
Opini – Taiwan wujudkan visi WHO berantas Hepatitis C yang ancam kesehatan masyarakat

Dr. Chung-Liang Shih, Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan. (TETO)
Selama beberapa dekade, hepatitis C telah menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat global, dengan sekitar 58 juta orang hidup dengan infeksi kronis di seluruh dunia.
Meskipun belum tersedia vaksin, hepatitis C kini dapat disembuhkan melalui terapi antivirus kerja langsung (direct-acting antivirals/DAA) yang sangat efektif, dengan durasi pengobatan hanya 8–12 pekan.
Menyadari peluang ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan Deklarasi Glasgow tentang Hepatitis Virus pada tahun 2015, dengan target ambisius untuk memberantas hepatitis virus sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030.
Sejalan dengan 'Guidance for Country Validation of Viral Hepatitis Elimination' dari WHO serta kerangka 'Path to Elimination' (PTE), Taiwan telah mencapai target programatik Tingkat Emas (Gold Tier) untuk pemberantasan hepatitis C.
Pencapaian ini mencerminkan komitmen politik yang kuat serta integrasi sistematis upaya pencegahan, skrining, diagnosis, dan pengobatan hepatitis dalam sistem layanan kesehatan universal.
Melalui Layanan Kesehatan Preventif Dewasa untuk hepatitis B dan C, serta cakupan terapi DAA dalam program Asuransi Kesehatan Nasional, Taiwan telah memperluas akses terhadap skrining dan pengobatan secara signifikan.
Kebijakan ini secara efektif mengurangi hambatan finansial dan struktural dalam memperoleh layanan kesehatan. Hingga Juni 2025, diperkirakan 90,2 persen individu dengan hepatitis C kronis di Taiwan telah terdiagnosis, dan 92,6 persen dari mereka yang terdiagnosis telah menerima pengobatan DAA, melampaui tolok ukur Gold Tier WHO PTE.
Pencegahan dan keselamatan pasien tetap menjadi pilar utama dalam pemberantasan hepatitis C.
Taiwan memiliki tingkat keamanan 100 persen untuk kualitas transfusi darah dan suntikan medis. Program pengurangan dampak buruk yang komprehensif juga disediakan untuk memastikan akses luas terhadap peralatan suntik steril bagi pengguna narkoba suntik (PWID), dengan lebih dari 150 jarum suntik didistribusikan per orang per tahun . Langkah-langkah ini sangat penting untuk mengurangi infeksi baru dan mempertahankan capaian pemberantasan Hepatitis C dalam jangka panjang.
Sejalan dengan prinsip WHO dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yaitu “tidak meninggalkan siapa pun,” Taiwan memprioritaskan kelompok berisiko tinggi dan mereka yang menghadapi hambatan akses layanan kesehatan. Cakupan skrining dan pengobatan yang tinggi telah dicapai pada orang yang hidup dengan HIV, pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir, individu yang menjalani terapi agonis opioid, serta populasi di lembaga pemasyarakatan. Hasil ini mencerminkan keadilan dan inklusivitas sistem kesehatan Taiwan.
Selama dua dekade terakhir, Taiwan mencatat penurunan signifikan dalam insiden dan angka kematian akibat kanker hati—tren yang berkaitan erat dengan kebijakan pencegahan dan pengobatan hepatitis yang telah lama diterapkan.
Pencapaian ini, yang dipaparkan dalam Laporan Eliminasi Hepatitis C Taiwan, merupakan hasil kolaborasi erat antara pemerintah pusat dan daerah, otoritas kesehatan masyarakat, penyedia layanan kesehatan, serta organisasi masyarakat sipil. Kemauan politik yang kuat, didukung oleh sistem surveilans yang kokoh dan pelaporan data yang transparan, menjadi fondasi utama keberhasilan ini.
Seiring dunia bergerak menuju target pemberantasan hepatitis tahun 2030, 'Model Taiwan' menunjukkan bahwa memberantas hepatitis dapat dicapai ketika ilmu pengetahuan, komitmen politik, dan prinsip keadilan berjalan selaras.
Taiwan telah mengajukan Laporan Pemberantasan Hepatitis C kepada Kantor Regional WHO Pasifik Barat untuk validasi dalam kerangka Gold Tier PTE. Kami menantikan pengakuan internasional atas kepemimpinan dan kontribusi Taiwan dalam upaya eliminasi hepatitis.
Taiwan tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan komunitas internasional serta berbagi pengalaman guna mempercepat kemajuan menuju dunia bebas hepatitis C.
Selesai
Penulis: Dr. Chung-Liang Shih (Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

London School-Universitas Northumbria hasilkan 2.000 film pendek karya mahasiswa
Indonesia
•
22 Jun 2019

Survei: 2050, jumlah lansia tanpa kerabat dekat di Jepang bakal capai 10 persen lebih
Indonesia
•
08 Oct 2024

1 juta orang alami kerawanan pangan di Kenya
Indonesia
•
10 Oct 2024

PBB: Jumlah pengungsi di Sudan naik lebih dari dua kali lipat dalam sepekan
Indonesia
•
11 May 2023


Berita Terbaru

Langgar aturan akses bagi anak-anak, Australia selidiki 5 raksasa medsos
Indonesia
•
31 Mar 2026

Total populasi Korsel diperkirakan turun 29,9 persen per 2072
Indonesia
•
31 Mar 2026

Resensi Buku Perspektif Jurnalistik – Analisis SWOT Negara Madinah lahirkan model manajemen strategis pemerintahan universal
Indonesia
•
30 Mar 2026

Meta dan YouTube dinyatakan bertanggung jawab terkait kecanduan media sosial di AS
Indonesia
•
27 Mar 2026
