
Polusi udara partikulat bisa tingkatan mutasi pada kanker paru-paru di kalangan nonperokok

Ilustrasi. (Cristian Guerrero on Unsplash)
Paparan polusi udara partikulat halus berkaitan erat dengan peningkatan mutasi genetik pada tumor kanker paru-paru di kalangan orang yang tidak pernah merokok.
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Paparan polusi udara partikulat halus berkaitan erat dengan peningkatan mutasi genetik pada tumor kanker paru-paru di kalangan orang yang tidak pernah merokok, menurut studi baru yang dipimpin oleh Institut Kesehatan Nasional (National Institutes of Health/NIH) Amerika Serikat.Studi yang diterbitkan pada Rabu (2/7) di jurnal Nature ini merupakan analisis genom menyeluruh yang terbesar hingga saat ini mengenai kanker paru-paru di kalangan nonperokok, menawarkan wawasan baru mengenai bagaimana polutan lingkungan dapat memicu kanker tanpa adanya penggunaan tembakau.Para peneliti dari Institut Kanker Nasional di NIH dan Universitas California San Diego memeriksa tumor paru-paru dari 871 pasien nonperokok di 28 kawasan di seluruh dunia sebagai bagian dari studi yang diberi nama Sherlock-Lung.Mereka menemukan bahwa paparan polusi udara, khususnya dari lalu lintas dan sumber-sumber industri, dikaitkan dengan mutasi pemicu kanker, termasuk perubahan pada gen TP53 dan tanda-tanda mutasi lainnya yang biasanya dihubungkan dengan penyakit kanker yang berkaitan dengan tembakau.Studi tersebut juga mengungkap bahwa polusi udara berhubungan dengan telomer, yaitu bagian DNA yang ditemukan di ujung kromosom, yang lebih pendek. Telomer yang lebih pendek dikaitkan dengan penuaan dan berkurangnya kapasitas replikasi sel, yang berpotensi mempercepat perkembangan kanker.Memahami bagaimana polusi udara berkontribusi terhadap lanskap mutasi tumor paru-paru dapat membantu menjelaskan risiko kanker bagi orang yang tidak merokok dan menyoroti kebutuhan mendesak akan perlindungan lingkungan yang lebih kuat, menurut studi tersebut.Studi itu juga menyebutkan bahwa kanker paru-paru pada orang yang tidak merokok menyumbang hingga 25 persen dari seluruh kasus kanker paru-paru secara global.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

“Robot pembunuh” bukan lagi fiksi, Guterres desak dunia kelola risiko AI
Indonesia
•
23 Sep 2026

Studi: Aktivitas yang menstimulasi mental saat rehat miliki kaitan dengan otak yang lebih sehat
Indonesia
•
23 Dec 2024

Teknologi China bantu Malaysia beralih ke energi rendah karbon
Indonesia
•
17 Aug 2022

Kandungan FAME dalam B30 jaga kualitas mesin kendaraan
Indonesia
•
17 Jan 2020


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
