
PBB bantah anggapan gen muda enggan menikah, masalah utamanya ternyata ekonomi

Sebuah keluarga terlihat di Stasiun Kereta Api Barat Chongqing di Chongqing, China barat daya, pada 14 Januari 2025. (Xinhua/Wang Quanchao)
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Kaum muda di seluruh dunia bersedia menikah dan memiliki anak jika mereka mampu secara finansial, sebut laporan baru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis pada Rabu (8/7).
Lebih dari dua pertiga warga usia dewasa muda memilih hubungan yang ideal dan pengaturan tempat tinggal yang mencakup pernikahan, ungkap laporan Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Population Fund/UNFPA) mengenai temuan dari Survei Masa Depan Demografis (Demographic Futures Survey) 2025-2026 yang dilakukannya.
Survei tersebut mencakup lebih dari 108.000 orang berusia 18 hingga 39 tahun yang terhubung ke internet di 73 negara dan wilayah.
Di sebagian besar pengelompokan regional, sebuah keluarga dengan dua anak merupakan ukuran keluarga ideal yang paling banyak dilaporkan.
Ukuran keluarga ideal yang lebih besar cenderung sering ditemukan di Afrika Barat dan Tengah serta di Afrika Timur dan Selatan, sebut laporan berjudul ‘Kehidupan, Pilihan dan Masa Depan: Apa yang menjadi keinginan kaum muda dan apa yang menentukan keputusan mereka tentang hubungan dan memiliki anak’ (Lives, Choices and Futures: What young people want and what shapes their decisions about relationships and parenthood).
Persyaratan awal yang dinilai paling penting untuk merasa siap menjadi orang tua adalah kemapanan finansial (88 persen), pekerjaan yang stabil (87 persen), dan kesiapan emosional (85 persen).
Menurut laporan itu, responden perempuan rata-rata menilai setiap persyaratan awal tersebut lebih penting daripada responden laki-laki.
Kegembiraan dan kebahagiaan yang dibawa oleh anak merupakan alasan paling penting untuk memiliki anak, dengan 80 persen responden menilai hal tersebut sebagai alasan penting. Pola ini teramati di kalangan responden yang memiliki anak maupun yang tidak memiliki anak.
Survei tersebut menunjukkan bahwa alasan-alasan yang berkaitan dengan imbauan pemerintah dan kontribusi bagi tenaga kerja masa depan merupakan alasan dengan jumlah responden terendah untuk memiliki anak.
Kendala ekonomi dan tempat tinggal menjadi hambatan yang dinilai paling besar dalam memiliki anak, dengan 72 persen responden menilai hambatan ini sebagai faktor yang penting.
Tidak adanya pasangan yang cocok serta faktor kesehatan dan reproduksi menjadi hambatan tertinggi berikutnya, kata laporan tersebut.
"Temuan-temuan ini mengejutkan: mayoritas kaum muda mendambakan untuk menjalin hubungan dan menjadi orang tua," ujar Direktur Eksekutif UNFPA Diene Keita saat merilis laporan tersebut. "Beberapa pihak menilai bahwa generasi muda menolak pernikahan dan kehidupan berkeluarga. Namun, data kami menunjukkan bahwa anggapan tersebut sama sekali tidak benar."
Kendati demikian, banyak kaum muda merasa kondisi saat ini belum mendukung untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, tuturnya. "Mereka menuntut kondisi yang bisa merealisasikan pilihan: pekerjaan yang layak, hunian terjangkau, layanan kesehatan, layanan kesehatan seksual dan reproduksi, dukungan perawatan anak, cuti orang tua, serta kesetaraan gender di tempat kerja maupun di rumah."
Sederhananya, faktor yang membuat kaum muda ragu apakah mereka bisa mulai membangun keluarga adalah ketidakpastian, bukan keengganan, kata Keita. "Perbedaan tersebut penting. Jika salah memahami masalahnya, kita berisiko merancang solusi yang keliru."
Respons berbasis hak terhadap perubahan demografis adalah memastikan setiap orang memiliki kemampuan, dukungan, dan kesempatan untuk mengambil beberapa keputusan paling pribadi dan penting dalam hidup mereka, sebut Keita. "Lebih dari 100.000 kaum muda telah bersuara. Kini saatnya untuk mendengarkan. Di dunia yang terfragmentasi dengan sumber daya yang kian menyusut, kita perlu memastikan semua generasi mendatang dapat berkembang dengan baik, demi umat manusia dan planet ini."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Demonstran pro-Palestina berunjuk rasa di UCLA
Indonesia
•
30 Apr 2024

Korsel ungkapkan kekecewaan terkait persembahan PM Jepang ke Kuil Yasukuni
Indonesia
•
16 Aug 2022

Kisah – Eksperimen seru pancing rasa ingin tahu siswa tentang fisika
Indonesia
•
15 Oct 2024

Perang di Gaza jadi preseden berbahaya bagi keselamatan pekerja bantuan kemanusiaan
Indonesia
•
21 Aug 2024


Berita Terbaru

Gelombang panas picu gangguan kesehatan pada lebih dari 15 juta warga Inggris
Indonesia
•
09 Jul 2026

Momen seru pelepasliaran 100 tukik di Pantai Goa Cemara, Yogyakarta
Indonesia
•
07 Jul 2026

Spanyol laporkan lebih dari 150 kematian terkait suhu tinggi sejak awal Juli 2026
Indonesia
•
07 Jul 2026

Trump turun tangan, FIFA batalkan skorsing pemain AS Folarin Balogun
Indonesia
•
06 Jul 2026
