Krisis perbatasan di Ceuta mereda, korban tewas bertambah jadi 67 orang

Orang-orang berjalan melintasi pos perbatasan darat antara Gibraltar dan Spanyol pada 15 Juli 2026. (Xinhua/Cheng Min)

Madrid, Spanyol (Xinhua/Indonesia Window) – Jumlah korban tewas akibat penyeberangan massal migran menuju Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, bertambah menjadi 67 orang.

Otoritas Spanyol menyatakan situasi di perbatasan sebagian besar telah kembali stabil setelah mayoritas migran kembali ke negara tetangga, Maroko.

Pemerintah Spanyol pada Sabtu (1/8) mengatakan bahwa tidak satu pun dari hampir 50.000 migran yang memasuki Ceuta secara ilegal diizinkan melanjutkan perjalanan ke daratan utama Spanyol.

Lebih dari 48.000 migran kembali ke Maroko dalam waktu 48 jam, sehingga salah satu krisis migrasi ilegal terbesar di perbatasan selatan Spanyol tersebut berhasil dikendalikan.

Otoritas Spanyol pada Sabtu juga mulai memasang penghalang maritim baru di kawasan pemecah ombak El Tarajal sebagai bagian dari upaya memperketat pengamanan perbatasan.

Menurut Kementerian Dalam Negeri Spanyol, sistem tersebut terdiri dari penghalang apung pneumatik sepanjang 500 meter dengan bagian yang terendam hingga satu meter di bawah permukaan air.

Sistem itu dilengkapi dengan lapisan pertama pelampung tambat yang disediakan oleh Angkatan Laut Spanyol. Sebuah jalur pelayaran tetap dibuka agar kapal patroli Garda Sipil Spanyol dapat terus melakukan pengawasan di wilayah perbatasan.

Menurut kantor berita Spanyol, EFE, otoritas Maroko telah menangkap 70 orang terkait insiden kekerasan yang berkaitan dengan krisis migran tersebut.

Para tersangka sedang diselidiki atas sejumlah tuduhan, termasuk percobaan pembunuhan, pembakaran, serta perusakan properti publik maupun swasta setelah bentrokan dengan aparat keamanan.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait