
Kekurangan pendanaan hambat operasi kemanusiaan di wilayah Palestina yang diduduki

Warga Palestina menerima makanan gratis dari sebuah dapur komunitas di Gaza City pada 18 Mei 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Kekurangan pendanaan menghambat operasi kemanusiaan di wilayah Palestina yang diduduki, menyebabkan semakin banyak warga yang menderita kelaparan atau kehilangan akses terhadap layanan-layanan penting.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Kekurangan pendanaan menghambat operasi kemanusiaan di wilayah Palestina yang diduduki, menyebabkan semakin banyak warga yang menderita kelaparan atau kehilangan akses terhadap layanan-layanan penting, demikian disampaikan seorang juru bicara (jubir) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (18/5).
Permohonan bantuan tahun 2026, yang menargetkan dana lebih dari 4 miliar dolar AS untuk membantu hampir tiga juta orang di seluruh Gaza dan Tepi Barat, saat ini baru terpenuhi 12 persen, dengan 490 juta dolar yang telah diterima sejauh ini, kata Farhan Haq, wakil jubir sekretaris jenderal (sekjen) PBB, dalam sebuah konferensi pers harian, mengutip Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
*1 dolar AS = 17.496 rupiah
Salah satu dampak yang jelas terlihat adalah pada bantuan pangan, ujar Haq, seraya menyebutkan bahwa di Gaza, PBB dan mitra kemanusiaannya mendukung dapur-dapur untuk menyajikan 1 juta porsi makanan per hari, turun dari 1,8 juta porsi per hari pada Februari.
Selain keterbatasan pendanaan, operasi kemanusiaan juga terkendala oleh sulitnya memasukkan suku cadang penting, generator cadangan, dan peralatan lainnya, serta kelangkaan bahan bakar dan oli mesin. Di samping itu, operasi kemanusiaan terbatas akibat adanya pembatasan operasional mitra-mitra kunci, hambatan pergerakan di dalam Gaza, serta infrastruktur dan jalanan yang rusak, ungkapnya.
Sementara itu, operasi militer di Gaza terus berdampak pada warga sipil. Selama akhir pekan, mitra-mitra PBB di lapangan mencatatkan pengungsian lebih dari 150 keluarga dari wilayah timur Khan Younis dan wilayah timur Gaza City. Keluarga-keluarga yang terdampak mengatakan mereka mengungsi karena pergerakan tank atau pengeboman, tutur Haq.
Sebagian besar dari 2,1 juta penduduk Gaza masih mengungsi, sering kali dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, menurut sang juru bicara.
"Warga sipil harus selalu dilindungi, dan ini termasuk mengizinkan mereka pindah ke tempat yang lebih aman di mana kebutuhan dasar mereka dapat terpenuhi. Mereka juga harus diizinkan untuk kembali secara sukarela bila kondisi memungkinkan," imbuh Haq.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim peneliti Afrika peringatkan lonjakan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk di tengah perubahan iklim
Indonesia
•
21 Aug 2024

COVID-19 – WHO: Kasus infeksi global turun 24 persen, kematian meningkat di Asia
Indonesia
•
19 Aug 2022

Fokus Berita – Titik karhutla baru di Los Angeles hanguskan 40 km persegi lahan
Indonesia
•
25 Jan 2025

Punya ribuan masjid, Muslim Bosnia dan Herzegovina masih alami islamofobia
Indonesia
•
17 Mar 2025


Berita Terbaru

Feature – Mengunjungi Warung Roekoen, warisan Tionghoa di rumah berusia lebih dari seabad
Indonesia
•
25 Aug 2026

Kabut asap landa Malaysia, ISPA tembus 3.674 kasus
Indonesia
•
24 Aug 2026

Selandia Baru siapkan larangan medsos untuk anak di bawah 16 tahun, platform bisa didenda 10 persen dari pendapatan global
Indonesia
•
24 Aug 2026

Setiap bayi di Singapura terima 976 juta rupiah, ini rinciannya
Indonesia
•
24 Aug 2026
