam beberapa pekan mendatang saya akan menyiapkan rencana musim dingin ini, tetapi saya tidak tahu harus berbuat apa,” kata Benjamin Simonot-De Vos, yang menanam mentimun, tomat, dan stroberi di selatan Paris. “Jika tetap seperti ini, tidak ada gunanya memulai satu tahun lagi. Itu tidak berkelanjutan.”
Foto yang diabadikan pada 31 Agustus 2022 ini menunjukkan ladang pertanian yang terdampak kekeringan di Staffordshire, Inggris. Selama musim panas, infrastruktur di Inggris berada di bawah tekanan yang meningkat di tengah suhu panas, dengan sektor pertanian terganggu akibat kekurangan air. (Xinhua/Jon Super)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Arab Saudi pengekspor kurma utama di dunia, nilainya capai 4.651 triliun rupiah
Indonesia
•
28 May 2022

Praktisi: UMKM berisiko tinggi, perlu terapkan "SOP" untuk tingkatkan kualitas produk
Indonesia
•
10 Sep 2024

Provinsi Zhejiang di China timur targetkan produksi 1,2 juta lebih NEV pada 2025
Indonesia
•
02 Feb 2023

Opini – Bioekonomi seimbangkan konservasi dan pembangunan ekonomi
Indonesia
•
06 Mar 2025


Berita Terbaru

PM Albanese sebut pasokan bahan bakar Australia akan semakin sulit dalam beberapa bulan mendatang
Indonesia
•
27 Mar 2026

Netflix jajaki pasar Rusia lagi, mulai dari pendaftaran merek dagang
Indonesia
•
27 Mar 2026

Jepang mulai lepas cadangan minyak negara untuk redam dampak ketegangan Timur Tengah
Indonesia
•
27 Mar 2026

Harga bahan bakar di Kamboja terus naik saat konflik masih berlanjut di Timur Tengah
Indonesia
•
27 Mar 2026
