PBB: Krisis komoditas di Sudan picu lonjakan harga

Orang-orang menunggu untuk dievakuasi di dekat sebuah bandara di Omdurman, Sudan, pada 26 April 2023. Seiring konflik yang terus berlanjut di Sudan, banyak orang telah melarikan diri ke negara-negara tetangga. (Xinhua)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa fasilitas-fasilitas layanan kesehatan terus diserang dan diduduki oleh pihak-pihak yang berkonflik. Di Khartoum, ibu kota Sudan, hanya ada kurang dari seperlima fasilitas kesehatan yang masih berfungsi secara penuh, dengan 60 persen sama sekali tidak beroperasi.
PBB (Xinhua) – Konflik di Sudan, yang menyebabkan krisis makanan, air, bahan bakar, dan uang tunai di beberapa wilayah, memicu kenaikan harga sebesar hampir empat kali lipat, demikian diungkapkan oleh Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Kamis (11/5).Pada saat bersamaan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa fasilitas-fasilitas layanan kesehatan terus diserang dan diduduki oleh pihak-pihak yang berkonflik. Di Khartoum, ibu kota Sudan, hanya ada kurang dari seperlima fasilitas kesehatan yang masih berfungsi secara penuh, dengan 60 persen sama sekali tidak beroperasi.WHO mengatakan beberapa pusat kesehatan kembali dibuka di wilayah Darfur barat untuk menyediakan layanan darurat, persalinan, perawatan anak, dan penyakit kronis.Lebih lanjut lembaga tersebut mengatakan pihaknya siap mengirimkan lebih dari 110 ton suplai medis darurat dari Pelabuhan Sudan ke lebih dari 13 destinasi di seluruh wilayah negara itu."Kami membutuhkan izin yang dipercepat dan jaminan perjalanan yang aman untuk mengirimkan pasokan penting ini ke fasilitas-fasilitas kesehatan yang sangat membutuhkannya untuk operasi penyelamatan nyawa," kata WHO.Badan Pengungsi PBB (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) mengatakan bahwa lebih dari 164.000 orang telah melintasi perbatasan untuk mengungsi sejak konflik dimulai pada 15 April, termasuk di Republik Afrika Tengah, Chad, Mesir, Ethiopia, Libya, dan Sudan Selatan.Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan bahwa sejak konflik tersebut meletus, 736.000 orang telah mengungsi di dalam wilayah Sudan. Hampir 3,8 juta orang telah menjadi pengungsi internal di Sudan sebelum konflik itu dimulai.Dana Anak-Anak PBB (United Nations Children's Fund/UNICEF) memperkirakan bahwa 82.000 anak mengungsi ke negara-negara tetangga, dan sekitar 368.000 lainnya baru-baru ini menjadi pengungsi di Sudan.UNICEF mengatakan bahwa banyak komunitas yang menerima pengungsi telah terdampak oleh berbagai krisis, dengan layanan esensial dan kapasitas kemanusiaan yang ada sudah menanggung beban yang terlalu berat.Di sisi lain, musim hujan diperkirakan akan menambah tantangan terkait akses dan meningkatkan risiko penyakit. Konflik tersebut juga mengganggu perdagangan dan pergerakan lintas perbatasan, dengan risiko kerawanan pangan yang lebih tinggi di tengah masyarakat yang rentan, demikian diperingatkan oleh UNICEF.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

WHO sebut galur baru dorong musim flu yang lebih awal dan intens di Eropa
Indonesia
•
18 Dec 2025

Otoritas: Kebakaran gedung di China timur disebabkan penggunaan api secara ilegal
Indonesia
•
25 Jan 2024

Feature – Semester baru dimulai, sekolah-sekolah di China sediakan fasilitas tidur siang yang lebih baik bagi murid
Indonesia
•
05 Sep 2024

Peran teh jadi sorotan dalam hubungan China-Nepal
Indonesia
•
17 May 2023
Berita Terbaru

Pumpunan – Hari ke-2 Olimpiade Musim Dingin 2026: Kecelakaan Lindsey Vonn, Sander Eitrem pecahkan rekor seluncur cepat Olimpiade
Indonesia
•
09 Feb 2026

Feature – Atlet seluncur cepat China beri penghormatan kepada kakek saat debut di Olimpiade Musim Dingin
Indonesia
•
09 Feb 2026

Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina dibuka dengan upacara di sejumlah ‘venue’, soroti harmoni
Indonesia
•
08 Feb 2026

Upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina tampilkan budaya Italia
Indonesia
•
08 Feb 2026
