
IMF desak AS kurangi defisit fiskal yang tinggi dan turunkan utang

Foto yang diabadikan pada 6 April 2021 ini menunjukkan eksterior kantor pusat Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Ting Shen)
Pembayaran bunga bersih pemerintah federal AS mencapai 2,4 persen dari PDB, dan pembayaran bunga tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 3,2 persen dari PDB pada tahun fiskal 2024, terutama karena tingkat suku bunga yang lebih tinggi.
Washington, AS (Xinhua) – Dana Moneter Internasional (IMF) pada Kamis (11/7) mendesak pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mengurangi defisit fiskalnya yang tinggi dan mengarahkan utang ke jalur penurunan, seraya menekankan kembali saran organisasi tersebut setelah rampungnya Misi Pasal IV (Article IV Mission) 2024 belum lama ini oleh staf IMF ke negara tersebut."AS perlu mengambil tindakan untuk mengurangi defisit fiskalnya yang tinggi dan mengarahkan utang ke jalur penurunan. Perlu saya sampaikan bahwa kami telah menyoroti isu-isu ini selama beberapa waktu," ungkap Juru Bicara (Jubir) IMF Julie Kozack dalam sebuah taklimat pers.Kozack menyampaikan bahwa pada 2021 dan 2022, AS telah meloloskan undang-undang (UU) fiskal yang signifikan, yang diharapkan memiliki dampak positif berkelanjutan dalam membentuk kembali ekonomi AS. Di saat yang sama, defisit fiskal saat ini terlalu tinggi."Ini adalah waktu yang tepat, terutama karena ekonomi sedang kuat, untuk mengambil tindakan guna mengarahkan (rasio) utang terhadap PDB ke jalur penurunan yang menentu," katanya.Jubir IMF itu juga menyatakan bahwa pada tahun fiskal 2023, pembayaran bunga bersih pemerintah federal AS mencapai 2,4 persen dari PDB, dan pembayaran bunga tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 3,2 persen dari PDB pada tahun fiskal 2024, terutama karena tingkat suku bunga yang lebih tinggi."Melihat lebih jauh lagi ke depan, estimasi kami adalah pembayaran bunga bersih diperkirakan akan tetap tinggi bahkan dalam jangka menengah. Dan hal itu berdasarkan defisit fiskal primer yang tinggi dan utang publik yang dihasilkan," ujar Kozack menanggapi pertanyaan dari Xinhua."Dan karena alasan inilah kami juga mendesak AS agar mengambil tindakan untuk mengurangi defisit dan utangnya saat ini," tutur Kozack.Suku bunga acuan di AS tetap berada di kisaran tertinggi dalam 22 tahun yaitu 5,25 persen hingga 5,5 persen, seperti yang disetujui oleh Federal Reserve (The Fed) AS pada Juli tahun lalu. Karena terjadinya kemunduran dalam progres inflasi sebelumnya pada tahun ini, The Fed diperkirakan akan menurunkan suku bunga lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya, sehingga meningkatkan beban defisit dan utang AS.Pertemuan The Fed selanjutnya dijadwalkan digelar pada 30-31 Juli. FedWatch Tool dari Chicago Mercantile Exchange (CME) Group, yang berperan sebagai barometer ekspektasi pasar terhadap target suku bunga acuan The Fed, menunjukkan bahwa hingga Kamis, probabilitas The Fed untuk mempertahankan suku bunga dalam pertemuan Juli tersebut lebih dari 95 persen. Probabilitas untuk pemangkasan suku bunga pada pertemuan September diperkirakan sebesar 66 persen.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Tingkat pengangguran di AS naik pada April 2024 seiring lambatnya pertumbuhan lapangan kerja
Indonesia
•
05 May 2024

Transaksi ‘mobile money’ di Kenya stagnan pada 2023 di tengah inflasi tinggi
Indonesia
•
23 Jan 2024

Minyak menguat saat pasokan ketat dan penyulingan AS meningkat
Indonesia
•
26 May 2022

LIPI: Ekonomi Indonesia 2020 Melambat
Indonesia
•
20 Dec 2019


Berita Terbaru

PM Takaichi: Jepang akan lepas cadangan minyak paling cepat Senin
Indonesia
•
12 Mar 2026

Harga listrik Singapura akan naik di tengah konflik Timur Tengah
Indonesia
•
12 Mar 2026

Selandia Baru Akan lepas pasokan bahan bakar setara 6 hari di bawah rencana minyak IEA
Indonesia
•
12 Mar 2026

Australia akan lepaskan 762 juta liter bahan bakar
Indonesia
•
13 Mar 2026
