
The Fed pertahankan suku bunga di angka 5,25-5,5 persen, beri sinyal pemangkasan pada September 2024

Gubernur Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS) Jerome Powell menghadiri konferensi pers di Washington DC, AS, pada 12 Juni 2024. (Xinhua/Federal Reserve AS)
Indeks harga personal consumption expenditures naik 2,9 persen pada kuartal kedua, dibandingkan dengan kenaikan 3,7 persen pada kuartal sebelumnya.
Washington, AS (Xinhua/Indonesia Window) – Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS) pada Rabu (31/7) mempertahankan suku bunga pada level tertinggi dalam 22 tahun, yaitu 5,25 persen hingga 5,5 persen, seiring inflasi semakin mereda, menunjukkan bahwa penurunan suku bunga kemungkinan akan terjadi paling cepat pada September."Inflasi telah mereda selama setahun terakhir tetapi masih terbilang tinggi. Dalam beberapa bulan terakhir, ada beberapa kemajuan lanjutan menuju target inflasi 2 persen yang dicanangkan Komite," sebut Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC), badan pembuat kebijakan The Fed, dalam pernyataannya setelah pertemuan kebijakan yang berlangsung selama dua hari.Terkait pernyataan The Fed, diksi yang digunakan mencerminkan peningkatan dibandingkan dengan pertemuan pada Juni lalu. Sebelumnya, pernyataan kebijakan hanya menyebutkan "sedikit kemajuan lanjutan" dalam mengurangi tekanan harga.Komite tersebut menegaskan pihaknya tidak memperkirakan bahwa situasi akan kondusif untuk menurunkan kisaran target sampai mereka merasakan keyakinan yang lebih besar bahwa inflasi bergerak secara berkelanjutan ke angka 2 persen.Selain itu, FOMC akan terus mengurangi kepemilikannya atas obligasi pemerintah serta obligasi badan usaha milik negara (BUMN) dan sekuritas beragun hipotek dari BUMN, urai pernyataan itu.Ketika ditanya apakah penurunan suku bunga pada September merupakan ekspektasi yang masuk akal, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan kepada wartawan dalam konferensi pers pada Rabu sore waktu setempat bahwa "kami belum membuat keputusan tentang pertemuan di masa mendatang. Dan itu termasuk pertemuan September."Kendati demikian, Powell mengatakan bahwa "pemahaman luas dari komite ini adalah bahwa ekonomi bergerak lebih dekat ke titik di mana menurunkan suku bunga kebijakan kami adalah langkah yang tepat."Seraya menyebut bahwa beberapa data inflasi terakhir telah "menambah keyakinan," Powell mengatakan "kami telah melihat kemajuan di ketiga kategori inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE) inti, barang, jasa nonrumah, dan jasa perumahan."Pada kuartal kedua, indeks harga PCE di AS naik 2,6 persen, dibandingkan dengan kenaikan 3,4 persen pada kuartal pertama, menurut Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan. Tanpa menyertakan harga pangan dan energi, indeks harga PCE naik 2,9 persen pada kuartal kedua, dibandingkan dengan kenaikan 3,7 persen pada kuartal sebelumnya."Kami pikir waktunya (untuk penurunan suku bunga) semakin dekat. Jika kami mendapatkan data yang kami harapkan, penurunan atau kebijakan suku bunga kemungkinan akan dibahas pada pertemuan September," tutur Powell.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Minyak menguat di sesi Asia, dekati tertinggi sejak akhir November
Indonesia
•
29 Dec 2021

Robot humanoid akan berpartisipasi dalam ajang ‘half marathon’ di Beijing
Indonesia
•
06 Mar 2025

Perusahaan migas global prioritaskan Indonesia untuk investasi eksplorasi
Indonesia
•
20 May 2025

Wawancara – Ekonom Mesir sebut krisis plafon utang AS ancam stabilitas dunia
Indonesia
•
14 Jun 2023


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
