
Studi: Perubahan iklim picu meningkatnya kekeringan salju

Foto dari udara yang diabadikan dengan 'drone' pada 8 Maret 2025 ini menunjukkan pemandangan salju di wilayah Gande, Prefektur Otonom Etnis Tibet Golog, Provinsi Qinghai, China barat laut. (Xinhua/Qi Zhiyue)
Pemanasan global kemungkinan akan memicu kekeringan salju yang lebih sering di masa mendatang, menimbulkan risiko terbesar bagi ekosistem dan infrastruktur air.
Urumqi, Daerah Otonomi Uighur Xinjiang (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi baru memperingatkan bahwa pemanasan global kemungkinan akan memicu kekeringan salju yang lebih sering di masa mendatang.Studi yang dipimpin oleh para peneliti dari Institut Ekologi dan Geografi Xinjiang di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China tersebut baru-baru ini dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters.Kekeringan salju terjadi ketika jumlah lapisan salju tercatat sangat rendah untuk musim tersebut. Fenomena ini diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yakni ‘kering’ (diakibatkan oleh curah hujan musim dingin yang di bawah normal), ‘hangat’ (disebabkan oleh suhu yang lebih hangat sehingga menyebabkan hujan alih-alih salju, atau pencairan salju lebih awal meski level curah hujan normal), dan ‘gabungan’ (kombinasi dari kondisi kering dan hangat).Dengan menggunakan proyeksi iklim multimodel, para peneliti menganalisis tren jangka panjang dalam frekuensi kekeringan salju di bawah berbagai skenario emisi. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam fenomena kekeringan salju hingga akhir abad ini. Pada 2100, frekuensi kekeringan salju dapat meningkat tiga kali lipat pada skenario menengah SSP2-4.5 dan meningkat empat kali lipat pada skenario emisi tinggi SSP5-8.5, dibandingkan dengan data dasar pada 1981.Secara khusus, kekeringan salju yang hangat diperkirakan akan mendominasi tren di masa mendatang. Per 2050, kekeringan tersebut dapat mencakup sekitar 65 persen dari seluruh fenomena kekeringan salju. Berdasarkan skenario SSP5-8.5, frekuensi kekeringan salju yang hangat dapat meningkat hingga 6,6 kali lipat, sementara fenomena gabungan kondisi kering-hangat, yang menimbulkan risiko terbesar bagi ekosistem dan infrastruktur air, diperkirakan menjadi 3,7 kali lebih lazim terjadi.Penelitian itu juga mengungkapkan bahwa, secara spasial, daerah dengan lintang menengah dan tinggi diproyeksikan akan mengalami kekeringan salju yang lebih sering dan intens.Temuan-temuan tersebut memberikan wawasan ilmiah yang signifikan untuk menginformasikan strategi keamanan air dan upaya adaptasi iklim di seluruh dunia, papar studi itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Teleskop FAST China temukan bukti keberadaan gelombang gravitasi nanohertz
Indonesia
•
05 Jul 2023

Rusia luncurkan roket untuk kirim 55 satelit ke orbit
Indonesia
•
07 Nov 2024

Platform pemuliaan cerdas tanaman diluncurkan di China selatan
Indonesia
•
14 Mar 2024

Sampah rumah tangga disulap jadi listrik hijau di Hunan, China
Indonesia
•
24 Apr 2026


Berita Terbaru

Ilmuwan peringatkan karhutla bisa rusak permanen permafrost Bumi
Indonesia
•
13 Jun 2026

Makhluk laut ini menyerap karbon seperti hutan Amazon, rahasianya baru terungkap
Indonesia
•
12 Jun 2026

Mengapa es Antarktika mencair lebih cepat? Ilmuwan akhirnya punya jawabannya
Indonesia
•
11 Jun 2026

Feature – Teknologi canggih dukung upaya konservasi panda di China
Indonesia
•
11 Jun 2026
