Peristiwa di Gaza timbulkan belokan sejarah yang sangat tajam

Direktur  Yayasan Persahabatan & Studi Persaudaraan (YPSP), DR. Ahed Abu Al Atta, menyampaikan sambutan dalam acara konferensi 'Ramadan Menyatukan Kita/Palestina dan Indonesia Satu Hati', di Jakarta, pada Rabu, 4 Maret 2026. (Indonesia Window/Ronald Rangkayo)

Sebelum genosida terjadi di Gaza, penjajah Israel terus-menerus melancarkan aksinya untuk mematikan isu tentang Palestina agar tidak tersebar lebih luas lagi.

 

Jakarta (Indonesia Window) – Peristiwa yang terjadi di Palesina saat ini  telah menimbulkan pembelokan sejarah yang sangat tajam, kata Direktur  Yayasan Persahabatan & Studi Persaudaraan (YPSP), DR. Ahed Abu Al Atta, dalam acara konferensi 'Ramadan Menyatukan Kita/Palestina dan Indonesia Satu Hati', di Asrama Haji Jakarta Timur pada Rabu, 4 Maret 2026.

Sebelum genosida terjadi di Gaza, penjajah Israel itu terus-menerus melancarkan aksinya untuk mematikan isu tentang Palestina agar tidak tersebar lebih luas lagi, ungkap DR. Ahead.

Setelah datang 'Tufan Al Aqsa' di 2023, isu ke-Palestina-an muncul kembali kepermukaan serta semakin memperkuat umat Islam, setelah sebelumnya menurun. kata DR. Ahed, seraya menambahkan 'Tufan Al Aqsa' juga mengubah titik strategi yang dilakukan oleh zionis.  

Hal tersebut mengguncang rencana mereka untuk menguasai Palestina, dan setelah terjadinya genosida di Gaza pun banyak tentara zionis yang hilang akal sehatnya, hilang kewarasannya, dia menjelaskan.

“Pembunuhan keji tersebut terjadi karena mereka tahu bahwa kedaan mereka (tentara zionis) semakin lemah, serta dalam keadaan bahaya dan akhirnya mereka melakukan sesuatu secara membabi buta, membunuh saudara-saudara kita  yang ada di sana termasuk wanita dan anak-anak,” ujarnya.

Mereka juga menghancurkan masjid, gereja dan rumah sakit serta fasilitas umum lainnya, kata DR. Ahed, seraya menjelaskan, sampai sekarang pembantaian itu masih terjadi di jalur Gaza oleh penjajah zionis terhadap warga Palestina walaupun sudah ada kesepakatan genjatan senjata yang masih berlangsung.

 “Namun kesepakatan tersebut hanya kertas yang ditandatangani dan sampai sekarang masih banyak sekali agresi-agresi yang dilakukan oleh penjajah zionis terhadap saudara-saudara kita di Gaza,” katanya.

 Menurut DR. Ahed, penjajah zionis terus berusaha sekuat mungkin agar gencatan senjata itu tidak terlaksana dengan menahan bantuan, menutup perbatasan masuk ke dalam kawasan, dan menggangu para pejuang, para pekerja kemanusian yang ada di Gaza.

 “Dan agresi-agresi yang dilakukan oleh zionis bersama Amerika Serikat terhadap Iran sekarang itu bukan semata-mata tidak terkait Palestina,” ungkapnya.

 Sebagai salah satu contoh adalah bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sudah berazam, dia bertekad menghancurkan, melepaskan semua program-program kemanusiaan yand di lalakukan di Jalur Gaza untuk meringankan luka-luka warga Gaza, katanya.

 "Zionis Israel sudah tahu bahwasanya mereka kalah di Gaza, mereka tidak bisa menang melawan pejuang-pejuang yang ada di Gaza, maka mereka mencari perspektif baru, mencari panggung baru dengan menyerang Iran agar terekspos, dan membuat gambaran bahwasanya Israel menang melawan Iran karena mereka sudah gagal melawan pejuang-pejuang yang ada di Gaza,” tuturnya.

 Menurutnya, salah satu tujuan mengapa Israel melakukan agresi terhadap negara-negara sekelilingnya yang salah satunya adalah Iran adalah agar mereka merealisasikan rencana Israel yang akan mencaplok banyak daerah-daerah yang ada di Timur Tengah.

“Dan agresi atau penderitaan itu bukan hanya dirasakan oleh saudara-saudara kita yang ada di Gaza, melainkan juga seluruh rakyat Palestina di mana pun mereka berada akibat serangan penjajah zionis seperti di Tepi Barat. Di sana penjajah mendirian checkpoint-checkpoint untuk memeriksa orang-orang Palestina yang diperlakukan tidak adil,” jelasnya.

Begitu pun di Al Quds dan Masjid Al Aqsa tempat suci ketiga umat Islam tidak luput dari penjajahan, katanya seraya menerangkan, zionis Israel terus menekan Masjid Al Aqsa, menekan orang-orang yang ada di sana, dan mereka ingin menghilangkan seluruh operasi-operasi yang mendukung Palestina.

Begitu mereka melakukan ‘yahudisasi’ Al Aqsa seperti apa yang mereka lakukan beberapa waktu lalu yaitu sebuah ritual yang menodai kesucian Masjidil Aqsa, dan mereka setiap hari melakukan penerobosan ke rumah ibadah suci umat Islam, lanjut DR. Ahed.

Dia mengungkapkan, apa yang sudah mereka lakukan terhadap Palestina, setidaknya ada tiga poin tujuan mereka. Pertama, mengusir secara paksa rakyat Palestina dari tanah mereka sendiri.

“Kedua, zionis Israel ingin memperluas pemukiman-pemukiman ilegal, agar orang-orang Yahudi di sana bertambah dan mereka bisa melakukan pendzoliman terhadap saudara-saudara kita yang ada di Gaza,” katanya lagi.

Tujuan yang ketiga mereka adalah ‘yahudisasi’ Al Quds dan Masjid Al Aqsa serta berencana untuk membangun sebuah kuil yang dinamakan Haikal Sulaiman dan itu adalah suatu penodaan masjid Alaqsa, menurut DR. Ahed.

“Karenanya, berdasarkan tiga poin tersebut harus ada langkah-langkah untuk melawan gerakan zionis yang sangat bengis itu. Setidaknya kita harus mengucilkan dan meninggalkan zionis dengan apapun yang kita bisa,” katanya. 

Seperti yang terlihat sekarang, perpolitikan dunia mulai berbelok. Negeri-negri di Eropa seperti Belanda yang awalnya pro pada zionis mulai mundur satu-persatu, mereka mulai meninggalkan zionis yang selalu membunuh orang-orang yang ada di Gaza, mereka melanggar hak-hak azasi manusia, melanggar hak-hak azasi rakrayat, dan mereka membunuh manusia tanpa pandang bulu.

“Oleh karena itu, harus ada kepemimpinan untuk gerakan besar yang bertujuan guna mengucilkan zionis Israel,” katanya.  

Berikutnya yang harus dilakukan adalah memperkuat keteguhan dari rakyat yang ada di Gaza, untuk menggagalkan rencana zionis dan apabila rakyat Gaza kuat maka perjuangan akan terus berjalan, jelasnya.

“Dan juga Allah Subhana Wa Ta’ala sudah menjanjikan pada saatnya Masjid Al Aqsa dan Al Quds akan dibebaskan dan akan kembali lagi ke tangan kaum Muslim,” tambahnya.

 Menurutnya, para pejuang Palestina selalu mengikuti aturan-aturan yang ada, aturan-aturan hak-hak manusia, dan aturan-aturan internasional yang sesuai dengan kaidah yang ada.

 Tidak seperti zionis yang selalu berkhianat, dan yang selalu melanggar perjanjian yang ada, pejuang Palestina berbuat dengan satu tujuan  yaitu menjaga kesucian Masjid Al Aqsa.

 Sekali lagi direktur YPSP itu menyambut para hadirin pada pertemuan solidaritas bagi Palestina dan mengingatkan bahwa Indonesia dan Palestina adalah satu hati.

 Dia juga berterima kasih kepada rakyat Indonesia yang berada paling depan membela rakyat Gaza, rakyat Palestina dalam perjuangan mereka.

 Dalam kesempatan tersebut, DR Ahed mengatakan bahwa dia mewakili seluruh rakyat Gaza baik yang ada di Palestina maupun di Indonesia.     

Laporan: Redaksi                  

Bagikan

Komentar

Berita Terkait