
Jumlah bayi baru lahir di China naik pada 2024, kali pertama dalam beberapa tahun terakhir

Seorang bayi berjalan dengan bantuan pengasuhnya di Desa Daman baru di Jilung, yang terletak di Xigaze, Daerah Otonom Xizang, China barat daya, pada 15 Desember 2024. Desa Daman baru, yang terletak sekitar 30 kilometer dari perbatasan China-Nepal, merupakan satu-satunya tempat tinggal bagi masyarakat etnis Daman di China. (Xinhua/Tenzin Nyida)
Kenaikan jumlah bayi baru lahir dan angka kelahiran pada 2024 di China terjadi setelah tujuh tahun berturut-turut mengalami penurunan.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) - China melaporkan kenaikan jumlah bayi baru lahir dan angka kelahiran pada 2024 setelah tujuh tahun berturut-turut mengalami penurunan. Peningkatan ini didukung oleh lonjakan jumlah bayi pasca-COVID-19 di Tahun Naga (siklus zodiak China/shio) serta sejumlah kebijakan yang mendukung kelahiran anak.Biro Statistik Nasional (National Bureau of Statistics/NBS) China pada Jumat (17/1) mengatakan bahwa China mencatat 9,54 juta bayi baru lahir pada tahun lalu, meningkat 520.000 dibandingkan pada 2023. Angka kelahiran pada 2024 mencapai 6,77 per 1.000 orang, mencerminkan peningkatan 0,38 per 1.000 dibandingkan tahun sebelumnya.Yuan Xin, wakil presiden Asosiasi Kependudukan China sekaligus profesor di Universitas Nankai, menyebut pertumbuhan itu berkat lonjakan pendaftaran pernikahan pascapandemi COVID-19, atau pada Tahun Naga, serta perbaikan dalam sistem dukungan kelahiran di China.China akan segera mengakhiri Tahun Naga dalam kalender lunar China, yang secara tradisional ditandai dengan lonjakan jumlah bayi. Naga, atau loong, merupakan simbol keberuntungan dalam budaya China dan dianggap sebagai shio paling kuat keberuntungannya di antara 12 shio.Data resmi menunjukkan bahwa sekitar 11,94 juta warga China menikah untuk pertama kalinya pada 2023, naik 13,52 persen dibandingkan dengan 2022, menandai kenaikan pertama dalam jumlah pengantin baru sejak 2014.Para analis mengaitkan kenaikan dalam pendaftaran pernikahan tersebut dengan fakta bahwa banyak pengantin baru yang menunda rencana pernikahan akibat COVID-19."Karena sebagian besar masyarakat China masih menganut tradisi menikah sebelum memiliki anak, maka peningkatan jumlah pernikahan diperkirakan akan menggenjot angka kelahiran dalam satu hingga dua tahun," kata Yuan. "Selain itu, kebijakan dukungan kelahiran yang komprehensif mulai menunjukkan hasil."Pada 2015, China mengakhiri kebijakan satu anak (one-child policy) yang telah berlangsung selama puluhan tahun, dan memberikan hak kepada semua pasangan untuk memiliki dua anak. Kemudian pada 2021, kebijakan itu diperluas lebih lanjut untuk memungkinkan keluarga memiliki tiga anak.Selanjutnya, pemerintah pusat dan daerah di China memperkenalkan berbagai langkah dukungan untuk membangun masyarakat yang lebih mendukung kelahiran anak. Langkah-langkah tersebut mencakup perluasan sistem penitipan anak dan penguatan dukungan pendidikan, perumahan, dan pekerjaan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Festival berburu mutiara Pearl Diving Festival 2023 dibuka di Kuwait
Indonesia
•
14 Aug 2023

OKI setujui pembentukan dana perwalian kemanusiaan untuk Afghanistan
Indonesia
•
21 Dec 2021

Ulama internasional dan Indonesia bahas tantangan global dalam CONN3CT
Indonesia
•
11 Jan 2025

Wanita Filipina melahirkan dalam penerbangan, 7 pekan lebih awal
Indonesia
•
19 Jun 2022


Berita Terbaru

Feature – Rumah prefabrikasi bantu korban gempa Xizang di China punya hunian nyaman dalam 3 hari
Indonesia
•
27 Oct 2026

Untuk pertama kalinya, demensia jadi penyebab lebih dari 10 persen kematian di Australia
Indonesia
•
27 Oct 2026

Kampung Silat Betawi Rawa Belong diresmikan sebagai Kampung Budaya 2026
Indonesia
•
25 Oct 2026

7 orang hilang usai gedung bertingkat runtuh di Kenya, pencarian berlanjut
Indonesia
•
25 Oct 2026
