Mengapa hubungan AS-China bisa memengaruhi stabilitas ekonomi dunia?

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggelar upacara penyambutan bagi Presiden China Xi Jinping, yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke AS, di Gedung Putih, Washington DC, AS, pada 24 September 2026. (Xinhua/Yin Bogu)

New York City, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Hubungan Amerika Serikat (AS)-China yang lebih stabil memiliki dampak yang melampaui lingkup hubungan bilateral itu sendiri, karena kedua negara sangat terhubung dengan perekonomian global serta memainkan peran penting dalam berbagai lembaga internasional dan tata kelola global, demikian disampaikan pakar terkemuka AS di bidang hubungan dengan China.

Dalam wawancara tertulis dengan Xinhua, Denis Simon, mantan penasihat senior urusan China untuk presiden Universitas Duke, mencatat bahwa Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraan baru-baru ini ke AS mengatakan bahwa peremajaan besar bangsa China dan upaya menjadikan Amerika hebat kembali dapat berjalan beriringan, saling melengkapi, serta memberikan manfaat bagi dunia.

"Saya memandang hal ini sebagai upaya untuk membingkai hubungan tersebut berdasarkan kepentingan nasional bersama, alih-alih sebagai persaingan bermentalitas menang-kalah (zero-sum). Baik China maupun AS memiliki ambisi nasional dan prioritas dalam negeri masing-masing, tetapi tujuan-tujuan tersebut tidak serta-merta mengharuskan negara lain mengalami kegagalan," kata Simon, yang juga menjabat sebagai executive vice chancellor Universitas Duke Kunshan pada 2015-2020.

"Alih-alih meminta salah satu pihak untuk meninggalkan tujuan nasionalnya sendiri, pesannya adalah bahwa pembangunan China dan kemakmuran Amerika dapat berjalan berdampingan dan, dalam kondisi yang tepat, saling memperkuat," ujarnya.

Terkait hubungan China-AS dengan stabilitas strategis yang konstruktif dengan kerja sama sebagai landasan utama, persaingan yang moderat, perbedaan yang dapat dikelola, serta komitmen terhadap perdamaian, Simon menggambarkan rumusan tersebut sebagai "upaya untuk menyediakan kerangka kerja praktis guna mengelola hubungan yang di dalamnya persaingan tidak dapat dihindari, tetapi konflik bukanlah sesuatu yang tak terelakkan."

"Bagi saya, frasa kuncinya adalah 'persaingan dalam batas-batas tertentu'. Hal ini mengakui bahwa China dan AS akan bersaing dalam bidang-bidang seperti teknologi, perdagangan, dan pengaruh strategis. Tujuannya bukan untuk menghilangkan persaingan itu, melainkan menetapkan batas-batas agar persaingan tidak berubah menjadi konfrontasi," tuturnya.

Simon mengatakan istilah "perbedaan yang dapat dikelola" mengakui bahwa sejumlah perbedaan mungkin sangat sulit diselesaikan dalam waktu dekat. Oleh karena itu, hubungan yang stabil tidak dapat bergantung pada penyelesaian setiap perbedaan.

"Hubungan tersebut membutuhkan mekanisme yang memungkinkan kedua belah pihak berbeda pendapat tanpa membiarkan perselisihan tertentu mengganggu stabilitas hubungan secara keseluruhan," katanya. "Jika diterapkan secara konsisten, kerangka kerja tersebut dapat menggeser fokus dari upaya menghilangkan persaingan menjadi upaya menjadikan persaingan dapat diprediksi dan dikelola, sembari memperluas kerja sama di bidang-bidang yang memang memiliki kepentingan yang sama."

Simon mengidentifikasi isu ekonomi dan perdagangan sebagai bidang yang jelas dapat menghasilkan kemajuan konkret dengan dampak langsung, seraya mencatat bahwa persoalan teknologi dan rantai pasokan lebih sulit ditangani "karena mencakup pertimbangan ekonomi sekaligus keamanan nasional."

"Namun, justru karena alasan tersebut, mereka memerlukan dialog yang berkelanjutan dan komunikasi yang lebih jelas," tuturnya, seraya menambahkan bahwa di luar isu bilateral, kerja sama di bidang iklim, energi, kesehatan masyarakat, dan tantangan lintas negara lainnya dapat menunjukkan bahwa persaingan tidak harus menghalangi kerja sama praktis. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait