
Ilmuwan China ungkap alasan burung lebih tahan terhadap rasa asam

Seekor burung kacamata (white-eye bird) hinggap di pohon kesemek yang sedang berbuah, terlihat mencaplok sebagian buah kesemek, di Shanghai, China timur, pada 2 Desember 2021. (Xinhua/Fang Zhe)
Mutasi kunci pada gen reseptor rasa asam OTOP1 memungkinkan burung penyanyi untuk mengonsumsi buah asam tanpa merasa tidak nyaman.
Kunming, China (Xinhua/Indonesia Window) – Para peneliti China berhasil mengungkap mekanisme molekuler di balik kemampuan burung untuk menoleransi makanan yang sangat asam, sebuah karakteristik yang selama ini membuat bingung para ilmuwan.Studi yang diterbitkan di jurnal Science pada Jumat (20/6) tersebut mengungkap bahwa mutasi kunci pada gen reseptor rasa asam OTOP1 memungkinkan burung penyanyi untuk mengonsumsi buah asam tanpa merasa tidak nyaman.Lai Ren, peneliti sekaligus penulis korespondensi makalah tersebut dari Institut Zoologi Kunming (Kunming Institute of Zoology), Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), mengatakan timnya menemukan bahwa satu perubahan asam amino pada OTOP1 meningkatkan toleransi terhadap rasa asam pada burung penyanyi, yang kemungkinan membantu perluasan pola makan dan diversifikasi spesies mereka.Tim tersebut juga menemukan adanya kemungkinan hubungan koevolusi antara persepsi rasa manis dan toleransi terhadap rasa asam yang dimiliki burung, ujar Lai. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa sinergi ini memungkinkan burung untuk tidak hanya tahan terhadap keasaman buah, tetapi juga mampu mendeteksi gula secara akurat, meningkatkan kemampuan mereka untuk memanfaatkan sumber daya buah secara efisien."Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang secara sistematis mengungkap basis molekuler dari persepsi rasa asam pada burung dan peran evolusionernya, serta mengusulkan hipotesis 'koevolusi rasa asam-manis pada burung penyanyi,' yang menawarkan wawasan teoretis baru tentang bagaimana sistem sensorik kompleks beradaptasi secara sinergis terhadap berbagai tantangan lingkungan," ujarnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Batu giok naga terbesar dari peradaban Hongshan ditemukan di China utara
Indonesia
•
23 Sep 2024

COVID-19 – Rusia produksi vaksin eksperimental untuk hewan pada Oktober
Indonesia
•
17 Sep 2020

Studi sebut erosi sungai tingkatkan peninggian Gunung Qomolangma baru-baru ini
Indonesia
•
02 Oct 2024

FMIPA UI temukan spesies baru bakteri tahan panas
Indonesia
•
20 May 2026


Berita Terbaru

China bantah AI-nya “meniru” AS: Kami membangunnya dengan kekuatan sendiri
Indonesia
•
10 Sep 2026

XPeng mulai produksi massal robot humanoid, IRON siap dijual ke dunia pada 2027
Indonesia
•
09 Sep 2026

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026
