Kajian Ilmiah Islam – Tujuan besar dari puasa Ramadhan adalah melatih kecerdasan emosional, sabar

Ustadz Abu Ihsan Al Atsari, M.A., dalam kajian ilmiah bertema ‘Siapkan Hati Menyambut Bulan Yang Suci’, yang diselenggarakan di Resto KM Zero, Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (11/2/2026). (Indonesia Window)

Tujuan besar dari puasa Ramadhan adalah melatih kecerdasan emosional, yang bahasa syar’inya adalah sabar.

 

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) - Tujuan besar dari puasa Ramadhan adalah melatih kecerdasan emosional, yang bahasa syar’inya adalah sabar, kata Ustadz Abu Ihsan Al Atsari, M.A., dalam kajian ilmiah bertema ‘Siapkan Hati Menyambut Bulan Yang Suci’, yang diselenggarakan di Resto KM Zero, Sentul, Bogor, Jawa Barat, baru-baru ini menjelang Ramadhan.

Ust. Abu Ihsan menjelaskan, Ramadhan adalah bulan untuk melatih Umat Islam menahan hawa nafsu, termasuk menahan emosi.

“Nabi Muhammad (ﷺ) bersabda: Jika seseorang berpuasa, maka jangan berkata keji dan jangan berbuat jahil. Jika ada yang menyerangnya dengan kata-kata atau mengajaknya bertengkar, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’,” kata Ust. Abu Ihsan.

“Perhatikan, Nabi ﷺ tidak mengatakan ‘aku sedang puasa’, tetapi menunjukkan sifat. Artinya, orang yang berpuasa adalah orang yang mampu mengontrol emosinya—bukan hanya saat Ramadhan, tetapi menjadi karakter dalam dirinya,” katanya.

Jika ingin memahami sabar dengan sederhana, maka sabar itu artinya: jangan marah, tutur ustadz, seraya mencohkan, Nabi ﷺ ditanya berulang kali tentang nasihat. Beliau menjawab, ‘Jangan marah’. Diulang sampai tiga kali. Tanpa koma. Tanpa pengecualian.

“Kenapa? Karena kalau ada pengecualian, yang kita ingat justru pengecualiannya. Kita punya seribu satu alasan untuk marah, tetapi sangat sulit mencari alasan untuk tidak marah,” ustadz menjelaskan, lalu menambahkan, marah selalu dianggap wajar, bahkan legal. “Padahal dampaknya luar biasa.”

Marah dalam pendidikan anak

Selanjutnya, ustadz menjelaskan bahwa beliau telah menulis buku berjudul ‘Mendidik Anak Tanpa Amarah’.

“Ini saya sebut sebagai titik nol pendidikan. Pendidikan harus dimulai dari tanpa amarah,” ujarnya.

Belakangan ini banyak kasus tragis: anak membunuh orangtua (parisida), atau orangtua menyakiti anak. Salah satu faktor yang sering muncul adalah pola asuh yang salah—terutama marah yang berlebihan, ungkap ustadz.

Menurutnya, alasan pertama orangtua mudah marah adalah karena keletihan.

“Orang yang lelah mudah marah. Ibu-ibu paling memahami ini. Tugas rumah tangga, mengurus anak, antar-jemput sekolah, semuanya menumpuk. Ketika lelah, emosi jadi tipis,” tambahnya.

Nabi ﷺ ketika di rumah membantu istrinya. Beliau tidak membebankan semuanya kepada istri, ungkapnya lagi.

Kedua, warisan pola marah. Ada keluarga yang marah menjadi tradisi turun-temurun. “Tanpa sadar kita meniru cara orangtua kita dulu. Memori dimarahi tersimpan di alam bawah sadar dan muncul kembali ketika kita menjadi orangtua. Jika ingin selamat, putuslah tradisi marah itu di keluarga kita,” nasihatnya.

Ketiga, terlalu terobsesi pada hasil. “Kita ingin anak sempurna, dibandingkan dengan anak orang lain. Akhirnya kurang sabar menjalani proses. Padahal hasil bukan di tangan kita, melainkan di tangan Allah ﷻ. Yang menjadi tanggung jawab kita adalah proses dan usaha,” katanya.

Jangan katakan, “Saya gagal jadi orangtua.” Katakanlah, “Saya salah.” Supaya kita bisa memperbaiki. Yang gagal itu bukan yang salah, tetapi yang tidak berbuat, kata ustadz menasihati.

Marah adalah biang kerok atas banyaknya tragedi. Ada kasus ayah membanting anaknya sampai meninggal hanya karena marah sesaat. Betapa mahal harga sebuah kemarahan, Ust.  Abu Ihsan mengingatkan, seraya menambahkan, “Karena itu Nabi ﷺ berkata: ‘Jangan marah.’ Titik”.

Ramadhan adalah momen terbaik untuk melatih pengendalian emosi. Suasana mendukung. Masjid ramai, orang berlomba dalam kebaikan. “Kalau setan saja dibelenggu di bulan Ramadhan, lalu kita masih kalah oleh emosi kita sendiri, bagaimana jika setan tidak dibelenggu?” katanya.

Maka gunakan Ramadhan untuk mengasah kecerdasan emosional kita. Jangan hanya menahan lapar dan haus, tetapi tahan juga marah, karena ukuran keberhasilan Ramadhan bukan sekadar berapa kali khatam Al-Qur’an, tetapi sejauh mana kita menjadi pribadi yang lebih sabar, ajak ustadz.

“Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bersyukur, yang sabar, dan yang mampu mengendalikan emosi kita. Wallahu a’lam bish-shawab,” kata Ustadz Abu Ihsan Al Atsary.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait