Copernicus: Januari 2025 jadi bulan terhangat sepanjang catatan

Foto yang diabadikan pada 22 Juni 2024 ini menunjukkan pemandangan gletser yang mencair di Svalbard, Norwegia. (Xinhua/Zhao Dingzhe)
Januari 2025 tercatat sebagai bulan terhangat sepanjang catatan global, dengan rata-rata suhu permukaan 0,79 derajat Celsius di atas rata-rata Januari 1991-2000.
Brussel, Belgia (Xinhua/Indonesia Window) – Januari 2025 tercatat sebagai bulan terhangat sepanjang catatan global, dengan rata-rata suhu permukaan 0,79 derajat Celsius di atas rata-rata Januari 1991-2000, demikian dilaporkan Layanan Perubahan Iklim Copernicus (Copernicus Climate Change Service/C3S) yang didanai Uni Eropa (UE) pada Kamis (6/2).Suhu pada Januari mencapai 1,75 derajat Celsius di atas level praindustri, sementara rata-rata suhu di daratan Eropa meningkat 2,51 derajat di atas rata-rata Januari 1991-2000."Di luar Eropa, suhu paling tinggi di atas rata-rata tercatat di Kanada timur laut dan barat laut, Alaska, dan Siberia. Suhu juga tercatat di atas rata-rata di Amerika Selatan bagian selatan, Afrika, dan sebagian besar Australia dan Antarktika," menurut C3S dalam sebuah laporan.Rata-rata suhu permukaan laut antara 60 derajat lintang utara dan 60 derajat lintang selatan mencapai 20,78 derajat Celsius, tingkat tertinggi kedua pada Januari sepanjang catatan, setelah Januari 2024."Januari 2025 adalah bulan mengejutkan lainnya, melanjutkan rekor suhu yang diamati selama dua tahun terakhir, meski terdapat efek pendinginan sementara dari kondisi La Nina di Pasifik tropis," kata Wakil Direktur C3S Samantha Burgess.Menurut laporan itu, es laut Arktika mencapai tingkat terendah untuk Januari, yaitu 6 persen di bawah rata-rata.Bulan lalu, C3S mengonfirmasi bahwa 2024 merupakan tahun kalender pertama di mana rata-rata suhu global melampaui 1,5 derajat Celsius di atas level praindustri, ambang batas kritis yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.Perjanjian Paris menargetkan untuk membatasi pemanasan global hingga jauh di bawah 2 derajat Celsius di atas level praindustri, dengan aspirasi untuk membatasinya pada 1,5 derajat Celsius pada akhir abad ini.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China rancang robot inspeksi kecil yang mampu menggeliat
Indonesia
•
27 May 2022

Studi kaitkan paparan asap karhutla saat kehamilan di Southern California dengan peningkatan risiko autisme
Indonesia
•
22 Jan 2026

Wahana penjelajah China ungkap subpermukaan Mars yang kering dan berlapis-lapis
Indonesia
•
28 Sep 2022

Arab Saudi luncurkan fasilitas manufaktur komposit
Indonesia
•
12 Nov 2021
Berita Terbaru

Xiaomi luncurkan ‘smartphone’ hingga tablet baru di pasar Indonesia
Indonesia
•
05 Mar 2026

Feature – Di ujung harapan, teknologi AI China berikan harapan bagi pasien pankreas Indonesia
Indonesia
•
05 Mar 2026

Peneliti ciptakan jaringan saraf untuk simulasikan pembentukan konsep pada manusia
Indonesia
•
03 Mar 2026

Mamuju di Sulawesi Barat terpapar radiasi alam 9 kali lebih tinggi dari rata-rata dunia, masuk sorotan PBB
Indonesia
•
01 Mar 2026
