
Kru Shenzhou-21 lakukan uji medis lanjutan dan eksperimen ilmu otak di luar angkasa

Gambar tangkapan layar yang diabadikan di Pusat Kendali Antariksa Beijing (Beijing Aerospace Control Center/BACC) pada 9 Desember 2025 ini menunjukkan astronaut Shenzhou-21, Zhang Lu dan Wu Fei (kanan), melakukan aktivitas di luar wahana antariksa (extravehicular activity) atau spacewalk di luar stasiun luar angkasa China yang sedang mengorbit. (Xinhua/Liu Yi)
Eksperimen medis antariksa dan penelitian ilmu fisika yang dilakukan para awak Shenzhou-21 di antaranya mencakup eksplorasi otak dalam memersepsikan dunia fisik tanpa gravitasi.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Para awak Shenzhou-21 yang berada di stasiun luar angkasa China, Tiangong, telah mencatatkan kemajuan signifikan dalam hal eksperimen medis antariksa dan penelitian ilmu fisika dalam sepekan terakhir, sembari menjaga lingkungan stasiun luar angkasa itu tetap layak huni, menurut Badan Antariksa Berawak China (China Manned Space Agency/CMSA).
Dalam bidang kedokteran antariksa, para kru yang terdiri dari Zhang Lu, Wu Fei, dan Zhang Hongzhang tersebut berfokus pada pemahaman efek psikologis dan fisiologis dari penerbangan antariksa berdurasi panjang. Mereka menggunakan laptop untuk menyelesaikan berbagai pengujian terkait "mekanisme kepercayaan dan koordinasi" serta "kepercayaan manusia-mesin," yang krusial dalam merancang antarmuka wahana antariksa di masa mendatang dan memastikan kerja sama tim yang efisien antara astronaut dan sistem automasi, seperti dilansir China Media Group pada Ahad (8/3) malam.
Sebuah kemajuan penting dicapai melalui penggunaan spektrometer Raman antariksa, perangkat yang dapat mengidentifikasi komposisi molekuler dengan menyorotkan sinar laser pada sampel. Para astronaut menggunakan alat ini untuk menganalisis komponen metabolis dalam sampel urine. Data yang terkumpul akan digunakan untuk menyempurnakan standar medis dalam pemantauan kesehatan astronaut di orbit.
Untuk mengeksplorasi bagaimana otak memersepsikan dunia fisik tanpa gravitasi, mereka juga melakukan eksperimen "perilaku fisika intuitif dalam kondisi mikrogravitasi."
Dengan memanfaatkan peralatan elektroensefalogram (EEG), yang merekam aktivitas listrik di sepanjang kulit kepala, kru tersebut mengumpulkan data untuk studi "pemantauan meta-kognitif" dan "analisis kognitif-emosional otak kelompok," yang membantu para ilmuwan di Bumi memahami bagaimana ketiadaan gravitasi dapat mengubah fungsi otak dan dinamika kelompok, urai laporan tersebut.
Dalam bidang ilmu fisika mikrogravitasi, tim tersebut melakukan pemeliharaan rak eksperimen dengan mengganti penutup pengambilan sampel di rak ilmu pembakaran dan menukar sampel pada lemari fisika fluida.
Untuk melindungi kesehatan mereka sendiri, para astronaut menjalani sejumlah pemeriksaan medis termasuk pengujian tekanan intraokular, pemeriksaan fundus, dan penilaian kardiopulmoner.
Yang menarik, mereka juga memanfaatkan perangkat empat diagnosis pengobatan tradisional China (traditional Chinese medicine/TCM), instrumen yang meniru metode tradisional TCM yaitu observasi, mendengarkan, tanya jawab dengan pasien, dan pemeriksaan denyut nadi, untuk memberikan penilaian kesehatan yang komprehensif dalam kondisi mikrogravitasi, ungkap laporan video tersebut.
Wahana antariksa berawak Shenzhou-21 diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan (Jiuquan Satellite Launch Center) di China barat laut pada 31 Oktober 2025. Para kru Shenzhou-21 telah merampungkan serangkaian aktivitas di luar wahana antariksa (extravehicular activity) atau spacewalk pertama pada 9 Desember 2025.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Arkeolog temukan 570 makam kuno di China tengah
Indonesia
•
10 Mar 2023

PLTA China hasilkan 38,9 miliar kWh listrik pada 2021
Indonesia
•
01 Jan 2022

Helikopter sipil besar AC313A buatan China tuntaskan uji penerbangan cuaca dingin pertama
Indonesia
•
15 Feb 2024

Penemu Jepang kenalkan teknologi kaos kesehatan 'RELIVE WEAR' untuk kuatkan tubuh
Indonesia
•
16 Apr 2025


Berita Terbaru

Ilmuwan peringatkan karhutla bisa rusak permanen permafrost Bumi
Indonesia
•
13 Jun 2026

Makhluk laut ini menyerap karbon seperti hutan Amazon, rahasianya baru terungkap
Indonesia
•
12 Jun 2026

Mengapa es Antarktika mencair lebih cepat? Ilmuwan akhirnya punya jawabannya
Indonesia
•
11 Jun 2026

Feature – Teknologi canggih dukung upaya konservasi panda di China
Indonesia
•
11 Jun 2026
