
Mengagumi pesona partikel tanah Bulan di bawah lensa mikroskop

Mikrograf yang diabadikan pada Juli 2022 ini menunjukkan gambar cahaya yang terpolarisasi melintang dari bagian tipis sebuah partikel tanah basal Bulan. (Xinhua/Institut Geologi dan Geofisika, Akademi Ilmu Pengetahuan China)
Partikel tanah Bulan yang mempesona dipamerkan melalui teknologi mikrofotografi, fusi dan pemrosesan gambar, rekonstruksi tiga dimensi (3D), serta teknologi realitas virtual (virtual reality/VR) dan realitas tertambah (augmented reality/AR).
Beijing, China (Xinhua) – Bulan, seperti halnya Bumi dan benda langit lainnya, tersusun atas batuan dan mineral, serta tanah. Alih-alih melihat partikel tanah Bulan melalui teleskop, beberapa orang berkesempatan untuk mengamatinya lebih dekat melalui mikroskop.Sebuah pameran seni yang mengusung tema ‘Pencapaian Penelitian Ilmiah Tanah Bulan’ dibuka di Akademi Seni Rupa Pusat (Central Academy of Fine Arts/CAFA) di Beijing pada Sabtu (10/9), yang bertepatan dengan perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur tahun ini.Melalui mikrofotografi, fusi dan pemrosesan gambar, rekonstruksi tiga dimensi (3D), dan teknologi realitas virtual (virtual reality/VR), pameran tersebut menampilkan lebih dari 100 gambar dan video dari partikel tanah Bulan kepada publik.Tanah yang difoto itu merupakan bagian dari 1.731 gram sampel Bulan yang diambil dari permukaan Bulan oleh wahana Chang'e-5.
Mikrograf yang diabadikan pada Februari 2022 ini menunjukkan partikel tanah kaca Bulan yang hanya berdiameter 0,5 milimeter. Permukaan partikel itu memantulkan bayangan lensa, layaknya sebuah mata besar. (Xinhua/Institut Geologi dan Geofisika, Akademi Ilmu Pengetahuan China)
Foto yang diabadikan pada April 2022 ini menunjukkan gambar elektron hamburan balik (backscattered electron) dengan potongan melintang dari partikel tanah kaca Bulan. (Xinhua/Institut Geologi dan Geofisika, Akademi Ilmu Pengetahuan China)
Lebih halus dari rambut
"Ukuran partikel tanah Bulan itu lebih halus dari sehelai rambut, sehingga tidak dapat diamati sama sekali tanpa bantuan peralatan mikroskopis canggih," kata Yang Wei, seorang peneliti di Institut Geologi dan Geofisika dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Sebagai salah satu dari sedikit orang yang mendapatkan akses ke tanah Bulan itu, Yang tertarik dengan keindahannya saat melakukan penelitian ilmiah. "Akan tetapi, tidak mungkin semua orang datang ke laboratorium untuk melihatnya," ujarnya. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk memotret tanah Bulan tersebut untuk ditunjukkan kepada publik.
Foto yang diabadikan pada September 2022 ini menunjukkan Yang Wei sedang mengamati tanah Bulan melalui mikroskop. (Xinhua/Yu Fei)
Pesona ilmu pengetahuan
Di ruang pameran, sebuah gambar tanah Bulan yang berbentuk menyerupai seekor anak anjing menarik perhatian banyak pengunjung."Tanah unik ini tidak dapat ditemukan di Bumi. Ini disebut aglutinat," jelas Yang. Baginya, setiap butir tanah Bulan menceritakan sebuah kisah tentang apa yang pernah terjadi di Bulan."Melalui aglutinasi (proses penggumpalan) yang berbentuk seperti anak anjing ini, kita dapat menyimpulkan bahwa di Bulan, yang tidak memiliki atmosfer, meteorit kecil menabrak permukaan Bulan dengan kecepatan tinggi dan membentuk partikel-partikel kaca kecil, yang kemudian menempel dengan partikel mineral lainnya menjadi berbagai bentuk aglutinasi yang aneh," katanya."Bagi banyak orang, tanah Bulan masih sangat misterius, dan kami berharap dapat mengungkap misteri itu melalui pameran-pameran seperti ini," ujarnya.
Mikrograf yang diabadikan pada Februari 2022 ini menunjukkan gambar sebuah partikel tanah Bulan, yang disebut aglutinat, yang berbentuk menyerupai seekor anak anjing. (Xinhua/Institut Geologi dan Geofisika, Akademi Ilmu Pengetahuan China)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Sisa-sisa alkohol dan sutra berusia 5.000 tahun ditemukan di China bagian tengah
Indonesia
•
01 Oct 2021

Mesir temukan pemakaman berusia 3.400 tahun di Minya
Indonesia
•
18 Oct 2023

Jalur pipa CO2 akan hubungkan Jerman-Norwegia untuk simpan karbon bawah tanah
Indonesia
•
31 Aug 2022

BRIN kembangkan pemecah gelombang lindungi kawasan pantai
Indonesia
•
08 Nov 2021


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
